I. Cerah Sepanjang Hari, Kata Mereka

Ramalan cuaca pagi itu, yang dibacakan oleh suara perempuan robotik dari cermin dapur sambil Doña Consuelo mengomentari setiap kata dengan nada sumbang, sangat spesifik: cerah sepanjang hari, suhu puncak tiga puluh empat derajat, kelembapan enam puluh persen, angin tenang dari barat daya. Tidak ada yang menyebut badai. Tidak ada simbol awan di mana pun pada peta animasi yang melayang di atas meja.

Álex mengingat ini secara spesifik, kemudian, karena ada sesuatu yang menggelitik di belakang lehernya sepanjang sarapan—bukan firasat, sebab firasat adalah barang mewah yang tidak ia miliki lagi sejak ia berusia lima belas tahun. Yang ia miliki adalah benang. Dan pagi itu, salah satu benang yang biasanya tertidur di pinggir kesadarannya bergetar sekali, seperti senar gitar yang disentuh secara tidak sengaja oleh orang yang lewat di ruangan sebelah.

Ia mengabaikannya. Itu kesalahan pertamanya hari itu, meski bukan kesalahan terakhir.

Pukul sebelas, di kelas Geografía de los Reinos, semuanya normal sampai tingkat yang hampir menyakitkan: Profesor Don Esteban menjelaskan rute migrasi cuélebre² musim panas sambil menyindir muridnya yang mengantuk—”kalian pikir ular bersayap itu malas, coba lihat diri kalian sendiri jam segini”—dan Teo, dua bangku di belakang Álex, mencoba memperbaiki gafas inteligentes³-nya yang masih berdenyit pelan sejak insiden kulkas, menggunakan tusuk gigi dan harapan.

Pukul dua belas, kantin. Carmela bercerita panjang tentang bagaimana ia berhasil tidak membakar apa pun selama tiga hari berturut-turut, sebuah rekor pribadi yang ia rayakan dengan memesan dua porsi tortilla⁴ ekstra. Val membahas spesifikasi teknis sebuah perangkap duende⁴ yang ia rancang ulang. Rabit, seperti biasa, makan dengan kewaspadaan seekor hewan yang tahu bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar aman, bahkan di kantin sekolah dengan aroma churros mengambang di udara.

Lalu, pukul dua siang—tepat dua—benang yang sama yang bergetar saat sarapan, berteriak.

Bukan suara. Álex tidak mendengarnya dengan telinga. Tapi sesuatu di bagian dirinya yang melihat hilos causales⁵ tersentak begitu keras hingga ia merasakannya di tulang rusuk, seperti seseorang menjentikkan benang gitar tepat di dadanya.

Ia berdiri. Cepat. Terlalu cepat.

“Álex?” Carmela berhenti mengunyah, sendok masih di udara. “Kau kenapa? Mukamu—”

Ia tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela kantin, ke arah langit di atas Triana, yang—dalam rentang waktu yang seharusnya tidak cukup untuk mengubah apa pun, apalagi langit—telah berganti warna.

Abu-abu kehijauan.

Hanya satu orang di kantin itu yang tahu warna apa itu sebenarnya, dan ia berdiri sendirian di tengah lima ratus siswa yang masih mengira hari ini akan biasa-biasa saja.

Itu warna langit Frontera⁶.


II. Lluvia Negra

Hujan turun pukul 14:03, dan dalam tujuh detik pertama, separuh sekolah masih mengira itu hujan biasa—sebuah keajaiban langka di musim kemarau Andalusia, layak untuk ditertawakan dan difoto. Lalu seseorang di lapangan menjerit, dan Álex, yang sudah berlari ke arah jendela koridor sebelum jeritan itu selesai, melihat alasannya.

Hujan itu hitam. Bukan hitam seperti air kotor. Hitam seperti ketiadaan—seperti seseorang mengambil sepotong langit dan menghapusnya, lalu menjatuhkan kepingannya ke bumi dalam bentuk debu basah.

