BAB 8 – El Rumor que Nadie Pidió

Ada hukum alam semesta yang berlaku di setiap sekolah di setiap dimensi, terlepas dari apakah sekolah itu mengajarkan sihir, matematika, atau cara menjinakkan naga: sebuah lelucon yang diucapkan oleh orang tua, dalam privasi sebuah toko, pada jam tujuh malam, akan tiba di telinga seluruh siswa kelas dua sebelum jam pelajaran pertama keesokan harinya—dan dalam proses perjalanannya, lelucon itu akan kehilangan seluruh tanda kutip yang seharusnya menandainya sebagai lelucon.

Penyebabnya, dalam kasus ini, adalah Mateo “Teo” Gutiérrez, yang kebetulan sedang mengantar pesanan komponen rune ke Emporio Álvarez tepat pada saat Carlos, masih bersemangat dengan teori detektifnya, menggumamkan kalimat yang seharusnya hanya untuk dirinya sendiri: “Bukan pacar… tapi sesuatu yang berat.”

Teo, yang otaknya bekerja dengan kecepatan tinggi tapi sering melompati langkah-langkah logis yang penting, hanya menangkap separuh kalimat itu—bagian “pacar”-nya, lengkap dengan nada penuh keyakinan Carlos sebelumnya saat ia masih membangun teorinya. Bagian “bukan”-nya entah bagaimana hilang dalam perjalanan dari telinga ke otak Teo, mungkin tersangkut di antara perhitungan probabilitas lain yang sedang berjalan di kepalanya.

Maka, pukul tujuh lima belas pagi, di gerbang IESM Bécquer, Teo menyambut Val dengan berita yang ia yakini sepenuhnya benar.

“Álex punya pacar rahasia,” katanya, dengan nada seorang ilmuwan yang baru mengonfirmasi hipotesis.

“Apa?” Val berhenti, satu kaki masih di atas alfombra municipal yang baru ia turuni. “Dari mana kamu tahu?”

“Bapaknya sendiri yang bilang. Aku dengar langsung kemarin sore.”

Dan begitulah, tanpa niat jahat dari siapa pun, tanpa malice sedikit pun, kebenaran setengah—atau lebih tepatnya, kebenaran nol koma lima yang sudah dipotong jadi nol—mulai menjalar ke seluruh sekolah dengan kecepatan yang biasanya hanya dimiliki oleh sihir elemental Carmela saat ia marah.


Pada jam istirahat pertama, versi cerita yang beredar sudah berkembang jadi: Álex punya pacar rahasia, dan itu menjelaskan kenapa dia sering menghilang.

Pada jam istirahat kedua, versinya sudah jadi: Álex punya pacar rahasia dari realm lain, mungkin elf, dan keluarganya merestui.

Pada jam makan siang, seseorang—tidak ada yang tahu pasti siapa, meski semua orang mencurigai seseorang dari kelas Rama Arcana yang terlalu suka bergosip—menambahkan detail yang sama sekali tidak ada dasarnya: Álex sering terlihat mengobrol dengan Valeria, teman sekelasnya. Mungkin dia.

Dan dengan itu, nama yang sebelumnya hanya disebut “pacar misterius” mendapatkan wajah, identitas, dan—lebih parah lagi—seorang rival yang siap meledak.


“Álex,” kata Carmela, menghampirinya di kantin dengan ekspresi yang campuran antara terlalu bersemangat dan terlalu khianat untuk dipercaya sepenuhnya. “Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

“Cerita apa?”

“Soal Valeria!”

Álex menatapnya dengan ekspresi seseorang yang baru diberitahu bahwa ia telah memenangkan lotere yang tidak pernah ia ikuti. “Valeria siapa?”

“Valeria! Teman sekelasmu! Dari klan Dwarf penting itu!” Carmela mengangkat kedua tangannya seperti seorang aktris yang sedang menunggu tepuk tangan. “Seluruh sekolah tahu, Álex. Kau pacar rahasianya!”

“AKU NGGAK PUNYA—” Álex berhenti, mengingat kembali setiap kalimat yang pernah ia ucapkan ke Valeria selama tiga bulan terakhir, yang sejauh ini hanya mencakup topik seperti tugas Tecnomancia, perdebatan ringan soal mana yang lebih enak antara susu Vaca Feliz atau susu Dwarf, dan satu kali ia meminjamkan pensil. “Aku bahkan jarang ngobrol sama dia. Kalian gila.”

