Quator Venti Corona selalu memiliki pemenang, juara, the champion. Mereka adalah penyihir-penyihir yang tumbuh menjadi legenda, bahkan mitos. Namun dalam seabad, pemenang mahkota belum tentu bisa menjadi pemegang mahkota. Dalam seratus tahun terakhir hanya ada tiga, mereka yang mampu mengenakan Mahkota Empat Angin di kepala mereka. Reginis et Regibus, para raja dan ratu dunia sihir. … Lanjutkan membaca Ema 11 – Perjamuan
Beberapa lapis mandala sihir terbentuk dengan cepat di sekitar Pema yang direbahkan di kaki sebuah pohon pinus. Gadis kecil tersebut masih tertidur dengan pulas ketika Nandha meletakkannya dan memberikan sihir perlindungan. Sementara itu, di langit yang tak jauh dari tempat Nandha dan Pema berada, enam belas bayangan tampak melayang meloloskan diri dari tiga bola api … Lanjutkan membaca Ema 10 – Rex
Tiga bulan yang lalu, Nandha kembali dengan terburu dari perjalanan antar dimensi. Dia menerima pemberitahuan darurat dari Lex, sistem kecerdasan buatannya, memberitahukan bahwa ada serangan mendadak pada lembah desa Ullr. Asap hitam dan putih membumbung tinggi di lembah ketika Nandha tiba di sana. Sebuah perang tampaknya baru saja menjadi badai yang menyapu seluruh lembah. Nandha … Lanjutkan membaca Ema 9 – Hati yang Membara
Nandha bisa merasakan jelas, sejumlah aura maha-insan mendekat dengan cepat dari arah Utara. Dan mereka bukan berita baik bagi Nandha, tapi di sisi lain, mereka tidak akan menjadi kabar yang buruk. “Lex, siapa yang datang dari Utara?” “Citra satelit menunjukkan tiga pesawat pengangkut militer, lambang pada ekor pesawat menandakan Kastel Es Utara.” “Uh, mereka sepertinya … Lanjutkan membaca Ema 8 – Kenangan
Jauh di Utara, sebuah kastel es berdiri menjulang di antara pegunungan dengan salju abadinya. Sebagian besar bagian kastel runtuh dan ratusan ahli sedang berduyun-duyun membenahinya. Sosok paruh baya berpakaian resmi tergopoh-gopoh berlari menuju area paling tengah dan paling dijaga di dalam kastel. “Nona..., Nona....!” Teriak pria itu. “Diamlah! Aku sudah tahu.” Jawab suara belia dari … Lanjutkan membaca Ema 7 – Penyelamatan (III)
Kejadian serupa terjadi di dua lokasi lainnya. Pihak-pihak yang tiba-tiba kehilangan satelit yang mereka gunakan untuk mengawasi sebuah area. “Apakah kerajaan yang menyerang satelit kita?” Tanya seorang perwira perempuan senior dengan wajah yang dingin. “Kita belum bisa memastikan itu. Selain Apsat milik kita, Micoalt milik Persemakmuran Selatan dan Badhra milik Asosiasi Sihir Dunia Tengah juga … Lanjutkan membaca Ema 6 – Penyelamatan (II)
Rambut putih dengan tubuh yang sudah bungkuk dan renta. Salah satu dari tahanan tersebut berjalan terseok menuju si bocah. Matanya tampak sudah tidak bisa melihat cahaya, namun mungkin tidak demikian dengan nalurinya. Seorang pemuda dan sebuah tongkat membantunya berjalan perlahan. “Tuan,” katanya sambil semakin membungkuk. “Kami mohon bantu kami sekali lagi. Tolong selamatkan Viola.” Si … Lanjutkan membaca Ema 5 – Penyelamatan (I)
Bocah itu dengan tenang melihat ke sekitar ruangan, tak mengacuhkan ketiga orang tersebut. Lalu dia tampak memikirkan sesuatu, dan kembali menatap ke arah tiga orang tersebut. “Di mana pimpinan kalian?” Tanyanya dengan suara dingin. “Ha ha ha....,” Mereka bertiga tertawa. “Apa yang membuatmu berpikir, bahwa salah satu dari kami bukan pimpinan kami?” Salah satu yang … Lanjutkan membaca Ema 4 – Pembantaian
Hujan salju bertambah lebat, dan langit sangat gelap. Si bocah berjalan perlahan menuju ke pusat kamp. Dia seorang diri, tak tampak ketiga orang lainnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah busur perang dengan rileks. Langkahnya tidak lagi mengambang, namun terbenam dangkal ke dalam salju. Ia bisa melihat bangunan-bangunan dalam kamp mulai tampak lebih jelas. Ia mengangkat busurnya, … Lanjutkan membaca Ema 3 – Penyergapan
Meninggalkan reruntuhan kota tak berpenghuni, sebuah bayangan segera masuk ke dalam hutan yang terbenam di balik selimut salju. Bocah itu tampak tak mengacuhkan rintangan yang ditemukannya. Dengan mudah ia meliuk laksana angin di antara belukar dan pepohonan, seolah-olah hutan asing ini merupakan kebun belakang rumahnya. Debu salju tak menyentuhnya, dan hewan liar yang masih terlelap … Lanjutkan membaca Ema 2 – Yang Berjuang