Di mana pun ia menyentuh, sesuatu mati. Bukan tumbuhan, bukan manusia—Éter. Lampu rune di koridor berkedip dan padam satu per satu, mengikuti jalur tetesan yang merembes lewat ventilasi. Cuadro mágico⁷ sekolah, yang seharusnya menyalakan perisai darurat, mengeluarkan suara berdenging menyedihkan lalu diam selamanya.

Lluvia de Vacío⁸, bisik sesuatu yang dingin di kepala Álex, dengan suara yang setengah miliknya dan setengah sesuatu yang ia pelajari dari Kael’thas tujuh bulan lalu, di sebuah dimensi yang namanya tidak pernah ia ucapkan di Bumi. Bukan serangan. Pengintaian. Seseorang—sesuatu—sedang menguji berapa banyak Éter yang bisa dihapus sebelum ada yang melihat.

Sirene sekolah menyalak. Lalu suara Don Esteban, lewat pengeras suara yang masih bekerja karena entah kenapa dipasang dengan kabel kuno, bukan rune.

“SEMUA SISWA. KE AULA BAWAH TANAH. SEKARANG. BUKAN BERJALAN. BERLARI.”

Ada keuntungan, ternyata, memiliki wali kelas yang dulunya seorang rupturista sungguhan, yang pernah melihat lebih banyak hal mengerikan daripada yang pantas dilihat satu orang dalam satu masa hidup. Don Esteban tidak panik. Ia bergerak seperti seorang yang sudah pernah mengevakuasi orang dari tempat yang lebih buruk dari ini, dengan kardigan usangnya yang entah kenapa membuatnya terlihat lebih, bukan kurang, dapat dipercaya.

“Aula bawah tanah dilapisi timah, bukan rune,” teriaknya pada sekelompok siswa kelas satu yang membeku di tengah koridor. “Sains kuno tidak peduli kalian punya bakat sihir atau tidak. BERGERAK.”

Álex menemukan dirinya, dalam tiga puluh detik berikutnya, melakukan sesuatu yang tidak butuh Sinfonía Causal sama sekali—hanya butuh mata yang terlatih membaca kepanikan dan kaki yang tahu jalan pintas dari tiga tahun menjelajahi setiap sudut sekolah ini. Ia menangkap seorang anak kelas satu yang berlari ke arah yang salah—menuju halaman terbuka, bukan menuju aula—dan membalikkan badannya dengan satu tangan di bahu.

“Lewat sini. Bukan situ.”

“T-tapi tangga itu—”

“Tangga itu menuju atap. Ikut aku.”

Ia tidak menggunakan benang untuk ini. Ia hanya tahu sekolahnya seperti ia tahu garis tangannya sendiri.

Carmela menemukannya di tengah lorong, matanya lebar, percikan kecil api meletup tanpa sadar dari ujung jarinya—pirokinesis emosionalnya bereaksi pada ketakutan dengan cara yang sama seperti ia bereaksi pada patah hati, hanya lebih berbahaya kali ini. “Álex, debu itu—kalau kena aku—”

“Jangan biarkan kena,” kata Álex, menariknya menjauh dari tetesan yang merembes lewat jendela retak, “kalau sihirmu netral sementara, kau jadi gadis biasa yang sangat tinggi dengan rambut bagus. Itu bukan akhir dunia.”

“ITU SANGAT MENAKUTKAN UNTUKKU.”

“Aku tahu. Lari.”

Di aula bawah tanah, dengan dinding timah yang—Don Esteban menjelaskan sambil mengatur napas, seakan sedang mengajar pelajaran reguler—dipasang setelah Perang Dingin lama sebelum Kebangkitan, sebagai bunker anti-radiasi yang ternyata, secara kebetulan paling beruntung dalam sejarah arsitektur Spanyol, juga kebal terhadap Lluvia de Vacío, lima ratus siswa berdesakan dalam diam yang jarang terjadi di sekolah mana pun.

Álex menghitung kepala. Refleks lama, dari kebiasaan yang ia pelajari di tempat yang jauh lebih buruk dari ini: selalu tahu siapa yang belum aman.

Teo. Val. Rabit. Carmela, di sampingnya, masih bergetar.