“Kau pasti diam-diam,” kata Teo, yang entah bagaimana sudah ikut bergabung di meja, “karena kalau nggak diam-diam, statistiknya nggak masuk akal. Kau punya 0,7 interaksi tercatat dengan Valeria per minggu, dan biasanya itu bukan dasar untuk hubungan romantis. Kecuali—” matanya berbinar dengan kegembiraan ilmiah yang sama sekali tidak membantu situasi, “—pertemuan rahasia yang tidak tercatat!”

“Teo, demi semua dewa di setiap realm, hentikan.”

Val, yang sejak tadi duduk dengan ekspresi paling skeptis di antara mereka, akhirnya bicara. “Aku percaya Álex. Dia bohong soal banyak hal, tapi dia nggak pernah pintar bohong soal hal yang sepele kayak ini. Wajahnya bingung beneran.” Ia berhenti, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan, “Masalahnya bukan apakah ini benar. Masalahnya, seluruh sekolah udah percaya, dan Gonzalo—”

“Gonzalo apa?” Álex merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuknya.

Rabit, yang sejak tadi duduk paling tenang sambil mengamati situasi dengan telinga yang bergerak-gerak gelisah, akhirnya menjawab. “Gonzalo udah dengar. Dan dia… agak marah. Lebih marah dari biasanya.”


Konfrontasi itu terjadi tepat di tengah halaman, di dekat air mancur moura yang biasanya jadi tempat gosip paling damai di sekolah—kini berubah menjadi arena yang, untuk kedua kalinya dalam beberapa minggu, mengumpulkan kerumunan penonton tanpa diundang.

“Álvarez,” Gonzalo berkata, suaranya tenang tapi dengan ketegangan yang jelas tersembunyi di baliknya, “aku dengar rumor menarik.”

“Aku juga dengarnya, dan aku sama bingungnya denganmu.”

“Aku tidak bingung,” kata Gonzalo, tajam. “Aku hanya ingin tahu, sejak kapan kau dan Valeria—”

“Tidak pernah,” potong Álex, dengan kejujuran paling murni yang pernah ia keluarkan dalam beberapa bab terakhir. “Demi semua yang aku sayangi, Gonzalo, aku bersumpah, aku bahkan tidak pernah memikirkan konsep ‘pacar’ dalam hidupku. Aku terlalu sibuk dengan—” ia berhenti tepat sebelum kata “multiverse” keluar, lalu menggantinya dengan cepat, “—toko ayahku. Stok. Inventaris. Hal-hal sangat tidak romantis.”

Tepat pada momen paling tegang dari konfrontasi ini, suara tawa terdengar dari arah pintu masuk halaman.

Valeria Ferrer—bukan guru, melainkan teman sekelas yang menjadi subjek seluruh kekacauan ini, gadis Dwarf dengan rambut cokelat dikepang rapi dan sikap tenang yang sangat berbeda dari Val si sahabat Álex—berjalan masuk dengan ekspresi seseorang yang baru menemukan hiburan terbaik dalam sebulan terakhir.

“Oh, ini bagus sekali,” katanya, menatap kerumunan dengan senyum yang sama sekali tidak membantu situasi. “Aku dengar aku punya pacar rahasia. Dua, sebenarnya, kalau dihitung dari betapa seriusnya Gonzalo membahas ini.”

“Valeria, ini bukan lelucon,” kata Gonzalo, wajahnya sedikit merah—entah karena marah atau malu, sulit dibedakan.

“Tentu saja ini lelucon,” kata Valeria, menyeberangi halaman dengan langkah yang terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya jadi pusat skandal sekolah. “Aku dan Álex pernah bicara, total, mungkin sepuluh kali. Tiga di antaranya soal tugas. Lima soal cuaca. Dua soal apakah aku boleh meminjam pensilnya, yang—” ia menoleh ke Álex, “—kau belum pernah aku kembalikan, ya?”

“Aku… tidak tahu harus jawab apa untuk itu.”

“Jadi,” Valeria melanjutkan, menatap Gonzalo dengan ekspresi yang lebih lembut, “kalau kau memang ingin tahu sesuatu tentang aku, Gonzalo, kau bisa tanya langsung. Tidak perlu lewat rumor sekolah yang lahir dari—” ia melihat ke arah Teo, yang tiba-tiba terlihat sangat tertarik pada sepatunya sendiri, “—siapa pun yang menyebarkannya.”

