BAB 7
Carlos lo Sabe (¿O No?)
Ada satu keterampilan yang dimiliki Carlos Álvarez Ortega yang tidak pernah ia banggakan secara terbuka, kalah pamor dibandingkan dengan kemampuannya membuat jingle iklan paling menyebalkan di seluruh Sevilla, tapi sebenarnya jauh lebih mengesankan: setelah dua puluh tahun berdagang di pasar yang sama, dengan pelanggan yang sama, di kota yang sama, Carlos telah mengembangkan insting membaca pola perilaku manusia yang—tanpa ia sadari sendiri—jauh lebih akurat daripada detektor Éter rakitan Lucía.
Ia tidak pernah menyebutnya “insting”. Ia menyebutnya “perasaan pedagang”, semacam intuisi yang biasanya hanya ia gunakan untuk hal-hal seperti menebak kapan Señor Paco akan datang lagi mengeluh soal ramuan, atau kapan stok susu Vaca Feliz akan habis lebih cepat karena ada festival mendadak.
Yang tidak pernah ia sadari adalah bahwa insting yang sama, diam-diam, sudah selama berbulan-bulan mengumpulkan data tentang anaknya sendiri.
“Álex,” kata Carlos, sore itu, sambil menghitung stok ramuan di lantai tiga dengan papan klip di tangan—sebuah benda yang selalu ia bawa meski sebenarnya ia jarang benar-benar mencatat apa pun di sana, lebih sering hanya menggambar doodle iklan baru. “Bisa bantu aku susun ulang ramuan-ramuan ini? Aku mau pisahin yang kadaluwarsa minggu depan.”
“Tentu, Papá.”
Mereka bekerja dalam diam selama beberapa menit, jenis diam yang nyaman antara ayah dan anak yang sudah terbiasa bekerja berdampingan tanpa harus mengisi setiap detik dengan obrolan. Carlos menggumamkan potongan jingle baru yang sedang ia kembangkan—sesuatu tentang minyak zaitun yang berima dengan kata “alegría”[^1] meski secara teknis tidak benar-benar berima—sementara Álex menyusun botol demi botol dengan presisi yang sudah jadi kebiasaan.
Lalu, tanpa peringatan, tanpa nada curiga sedikit pun, Carlos berkata: “Kamu tahu, kamu udah mulai kayak ibumu.”
Álex menghentikan tangannya sejenak. “Maksudnya?”
“Cara kamu pulang akhir-akhir ini.” Carlos terus menyusun botol, matanya tidak menatap Álex sama sekali, seolah-olah ia sedang mengatakan sesuatu yang sangat biasa, sesuatu seperti komentar tentang cuaca. “Ibumu, kalau pulang dari kasus berat, ada cara jalannya yang berubah. Bukan lambat. Bukan pincang. Cuma… lebih hati-hati. Seperti orang yang baru bawa beban yang nggak kelihatan, tapi badannya masih nyesuain berat itu meski bebannya udah nggak ada lagi. Kamu mulai jalan seperti itu juga. Sejak beberapa bulan lalu.”
Jantung Álex berdetak sedikit lebih cepat, tapi tangannya tetap stabil, menaruh botol berikutnya di rak dengan gerakan yang sama persis seperti sebelumnya. “Mungkin aku cuma capek bantu di toko, Papá.”
“Mungkin,” kata Carlos, masih dengan nada ringan yang sama, “tapi aku udah lihat capek karena angkat-angkat kardus seumur hidupku. Itu beda dengan ini.”
Hening sejenak. Bukan hening yang menegangkan—setidaknya tidak untuk Carlos, yang sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat yang baru ia ucapkan adalah deskripsi paling akurat tentang kondisi anaknya yang pernah diucapkan siapa pun di rumah itu, lebih akurat daripada catatan jurnal Lucía manapun.
“Aku ada teori,” lanjut Carlos, dan di sinilah Álex menahan napas, bersiap untuk kebenaran yang entah bagaimana akan terungkap lewat insting seorang pedagang minyak zaitun yang lebih sering salah menghitung kembalian daripada benar.
“Teori apa?”
“Kamu punya pacar.”
Álex hampir menjatuhkan botol di tangannya.
“—APA?”
“Masuk akal, kan?” kata Carlos, akhirnya menoleh, wajahnya penuh keyakinan seorang ayah yang baru menyelesaikan kasus detektif paling brilian dalam karirnya. “Kamu sering ‘menghilang’. Kamu pulang capek tapi nggak mau cerita kenapa. Kamu jadi lebih pendiam soal urusan pribadi. Itu semua ciri-ciri klasik orang yang sedang—” ia mengangkat alis dengan ekspresi bangga, “—jatuh cinta secara rahasia.”