Lucía tidak ada di sekolah ini—ia di ESO, gedung berbeda, dua blok dari sini. Jantung Álex melompat sekali, keras, sebelum benang di kepalanya, yang setengah sadar, setengah refleks bertahun-tahun, membawa kabar: gedung ESO juga sudah lockdown, juga punya aula timah, juga aman. Untuk sekarang.

Untuk sekarang bukan kata yang menenangkan.

“Gonzalo?” Don Esteban menghitung di pintu, suaranya sudah kembali profesional, tenang seperti seorang yang dulu menghitung korban di Therion. “Siapa yang melihat Gonzalo de la Vega?”

Keheningan.

Álex merasakan benangnya sendiri, yang tidak bisa melihat masa depannya sendiri, tapi bisa membaca pola di sekitarnya, bergerak ke satu arah yang tidak ia suka.

Gonzalo masih di luar.


III. Apa yang Tidak Bisa Ditolak Seorang Tejedor

Inilah masalahnya dengan menjadi orang yang melihat benang: kau tahu, dengan kepastian yang tidak bisa kau bantah pada dirimu sendiri, kapan dirimu satu-satunya yang bisa melakukan sesuatu. Dan kau tahu bahwa mengabaikannya bukan pilihan yang ada di dalam dirimu, meski kau ingin sekali itu menjadi pilihan, meski tubuhmu masih nyeri dari pertempuran tiga minggu yang lalu—empat jam yang lalu, tergantung siapa yang bertanya.

Álex menyelinap ke pintu samping aula sambil berkata pada Carmela, “Toilet. Sebentar,” sebuah alasan yang sudah ia gunakan ratusan kali, yang selalu bekerja karena tidak ada yang curiga pada hal membosankan.

Carmela, yang sedang gemetar dan tidak punya kapasitas mental untuk curiga pada apa pun selain debu hitam, hanya mengangguk.

Koridor di atas kosong, basah dengan hujan yang tidak seharusnya ada, hitam yang menetes dari plafon seperti darah dari luka yang tidak mau menutup. Álex bisa merasakannya sekarang, lebih jelas dari di kantin—jejak energi yang sama dengan yang ia rasakan di Sungai Guadalquivir saat bersama Gonzalo, gema yang menyerupai Vacío tapi bukan Vacío sendiri.

Cazador⁹, pikirnya, mengingat istilah yang pernah Kael’thas gunakan untuk entitas perintis yang dikirim mendahului invasi yang lebih besar—pemandu jalan, bukan pasukan. Ini bukan invasi. Ini pengukuran.

Ia menemukan Gonzalo di halaman tengah—patio yang biasanya jadi tempat duel resmi—berdiri membeku, satu tangan terangkat dalam posisi mantra elemen angin yang setengah jadi, mata terbuka lebar menatap langit yang menjatuhkan ketiadaan ke atas kota.

“Gonzalo!”

“Álvarez?” Gonzalo berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak Álex mengenalnya, wajah aristokratnya yang selalu tertata sempurna terlihat benar-benar takut. “Mantraku—aku coba membuat perisai angin, tapi setiap kali aku merapal, rasanya seperti—seperti merapal ke dalam lubang. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang merespons.”

“Karena debu itu menetralkan Éter di sekitarnya. Mantramu tidak gagal. Tidak ada lagi yang bisa dirapal.”

“Bagaimana kau—” Gonzalo berhenti. Tidak ada waktu untuk pertanyaan itu, dan keduanya tahu itu. “Apa yang harus kita lakukan?”

Pertanyaan itu, dari Gonzalo de la Vega, terdengar seperti benda asing di mulutnya. Selama dua tahun, Gonzalo tidak pernah bertanya pada Álex tentang apa pun selain berapa skor duel atau seberapa “biasa” hidup Álex. Sekarang, di tengah hujan yang menghapus keajaiban dari udara, ia bertanya dengan suara seorang anak yang baru menyadari bahwa keturunan bangsawan tuanya tidak berarti apa-apa di hadapan sesuatu yang lebih tua dari semua garis darah di Bumi.

