BAB 6 – Noche en la Azotea

BAB 6

Noche en la Azotea


Ada ritual yang tidak pernah ditulis di kalender mana pun, tidak diumumkan di grup chat, dan tidak pernah benar-benar “direncanakan”—tapi entah bagaimana, setiap Minggu malam, lima remaja dengan latar belakang yang seharusnya tidak mungkin bertemu di dunia mana pun selain dunia ini, selalu berakhir di tempat yang sama: azotea[^1] Emporio Álvarez, di antara tangki air tua dan jemuran yang lupa diturunkan, menatap langit Sevilla yang dipenuhi cahaya karpet-karpet terbang malam seperti kunang-kunang raksasa yang taat aturan lalu lintas.

Radio tua peninggalan kakek Carlos, yang entah bagaimana masih hidup meski sudah pernah jatuh dari tangga tiga kali, menyiarkan Radio Éter FM—campuran kopla lama, techno-rune, dan penyiar yang suaranya selalu terdengar seperti ia baru bangun tidur, bahkan saat siaran jam sembilan malam.

“Aku masih nggak percaya kau menang pakai ramuan mabuk,” kata Val, berbaring di lantai atap dengan tangan jadi bantal, kepang merahnya tergeletak seperti dua tali yang sengaja diatur rapi. “Itu paling tidak elegan dalam sejarah Club de Duelo.”

“Bukan ramuan mabuk. Ramuan anti-mabuk,” Álex membenarkan, duduk di tepi atap dengan kaki menggantung—posisi favoritnya, di mana ia bisa melihat seluruh distrik Triana tanpa harus benar-benar terlibat dengannya.

“Sama saja secara reputasi,” kata Carmela, sambil memutar abanico[^2]-nya dengan gerakan setengah hati, sisa-sisa adrenalin pirokinesisnya masih membara kecil di ujung kuku, sesuatu yang terjadi setiap kali ia terlalu bersemangat membicarakan sesuatu. “Bayangin, sudah jadi rival sekolah paling terkenal, terus kalimat sejarahnya jadi ‘química de bar’. Itu nama yang akan ditulis di nisanmu.”

“Lebih baik daripada ‘mati karena sok hebat,'” kata Álex. “Itu nama nisan Gonzalo kalau dia terus maksa duel ulang.”

Teo, yang sejak tadi sibuk dengan gafas inteligentes-nya yang baru selesai diperbaiki untuk kesekian kali, mendongak dengan ekspresi orang yang baru menyadari sesuatu. “Ngomong-ngomong soal itu, aku sudah hitung probabilitas reaksi kimiawi ramuan quitaresaca dengan elemen udara terkonsentrasi. Hasilnya cuma 0,3 persen kemungkinan terjadi secara alami seperti yang terjadi di duel kemarin.”

Ruangan—atau lebih tepatnya, atap—mendadak sunyi sejenak.

“Maksudnya?” tanya Carmela, alisnya naik.

“Maksudnya,” kata Teo, dengan nada yang sama sekali tidak menyadari ia baru saja menyalakan lampu sorot ke arah misteri yang paling ingin disembunyikan Álex, “kemenangan Álex itu secara statistik harusnya hampir mustahil. Tapi—” ia mengangkat bahu, kembali ke kacamatanya, “—statistik kadang salah. Aku pernah hitung probabilitas aku berhasil bikin smart rune tanpa meledak juga rendah, tapi tiga minggu lalu aku berhasil. Sekali. Lalu meledak lagi minggu setelahnya. Jadi, ya. Statistik bohong.”

Dan begitu saja, lampu sorot itu mati lagi—dipadamkan bukan oleh kesengajaan, tapi oleh ketidaksengajaan Teo sendiri yang lebih tertarik pada filosofi statistik daripada implikasinya.

Álex menghela napas pelan, lega, tapi juga—untuk alasan yang ia sendiri tidak sepenuhnya pahami—sedikit lelah. Bukan lelah fisik. Lelah karena terus-menerus berdiri di tepi jurang percakapan, menunggu siapa pun untuk melompat ke kesimpulan yang benar, dan terus-menerus harus menarik mereka kembali tanpa mereka sadari sedang ditarik.

Rabit, yang sejak tadi duduk paling tenang di antara mereka, telinganya bergerak pelan—bukan karena curiga pada Álex, tapi karena ia merasakan sesuatu yang lebih halus: perubahan kecil di bahasa tubuh sahabatnya, jenis kelelahan yang tidak biasa muncul setelah duel yang sebenarnya tidak terlalu berat secara fisik.

“Álex,” katanya, pelan, suara yang selalu terdengar seperti seseorang yang berhati-hati agar tidak membuat kaget kelinci lain. “Kau capek?”

“Cuma capek biasa,” kata Álex, terlalu cepat.

“Bukan capek fisik,” Rabit melanjutkan, tidak menuduh, hanya mengamati seperti yang biasa ia lakukan untuk siapa pun di geng mereka. “Capek yang lain.”

Val mengangkat kepalanya sedikit dari posisi berbaringnya, menatap Álex dengan mata yang—untuk seekor Dwarf yang biasanya lebih suka bicara soal rune daripada perasaan—terlihat tidak biasa lembut.

