Ema 13 – Pulang

“Hmm…, apa itu?” Sebuah suara datang tak jauh dari deretan pegunungan di arah Selatan.

“Aura ini…?” Retorika pendek terucap dari area di Tenggara jauh.

“Anak itu lagi. Mau apa lagi dia sekarang?” Kata-kata lembut di arah Barat jauh, dan dibalas oleh ucapan lainnya, “Biarkan saja, dia memilih jalannya sendiri.”

Ledakan mana yang dihasilkan oleh Nandha memengaruhi fluktuasi mana di seluruh belahan bumi. Bahkan aurora indah terbentuk di langit di atas mereka.

Mereka yang peka dapat merasakan fenomena ini di seluruh belahan bumi, namun ketika mereka mencoba mencari tahu dengan bantuan teknologi terbaik yang mereka miliki, hasilnya adalah nihil! Seluruh teknologi spionase dan pelacakan global lumpuh tanpa alasan yang jelas.

Itu hanya terjadi dalam hitungan detik, dan ketika sistem pulih, fenomena tersebut telah berakhir.

Namun apa yang menjadi fenomena beberapa detik bagi banyak orang di seluruh dunia, tampaknya terasa beberapa abad oleh para elite Kastel Es Utara.

‘Apakah ini tingkat dewata? Manusia biasa tak mungkin bisa mencapai keberadaan ini!’

‘Bocah ini pastilah iblis! Bagaimana mungkin anak manusia bisa semengerikan ini?’

Ada banyak hal yang terlintas dalam benak mereka dapat tempo yang sedemikian singkat. Namun apa pun yang melintas dalam sekejap tersebut tidak bermakna baik bagi Kastel Es Utara, mereka yakini itu.

Nandha mendengar suara yang memberitahukannya bahwa waktu privatnya telah berakhir ketika ia menarik seluruh mana kembali ke dalam tubuhnya. Dia tidak suka ini, namun melihat hasilnya, dia cukup puas. Jika tidak meremukkan raganya, maka binasakan jiwanya, dan perang dapat dimenangkan tanpa membuang waktu terlalu banyak.

Keputusasaan terpancar di wajah-wajah di hadapan Nandha, terwakili dalam kata-kata pendek Lelya, “Kami menyerah.”

Saat Lelya tertunduk lesu, Nandha menyimpan kembali kedua senjata yang tak jadi ia gunakan ke dalam kantong dimensi.

“Aku tak paham,” kata Lelya, yang tampaknya mengungkapkan perasaan yang putus asa dan tak tahu arah.

Nandha menarik napas panjang, ia melihat langit Selatan yang mulai terang, seakan mentari terbangun dengan terbungkuk oleh kelelahan yang menumpuk selama setahun. Ia memandang Lelya dengan pandangan yang lembut.

“Yang Mulia, jika Anda tidak paham. Mungkin karena di dalam sanubari Anda tidak berkehendak untuk memahaminya. Anda tidak berkehendak, mungkin karena ini bukan jalan yang Anda pilih atas kesukarelaan hati Anda, maka hati Anda menolak untuk paham, walau pikiran Anda memberikan alasan yang tak terhitung jumlahnya.”

“Apakah demikian…?”

Tapi Nandha tidak menjawab balik, dia justru berbalik dan melangkah menuju Pema yang terbaring nyenyak. Mengangkat Pema ke dalam gendongannya, dan melangkah pergi dengan meninggalkan jejak sepasang kaki di atas salju yang mulai menyambut pagi.

“Nona….” Panggil salah satu elite kepada Lelya, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Sama seperti dia.” Jawab Lelya sambil memandang ke arah di mana bayangan Nandha dan Pema menghilang di antara kerimbunan.

Para elite tampak bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh pimpinan mereka.

“Apa yang dia lakukan, Nona?” Tanya salah satu dari mereka.

“Pulang.” Sahut Lelya dengan tenang.

“Pulang?” Sejumlah suara terkejut terlontar dari beberapa orang.

“Mereka sudah pergi dan pulang, apakah kita akan tetap di sini?” Lelya balik bertanya pada orang-orang yang jauh lebih tua dibandingkan dirinya.

“Tapi, kita….”

“Apa menurutmu kita pulang atau tidak pulang akan mengubah situasi?”

Ada yang tertunduk, ada yang menggelengkan kepalanya.

“Antara pulang dan tidak pulang, mana yang kalian inginkan saat ini?” Kata Lelya dengan setengah memancing.

Mereka saling bertatapan, dan tertawa lepas.

Ya, mereka tahu. Ini seperti buah karma yang buruk, mereka yang menabur benihnya, mungkin suatu saat mereka juga yang akan memanen dan menikmatinya. Tapi tidak ada yang dapat mereka lakukan selain setidaknya mereka tidak ingin hidup dalam ketakutan yang sia-sia.

“Nona, mari kita pulang.”