Gonzalo membuka mulut, menutupnya lagi, lalu—untuk pertama kalinya yang pernah disaksikan siapa pun di sekolah ini—terlihat benar-benar kehilangan kata-kata.

“Aku… baik,” katanya akhirnya, dengan nada yang jauh lebih pelan dari biasanya, sebelum berbalik dan pergi dengan langkah yang berusaha terlihat tegas tapi gagal menyembunyikan telinganya yang memerah.

Kerumunan, yang sejak awal berharap drama lebih besar, mulai bubar dengan kekecewaan kolektif seorang penonton yang baru menyaksikan klimaks yang ternyata anti-klimaks.


Valeria menatap Álex sejenak sebelum pergi, dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya. “Maaf soal itu. Aku tahu seharusnya aku langsung meluruskannya dari awal.”

“Kenapa nggak?”

“Karena,” kata Valeria, dengan nada jujur yang sangat tidak menyesal, “melihat Gonzalo panik soal sesuatu yang dia bahkan tidak berani akui, adalah hiburan terbaik yang aku dapat sejak datang ke sekolah ini. Maaf kau jadi korban tidak sengaja.”

“Aku terbiasa,” kata Álex, lebih jujur daripada yang ia maksudkan.

Valeria mengangguk, lalu berjalan pergi, meninggalkan Álex sendirian di dekat air mancur moura yang—seperti biasa—sudah mendengar seluruh percakapan dan kini bergumam pelan satu sama lain dalam bahasa kuno yang hanya bisa diterjemahkan sebagai sesuatu seperti, “Manusia muda ini benar-benar tidak pernah belajar.”


Sore itu, di geng yang berkumpul seperti biasa setelah sekolah, Carmela masih tidak bisa berhenti membicarakan ekspresi Gonzalo, Teo masih mencoba memperbaiki teorinya soal statistik interaksi sosial, dan Val hanya menggelengkan kepala sambil makan churro-nya.

“Jadi,” kata Val akhirnya, “untuk merekap. Kamu nggak punya pacar. Gonzalo diam-diam suka Valeria. Dan kamu—” ia menatap Álex dengan ekspresi setengah geli, setengah kasihan, “—nggak pernah sekali pun, dalam hidupmu, kepikiran soal konsep punya pacar?”

“Nggak pernah,” kata Álex, jujur. “Aku terlalu sibuk dengan… hal lain.”

“Hal lain macam apa sampai kau nggak pernah kepikiran soal itu di usia tujuh belas tahun?” tanya Carmela, dengan nada yang—untuk sesaat—terdengar lebih ingin tahu daripada bergurau.

Álex membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi, menyadari bahwa jawaban paling jujur untuk pertanyaan itu adalah sesuatu seperti karena aku menghabiskan separuh waktu luangku memimpin pasukan abadi melawan entitas yang ingin menghapus seluruh eksistensi, dan itu, bahkan untuk standar geng yang sudah lama belajar tidak terlalu memaksa, terlalu jauh untuk diucapkan.

“Toko,” katanya akhirnya, dengan senyum tipis khasnya. “Toko menyita banyak waktu.”

Geng itu tertawa, percaya atau tidak percaya tidak lagi penting, karena tawa itu sendiri sudah cukup untuk menutup hari yang dimulai dengan rumor paling absurd yang pernah melanda IESM Bécquer—setidaknya untuk minggu ini.


Di sudut lain sekolah, Lucía, yang sejak pagi mendengar seluruh drama itu dari berbagai sumber yang tidak sengaja, menulis satu baris singkat di jurnalnya, dengan ekspresi yang—untuk sekali ini—lebih mirip tawa tertahan daripada kecurigaan ilmiah.

Catatan tidak relevan untuk penyelidikan utama, tapi penting untuk arsip pribadi: hari ini aku menyaksikan kakakku, pemimpin entah-apa-itu-yang-tidak-bisa-dia-ceritakan, benar-benar dikalahkan total oleh konsep punya pacar. Kalau dia bisa menghadapi apa pun yang sebenarnya dia hadapi di luar sana, tapi tidak bisa menghadapi gosip sekolah dengan tenang, mungkin—mungkin saja—dia masih lebih manusia daripada yang aku kira.

Ia menutup jurnalnya, dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikannya dimulai, tersenyum kecil tanpa beban.


Tinggalkan komentar