“Jefe,” katanya, “kami nggak tahu apa yang kamu sembunyiin. Dan—” ia melirik ke Teo, yang masih sibuk dengan kacamatanya, lalu ke Carmela yang sudah berhenti memutar abanico-nya, dan ke Rabit yang masih menatap Álex dengan sabar, “—kupikir kita semua sepakat, kita nggak akan maksa kamu cerita.”

“Aku setuju,” kata Carmela cepat, “meski sebagai orang dengan bakat dramatis tertinggi di geng ini, aku sangat ingin tahu.”

“Aku juga setuju,” kata Teo, akhirnya mendongak lagi, “meski sebagai orang dengan kebutuhan ilmiah tertinggi di geng ini, aku akan terus diam-diam mencatat anomali.”

“Teo.”

“Diam-diam, kataku.”

Rabit hanya mengangguk pelan, tanpa menambahkan apa-apa—caranya menunjukkan dukungan selalu lebih sedikit kata, lebih banyak kehadiran.

Álex menatap mereka satu per satu—Val yang jujur sampai ke titik kasar, Teo yang terlalu polos untuk berbohong bahkan saat mencoba, Carmela yang dramatis tapi setia sampai ke tulang, Rabit yang diam tapi selalu yang pertama merasakan saat sesuatu salah. Empat orang yang, jika ia jujur pada dirinya sendiri, jauh lebih berani daripada banyak prajurit yang pernah ia pimpin di Frontera—karena mereka memilih untuk tidak tahu, demi melindunginya dari beban harus menjelaskan, padahal rasa ingin tahu mereka jelas membara di balik mata masing-masing.

“Terima kasih,” kata Álex, akhirnya, suara yang lebih lembut daripada biasanya, lebih jujur daripada yang pernah ia berikan dalam waktu yang lama. “Aku nggak tahu kapan aku bisa cerita semuanya. Mungkin nggak pernah. Tapi—” ia berhenti, mencari kata yang tidak akan membocorkan apa pun, tapi tetap nyata, “—kalian adalah satu-satunya alasan kenapa hal-hal yang aku lawan di luar sana terasa layak dilawan.”

Hening sejenak, jenis hening yang bukan kosong, melainkan penuh—seperti udara sebelum hujan yang dibutuhkan, bukan hujan yang ditakuti.

Lalu, seperti biasa, Val yang memecahkannya, karena seorang Dwarf tidak pernah betah terlalu lama dalam keheningan emosional. “Oke, cukup drama. Aku bawa rebujito[^3] curian dari pesta tetangga. Siapa mau?”

“ITU MENCURI,” kata Carmela, sambil mengambil gelasnya.

“ITU ‘meminjam tanpa dikembalikan’,” Val membenarkan, sambil menuangkan dengan bangga.

Teo mengangkat tangan untuk versi non-alkoholnya, dan Rabit mengangguk pelan, lebih tertarik pada wortel kering yang selalu ia bawa di kantong daripada minuman apa pun.

Radio tua itu, seolah ikut merasakan momen yang berubah, berganti lagu—dari techno-rune yang berdentum ke sebuah kopla lama yang lambat, yang biasanya hanya diputar penyiar saat ia merasa sentimental. Lirik tentang seseorang yang pulang ke rumah setelah perjalanan panjang, meski rumah itu sudah berubah selama ia pergi.

Álex menatap ke langit Sevilla, ke arah cahaya-cahaya karpet yang melintas tenang, dan untuk sesaat—hanya sesaat, sebelum ia harus kembali memikirkan Kursi Ketujuh, sebelum ia harus kembali memikirkan Lucía yang masih mencurigainya, sebelum ia harus kembali memikirkan Vacío yang menunggu di ujung realitas mana pun—ia membiarkan dirinya hanya menjadi seorang remaja tujuh belas tahun di atap toko ayahnya, dikelilingi orang-orang yang menyayanginya cukup untuk tidak memaksa tahu segalanya.

Itu, ia pikir, mungkin definisi paling sederhana dari kebahagiaan yang pernah ia temukan—lebih sederhana daripada kemenangan apa pun yang pernah ia raih sebagai El Tejedor.


Jauh di bawah mereka, di kamar yang lampunya selalu menyala lebih lama dari yang seharusnya, Lucía membuka jurnalnya sekali lagi sebelum tidur, menatap satu catatan terakhir yang ia tulis malam itu, sebelum akhirnya menutupnya dan mematikan lampu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari memilih untuk tidak melanjutkan penyelidikannya malam ini.

Mungkin, tulisnya, sebelum menutup buku itu, aku perlu cara lain untuk mencari tahu. Bukan dengan menjebaknya. Tapi dengan benar-benar bertanya.

Ia belum tahu bagaimana caranya. Tapi untuk malam ini, biarlah pertanyaan itu menunggu sampai esok.


[^1]: Azotea — (Sp.) atap datar bangunan, umum di rumah-rumah Spanyol, sering dijadikan tempat berkumpul santai di malam hari. [^2]: Abanico — kipas tangan tradisional Spanyol, di sini milik Carmela yang mengandung rune petir tersembunyi. [^3]: Rebujito — koktail khas Andalusia berbahan dasar sherry dan minuman bersoda, populer terutama saat Feria de Abril.

Tinggalkan komentar