Cerita itu muncul di meja makan, disisipkan di antara obrolan biasa seperti bumbu yang tidak sengaja jatuh ke panci—Helena menyebutnya sambil menyendok gazpacho-nya sendiri, nada yang sama yang biasa ia pakai untuk membahas harga sayur naik atau tetangga yang bertengkar soal parkir karpet.
“Ngomong-ngomong,” katanya, “ada laporan aneh dari patroli sungai semalam. Beberapa warga Triana bilang lihat sesuatu di air Guadalquivir, dekat jembatan lama. Bukan apa-apa yang serius—UID belum turun resmi, cuma catatan kecil di sistem. Tapi tadi pagi, salah satu petugas kebersihan sungai nemu bangkai conejo cornudo[^1] di tepi air. Matinya aneh. Bukan dimangsa, bukan kena mantra biasa.”
“Aneh gimana?” tanya Lucía, mendongak dari piringnya dengan minat ilmiah yang langsung menyala.
“Seperti energinya disedot,” kata Helena, mengangkat bahu. “Bukan dihabisi. Disedot. Itu istilah yang dipakai si petugas, bukan istilah teknis resmi. Mungkin cuma fenomena alam yang belum tercatat.” Ia menyeruput sup-nya lagi, sudah berpindah topik di kepalanya ke hal lain sebelum kalimat itu sempat mendarat penuh di benak siapa pun di meja.
Tapi di benak Álex, kalimat itu mendarat dengan berat yang tidak sebanding dengan nada ringan yang dipakai ibunya untuk mengucapkannya.
Disedot.
Ia pernah mendengar istilah itu sebelumnya—bukan di Bumi, bukan dari Helena, bukan dari siapa pun di keluarganya. Ia mendengarnya dari Kael’thas, di tengah taktik pertempuran melawan pasukan kecil Vacío yang menyusup lewat retakan realitas paling tipis. Mereka tidak membunuh, kata sang Raja Tanpa Mahkota itu suatu kali. Mereka menyedot. Energi, eksistensi, kemungkinan. Sampai tidak ada yang tersisa untuk dibunuh.
Álex meletakkan sendoknya pelan-pelan, mencoba terlihat biasa, sementara di kepalanya sesuatu yang dingin mulai merambat.
“Kak?” Lucía menyenggol lengannya. “Kau kayak ngeliat hantu.”
“Cuma kepikiran sesuatu,” kata Álex, memaksa senyum kecil. “Sungai Guadalquivir memang penuh misteri.”
Ia berniat menyelidikinya sendiri malam itu—diam-diam, dengan akal sehatnya yang biasa, sebelum melibatkan Seraphiel atau siapa pun dari El Velo jika memang perlu. Tapi rencananya harus tertunda lebih lama dari yang ia kira, karena sore itu, saat ia berjalan menyusuri tepi sungai dalam perjalanan pulang dari toko cabang kedua (mengantar pesanan minyak zaitun yang, untungnya, tidak meledak kali ini), sebuah suara memanggilnya dari arah yang sama sekali tidak terduga.
“Álvarez.”
Álex menoleh, dan menemukan Gonzalo berdiri di tepi jalan setapak sungai, masih dalam seragam sekolah meski jam pelajaran sudah selesai sejak dua jam lalu, dengan ekspresi seseorang yang sudah berdiri di tempat itu cukup lama mengumpulkan keberanian untuk sesuatu yang jelas-jelas tidak nyaman baginya.
“Gonzalo? Kau ngapain di sini?”
“Aku—” Gonzalo berhenti, rahangnya mengeras sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang dipaksakan terdengar santai, “—aku lewat saja. Kebetulan.”
“Rumahmu di Santa Cruz. Ini Triana. Itu bukan ‘lewat saja’, itu ‘sengaja jalan jauh.'”
Gonzalo menghela napas, menyerah pada kepura-puraannya sendiri lebih cepat dari yang biasanya ia lakukan. “Baik. Aku menunggumu.”
“Untuk apa?”
Dan di sinilah, untuk pertama kalinya sejak Álex mengenalnya, Gonzalo de la Vega y Montalbán—siswa teladan Rama Arcana, ketua Club de Duelo, pewaris nama Sangre Antigua yang selalu berjalan seolah dunia berutang rasa kagum padanya—terlihat benar-benar tidak nyaman, seperti seseorang yang dipaksa berdiri di luar arena tanpa senjata.