Álex membaca benang di sekelilingnya cepat—tidak Sinfonía penuh, tidak berisiko meninggalkan jejak besar yang bisa terdeteksi entitas di balik debu ini, hanya cukup untuk melihat pola lokal. Atap aula, tiga puluh meter. Jendela pecah di sayap timur, sumber kebocoran terbesar. Arah angin, barat daya, membawa sebagian besar debu langsung ke jantung distrik Triana, ke arah pasar dan rumah-rumah tua tempat ratusan warga sipil sedang berlindung tanpa dinding timah, tanpa Don Esteban yang tahu apa yang harus dilakukan.

“Bantu aku tutup jendela di sayap timur,” kata Álex, sudah berlari. “Dan jangan tanya kenapa aku tahu di mana letaknya.”

“Aku tidak akan—” Gonzalo mengejarnya, kehabisan napas dalam tiga langkah karena syok masih bekerja di tubuhnya, “—aku tidak akan tanya. Tapi Álvarez. Aku ingin tahu satu hal.”

“Sekarang? Serius?”

“Kau tidak takut.”

Itu bukan pertanyaan.

“Aku takut,” kata Álex, sambil menendang pintu sayap timur terbuka, menemukan jendela besar yang pecah, debu hitam mengalir masuk seperti air bah dalam gerak lambat. “Aku hanya sudah lama berhenti membiarkan itu menghentikanku.”

Mereka berdua mendorong rak buku tua—berat, kayu, sains kuno paling sederhana yang ada—ke depan jendela, menahan aliran debu cukup untuk memperlambatnya, tidak menghentikannya. Gonzalo, dengan kekuatan yang ia tidak tahu ia punya tanpa sihirnya, mendorong sisi lain dengan rahang terkunci.

“Ini tidak akan cukup,” kata Gonzalo, suaranya tegang.

“Aku tahu,” kata Álex. “Ini hanya untuk membeli waktu. Tinggal di sini. Tahan ini.”

“Kau mau ke mana?”

Álex sudah berlari ke arah halaman terbuka.

“Memperbaiki cuaca.”


IV. Sinfonía yang Tidak Boleh Dimainkan Penuh

Halaman tengah IESM Bécquer¹⁰, dalam kondisi normal, adalah tempat mouras taman bergosip dengan siswa di antara tiga air mancur. Sekarang, kosong sepenuhnya kecuali satu remaja tujuh belas tahun yang berdiri di tengahnya, membiarkan hujan hitam menetes di lengan bajunya, merasakan setiap tetes seperti seseorang menggosok amplas pada bagian dirinya yang berbicara dalam bahasa benang.

Ini bukan La Frontera. Di sini, ia tidak boleh memainkan Sinfonía Causal penuh—merajut ribuan benang sekaligus seperti yang ia lakukan untuk armada Orion Pax. Bumi tidak siap untuk getaran sebesar itu, dan yang lebih penting, sesuatu yang mengirim Cazador ini mungkin sedang mengukur, mendengarkan, menunggu tanda tangan energi yang cukup besar untuk dikenali sebagai ancaman yang layak diperhatikan.

Álex tidak akan memberikannya itu.

Ia hanya butuh satu benang.

Ia menutup mata—tidak perlu secara teknis, tapi sebuah kebiasaan, sebuah ritual kecil yang membantunya fokus, seperti seorang pemain biola menutup mata sebelum nada pertama—dan mencari. Bukan benang takdir besar, bukan benang nasib seorang prajurit di pertempuran galaksi. Hanya benang kecil yang menghubungkan satu hal yang sangat sederhana: arah angin barat daya yang membawa Lluvia de Vacío ke jantung Triana, dan satu kemungkinan tipis, hampir tidak terlihat, di mana angin itu berbelok seratus delapan puluh derajat menuju sungai.

Bukan menuju rumah. Bukan menuju pasar. Bukan menuju sekolah.

Menuju Guadalquivir, di mana—dan ini bagian yang membuat Álex hampir tersenyum di tengah ketegangan yang membuat dadanya sesak—UID sudah bersiap dengan unit penyedot Éter portabel sejak insiden conejo cornudo¹¹ yang dilaporkan ibunya semalam. Mereka tidak tahu untuk apa mereka bersiap. Mereka hanya tahu sesuatu aneh terjadi di sungai itu, dan UID, dengan kehati-hatian institusional yang membosankan tapi sangat berguna, selalu bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Álex hanya perlu memastikan kemungkinan terburuk itu mendarat tepat di tempat yang sudah menunggunya.