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Álex merasakan kelegaan yang sangat aneh: bersyukur karena ayahnya salah total, tapi juga sedikit panik karena tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar betapa jauh dan betapa dekat tebakan itu sekaligus.
“Papá, aku nggak punya pacar rahasia.”
“Nggak usah malu! Aku dulu juga begitu sama ibumu. Diam-diam ketemu dia di belakang toko kakekmu, pura-pura beli zaitun tiap hari padahal di rumah udah ada satu toples penuh.” Carlos tersenyum, kenangan jelas membuatnya lupa sejenak pada teorinya sendiri yang sedang ia bangun. “Siapa dia? Dari sekolah? Atau—” matanya melebar dengan kecurigaan baru, “—jangan-jangan dari realm lain? Astaga, kalau dia elf, ibumu pasti senang sekali, tapi aku harus belajar etiket diplomasi dulu—”
“Papá, sungguh, nggak ada—”
“—atau Dwarf? Val punya saudara sepupu yang—”
“PAPÁ.”
Carlos akhirnya berhenti, menatap Álex dengan ekspresi seorang detektif yang baru disuruh menutup kasus tanpa bukti cukup. “Baiklah, baiklah. Tapi—” ia mengangkat jari, dengan nada yang tiba-tiba berubah, lebih tenang, lebih jujur daripada lelucon sebelumnya, “—kalau bukan itu, Álex, beneran ada apa? Aku nggak akan maksa cerita detailnya. Tapi sebagai ayahmu, aku cuma mau tahu kamu baik-baik aja.”
Dan di sinilah, untuk sesaat, topeng kelegaan Álex hampir runtuh—bukan karena Carlos menemukan kebenaran, tapi karena kalimat sederhana itu, diucapkan tanpa kecanggihan detektif Lucía atau insting magis Morgana, justru menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada semua penyelidikan canggih yang pernah mengejarnya.
“Aku baik-baik aja, Papá,” kata Álex, pelan, dan untuk sekali ini, ia berusaha membuat kalimat itu sejujur mungkin dalam batas yang ia bisa berikan. “Aku cuma… lagi belajar nanggung beberapa hal. Tapi aku nggak sendirian. Aku punya kalian. Itu cukup buat bikin semuanya lebih ringan.”
Carlos menatapnya lama, dengan ekspresi yang—untuk seorang pria yang biasanya lebih sibuk memikirkan jingle iklan daripada filosofi hidup—terlihat tidak biasa serius.
“Oke,” katanya akhirnya, mengangguk pelan, lalu kembali ke papan klipnya seolah-olah momen itu tidak pernah terjadi—caranya sendiri untuk menghormati batasan tanpa harus mengucapkannya secara langsung. “Tapi kalau ternyata kamu memang punya pacar rahasia dari realm lain, aku ingin tahu duluan sebelum ibumu. Aku butuh waktu buat siapin diskon keluarga di toko.”
Álex tertawa, lega yang nyata kali ini, bercampur dengan rasa hangat yang sulit ia jelaskan. “Aku janji, Papá.”
Malam itu, setelah toko tutup dan Álex sudah naik ke kamarnya, Carlos berdiri sendirian sebentar di lantai tiga, menatap rak-rak ramuan yang baru saja mereka susun ulang, sebelum bergumam pelan pada dirinya sendiri—kalimat yang tidak pernah didengar siapa pun, dan karena itu, tidak pernah benar-benar dianggap penting oleh siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
“Bukan pacar,” gumamnya, lebih kepada keheranan daripada kecurigaan, mengingat kembali cara berjalan anaknya yang ia bandingkan dengan istrinya sendiri. “Tapi sesuatu yang berat. Seberat apa, Helena yang biasa bawa pulang dari UID.”
Ia menggeleng, mengusir pikiran itu seperti mengusir lalat yang mengganggu, lalu mematikan lampu lantai tiga dan turun ke bawah, kembali ke dunianya yang lebih sederhana: jingle iklan, stok minyak zaitun, dan satu kardus turrón eksperimental yang masih menunggu untuk dicoba ulang dengan formula yang—ia yakin kali ini—pasti akan berhasil.
Ia tidak tahu seberapa dekat ia baru saja berdiri di tepi kebenaran. Dan mungkin, untuk sekarang, itu lebih baik begitu.
[^1]: Alegría — (Sp.) “kebahagiaan/sukacita”, kata yang dicoba Carlos sajak-kan dengan nama produk minyak zaitunnya, meski hasilnya secara teknis bukan rima yang benar.