Ia mengangkat tangan kanan. Bukan untuk melepaskan kekuatan.

Untuk mendengar.

Satu benang. Tipis seperti rambut, panjang seperti seluruh distrik Triana, ia menariknya—bukan dengan kebrutalan seorang jenderal merajut empat juta kemungkinan di Frontera, tapi dengan kelembutan seorang anak yang belajar bahwa kadang-kadang, kekuatan terbesar adalah menyentuh sesuatu seringan mungkin.

Angin berbelok.

Tidak dramatis. Tidak ada efek visual, tidak ada cahaya, tidak ada suara guntur seperti yang orang kira terjadi saat seseorang memanipulasi cuaca dengan sihir. Hanya satu hembusan yang, jika kau berdiri di tempat yang tepat dan cukup memperhatikan, terasa seperti seseorang menghela napas panjang di belakang lehermu.

Debu hitam, yang tadinya mengalir lurus ke arah pasar Triana, berbelok perlahan, seperti sungai yang menemukan jalur baru, menuju Guadalquivir.

Di kejauhan, terlalu jauh untuk dilihat tapi cukup dekat untuk dirasakan oleh sesuatu di dalam Álex yang selalu tahu hal-hal seperti ini, sirene UID mulai menyalak, dan suara teriakan perwira yang bersiap-siap—siap untuk sesuatu yang tidak mereka duga datang secepat ini, tapi siap tetap saja, karena itulah pekerjaan mereka.

Álex menurunkan tangannya.

Tidak ada Seraphiel yang menangkapnya kali ini. Tidak ada kelelahan dua hari yang akan menghancurkannya. Ini bukan Sinfonía Causal. Ini hanya satu benang, seringan napas, dan harganya hanya sebuah pusing ringan di belakang matanya yang akan hilang sebelum makan malam.

Tapi ada satu hal yang ia tidak hitung: bahwa di sudut halaman, di balik pilar batu tua, seseorang sedang menonton.


V. Apa yang Gonzalo Tidak Bisa Ingat

Lockdown berakhir pukul empat sore, ketika tim sains UID—bukan UID sihir, tapi divisi konvensional yang menangani anomali non-magis, yang ternyata terlihat sangat mirip petugas hazmat biasa dengan sedikit lebih banyak rune di seragam mereka—menyatakan area sekolah bersih. Lluvia de Vacío sudah berhenti sepenuhnya, terkonsentrasi dan dinetralkan di sepanjang tepi Sungai Guadalquivir, di mana, menurut berita sore yang sudah beredar di setiap cermin panggil sebelum jam makan malam, “fenomena cuaca anomali langka” berhasil ditangani tanpa korban jiwa.

Tidak ada yang menyebut kata “Vacío”. Tidak ada yang akan pernah menyebutnya, karena hanya satu orang di seluruh Sevilla yang tahu kata itu, dan ia sedang berjalan pulang dengan rasa pusing ringan di belakang matanya dan rasa lega yang lebih besar dari yang ia mau akui.

Don Esteban memimpin siswa keluar dari aula bawah tanah dengan instruksi singkat tentang protokol pasca-insiden, sambil bergumam pada dirinya sendiri tentang bagaimana “anak-anak zaman sekarang bahkan tidak tahu cara bersembunyi dari bahaya dengan benar, di zamanku kami—” sebelum kalimat itu hilang ke dalam kerumunan.

Carmela menemukan Álex di koridor, masih sedikit gemetar, tapi sudah cukup tenang untuk mengomelinya. “Kau hilang HAMPIR DUA JAM, mi arma! Toilet macam apa yang butuh waktu segitu?!”

“Toilet yang sangat kotor,” kata Álex, dengan wajah yang sempurna datar. “Kau tidak ingin tahu detailnya.”

“MENJIJIKKAN. Tapi—” ia memeluknya, cepat, erat, lalu melepaskan sebelum siapa pun bisa berkomentar, “—aku senang kau aman. Aku takut sekali, Álex. Sungguh.”

“Aku tahu,” kata Álex, dan untuk sesaat, hanya sesaat, ia membiarkan dirinya merasakan beratnya kalimat itu di dadanya. Kau takut. Aku juga. Hanya kita berdua punya jenis takut yang sangat berbeda.

Lalu ia melihat Gonzalo, berdiri di ujung koridor, menatapnya.

Álex berhenti.

Gonzalo tidak bergerak mendekat. Tidak juga menjauh. Ia hanya berdiri di sana, dengan seragamnya yang biasanya rapi sekarang kusut dan sedikit kotor dari mendorong rak buku, menatap Álex dengan ekspresi yang—untuk pertama kalinya dalam sejarah rivalitas mereka—tidak bisa dibaca oleh siapa pun, termasuk Álex sendiri, yang biasanya bisa membaca segalanya.

Itu bukan kebencian. Bukan kekaguman, meski ada sesuatu di sana yang dekat dengan itu. Itu adalah ekspresi seorang yang tahu bahwa ia melihat sesuatu, beberapa jam yang lalu, yang penting—sangat penting—dan sekarang, ketika ia mencoba meraihnya kembali dalam kepalanya, ia hanya menemukan kabut.

Sebab itu adalah tepat apa yang Álex inginkan. Benang yang ia gunakan untuk membelokkan angin juga membawa satu efek samping kecil, yang sudah ia pelajari mengelola sejak insiden duel beberapa minggu lalu: siapa pun yang menyaksikan tanpa sengaja, akan lupa apa yang sebenarnya mereka lihat, meski perasaan dari menyaksikannya akan tetap tinggal, seperti mimpi yang tidak bisa diingat detailnya tapi meninggalkan rasa di dada saat bangun.

Gonzalo membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Aku…” ia mencoba lagi. “Tadi di halaman. Aku pikir aku melihat—”

Ia berhenti. Keningnya berkerut, seperti seseorang yang mencoba mengingat nama yang ia tahu, tapi yang menghilang setiap kali ia mendekat.

“Kau melihat apa?” tanya Álex, suaranya seringan mungkin, sesantai mungkin, dengan senyum tipis Andalusia yang sama yang ia gunakan untuk menenangkan Carmela, untuk meledek Teo.

“Aku…” Gonzalo menggeleng pelan, frustrasi yang aneh terlihat di matanya—seperti seseorang yang yakin ia kehilangan sesuatu yang berharga tapi tidak bisa mengingat bentuknya. “Tidak ada. Lupakan.”

Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti sekali lagi, tanpa menengok.

“Álvarez.”

“Ya?”

“Terima kasih. Untuk jendela.” Sebuah jeda, lebih lama dari yang seharusnya dibutuhkan untuk kalimat sederhana. “Kau tetap tenang. Saat semuanya—” ia mencari kata, tidak menemukannya, menyerah, “—saat semuanya kacau. Aku tidak akan melupakan itu.”

Kau akan melupakannya, pikir Álex, dengan rasa pahit yang ia sudah terlalu kenal untuk disebut mengejutkan. Sebagian darimu sudah melupakannya sekarang. Tapi sebagian lain tidak akan. Itu selalu caranya bekerja.

“Sama-sama,” kata Álex saja, karena itu satu-satunya hal jujur yang bisa ia katakan tanpa mengatakan terlalu banyak.

Gonzalo mengangguk sekali, lalu berjalan menyusuri koridor, langkahnya tidak secepat biasanya, kepalanya sedikit menunduk seperti seseorang yang membawa pertanyaan yang tidak punya rumah untuk disimpan.

Carmela menyenggol lengan Álex. “Kalian baikan?”

“Kami selalu baik-baik,” kata Álex. “Hanya dengan cara yang sangat menjengkelkan.”

Di luar, langit Sevilla sudah kembali biru, polos, seakan tidak pernah ada apa pun selain cuaca cerah sepanjang hari seperti yang dijanjikan ramalan pagi itu. Di Guadalquivir, tim UID masih bekerja membersihkan sisa debu yang terjebak di tepi sungai, dan di antara mereka, meski Álex tidak bisa melihatnya dari sini, ibunya sedang berdiri dengan jubah penyembuh yang sudah ia kenakan sejak panggilan darurat tiba, memeriksa apakah ada warga sipil yang terkena residu Éter mati.

Álex tidak tahu, saat itu, bahwa malam itu Helena akan pulang dengan satu informasi yang akan mengubah segalanya: bahwa sampel debu yang dikumpulkan UID dari tepi sungai mengandung jejak tanda tangan energi yang, menurut catatan resmi mereka, “tidak terdaftar di basis data internasional manapun.”

Persis seperti yang dikatakan Lucía tentang noda di kerahnya, berhari-hari yang lalu.

Untuk sekarang, ia hanya berjalan pulang bersama Carmela yang sudah kembali membahas Diego si rupturista pengkhianat dengan semangat yang mengejutkan untuk seseorang yang dua jam lalu hampir menangis karena hujan menghapus keajaiban, melewati Triana yang perlahan kembali normal—pedagang membuka kembali kios mereka, alfombra municipal¹² mulai melintas lagi di atas Guadalquivir, aroma churros yang entah bagaimana selalu kembali tercium tidak peduli apa yang baru terjadi di kota ini.

Dunia, seperti biasa, tidak tahu betapa dekat ia dengan sesuatu yang lebih buruk dari hujan hitam.

Álex membiarkannya tidak tahu. Itu, ia pikir, mungkin satu-satunya hadiah yang ia masih bisa berikan pada kota yang ia cintai ini.

Bersambung ke Bab 12.


Catatan Kaki — Istilah & Glosarium

  1. La Tormenta que No Estaba en el Pronóstico(Spanyol) “Badai yang Tidak Ada di Ramalan Cuaca”, judul bab ini.
  2. Cuélebre — Naga/ular bersayap dari mitologi Asturias (Spanyol Utara), penjaga mata air ajaib; di semesta cerita ini, makhluk nyata hasil Kebangkitan.
  3. Gafas inteligentes(Spanyol) “Kacamata pintar”, kacamata ber-rune yang berfungsi seperti perangkat AR (Augmented Reality) di dunia cerita ini.
  4. Tortilla / DuendeTortilla adalah hidangan telur dadar kentang khas Spanyol (tortilla de patatas); duende adalah kurcaci/peri kecil dari folklor Spanyol, di cerita ini sering jadi “hama” jinak perkotaan.
  5. Hilos causales(Spanyol) “Benang-benang kausal/sebab-akibat”, kekuatan unik Álex untuk melihat dan merajut hubungan sebab-akibat di realitas.
  6. Frontera (La Frontera Invisible) — Medan perang rahasia antar-dimensi tempat Álex memimpin pasukan El Velo Silencioso melawan El Vacío Primordial.
  7. Cuadro mágico(Spanyol) “Kotak sekering ajaib”, semacam sekering listrik rumah tangga versi magis di dunia cerita ini.
  8. Lluvia de Vacío(Spanyol) “Hujan Kekosongan”, istilah ciptaan dunia cerita untuk fenomena debu hitam yang menghapus/menetralkan Éter (energi sihir) di area yang terkena.
  9. Cazador(Spanyol) “Pemburu/pemandu”, dalam konteks ini merujuk pada entitas perintis yang dikirim mendahului kekuatan Vacío yang lebih besar, untuk “mengukur” pertahanan suatu wilayah sebelum invasi sesungguhnya.
  10. IESM Bécquer — Singkatan dari Instituto de Educación Secundaria y Mística “Gustavo Adolfo Bécquer”, nama sekolah tempat Álex menimba ilmu.
  11. Conejo cornudo(Spanyol) “Kelinci bertanduk”, makhluk kecil khas dunia cerita ini yang sering muncul dari gerbang dimensi liar (Brecha) berskala kecil.
  12. Alfombra municipal(Spanyol) “Karpet kota”, bus karpet terbang milik pemerintah yang menjadi salah satu moda transportasi umum di Sevilla pada cerita ini.

Tinggalkan komentar