“Aku butuh saran,” katanya akhirnya, kata-kata itu keluar seperti sesuatu yang fisik, sesuatu yang berat untuk dilepaskan. “Dan aku benci mengatakan ini, tapi kau orang yang paling masuk akal untuk ditanya.”
Álex mengangkat alis. “Aku? Rival abadimu?”
“Justru karena itu,” kata Gonzalo, defensif. “Kau melihat apa yang terjadi di halaman sekolah waktu rumor itu. Aku—” ia berhenti lagi, mencari kata yang tidak terlalu memalukan, lalu menyerah dan langsung saja, “—aku tidak tahu bagaimana mengatakan ke Valeria bahwa aku menyukainya tanpa terdengar seperti orang bodoh yang baru sadar perasaannya sendiri lewat gosip sekolah.”
“Tapi itu memang yang terjadi.”
“Aku tahu itu yang terjadi, Álvarez, kau tidak perlu menegaskannya.”
Álex menahan senyum, lalu duduk di bangku batu tepi sungai, menepuk tempat di sebelahnya—gestur yang ia pelajari, entah dari pengalaman menengahi perkelahian di lorong sekolah, atau dari kebiasaannya mendengarkan keluhan Señor Paco di toko, bahwa orang yang sedang malu selalu lebih nyaman bicara sambil duduk daripada berdiri berhadapan.
Gonzalo, setelah ragu sejenak—mungkin mempertanyakan dignitasnya sendiri karena duduk di bangku biasa di Triana, jauh dari kemewahan Santa Cruz—akhirnya ikut duduk.
“Begini,” kata Álex, “aku bukan ahli soal perasaan. Aku bahkan baru tahu konsep ‘pacar’ itu hal yang harus dipikirkan, dua minggu lalu, lewat rumor paling absurd dalam sejarah sekolah kita.”
“Itu tidak membantu kepercayaanku padamu.”
“Tapi aku tahu satu hal,” lanjut Álex, mengabaikan sindiran itu, “dari mengelola toko ayahku. Orang-orang tidak butuh kata-kata sempurna. Mereka butuh kejujuran yang tidak dibungkus terlalu rapi. Señor Paco datang setiap minggu mengeluh soal ramuan, tapi yang sebenarnya dia butuhkan bukan ramuan yang lebih kuat. Dia cuma butuh seseorang mendengarkan kenapa dia minum terlalu banyak anggur Dwarf minggu itu.”
“Aku tidak paham analogimu.”
“Maksudku,” kata Álex, lebih langsung, “kalau kau bicara ke Valeria dengan kalimat yang sudah kau latih sepuluh kali biar terdengar elegan, dia akan tahu itu latihan, bukan kejujuran. Tapi kalau kau bicara dengan canggung, dengan rasa malu yang jelas, seperti yang kau tunjukkan ke aku sekarang—itu yang akan dia percaya.”
Gonzalo terdiam lama, menatap air sungai yang mengalir tenang di depan mereka, dengan cahaya sore yang memantul keemasan di permukaannya.
“Kenapa kau membantuku?” tanyanya akhirnya. “Aku tidak pernah baik padamu.”
“Karena,” kata Álex, dan untuk sesaat, ia mendengar kembali kalimat ibunya dari ceramah kemarin, dia satu-satunya orang yang bisa membuat semua orang tetap tenang saat semuanya berantakan, “ternyata itu yang aku bisa lakukan dengan baik. Membuat orang tenang. Bahkan kalau orangnya adalah rival yang biasa menyebutku medioker di depan seluruh kelas.”
Gonzalo, untuk pertama kalinya, tersenyum—bukan senyum sinis khasnya, tapi sesuatu yang lebih tulus, lebih kecil, dan karena itu lebih nyata. “Baiklah. Terima kasih, Álvarez. Aku tidak akan menyebutmu medioker untuk—” ia berpikir sejenak, “—setidaknya satu minggu.”
“Aku hargai batas waktu yang realistis.”
Mereka mungkin akan melanjutkan obrolan itu lebih lama, jika tidak ada suara kecipak air yang tidak wajar dari arah jembatan lama, cukup jauh untuk tidak langsung terlihat, tapi cukup jelas untuk membuat keduanya menoleh serempak.
“Itu apa?” tanya Gonzalo, berdiri, refleks magisnya langsung siaga.
Álex sudah berdiri lebih dulu, tubuhnya bergerak sebelum pikirannya benar-benar memutuskan untuk bergerak, insting yang sama yang membuatnya selalu jadi orang pertama yang menengahi kekacauan apa pun. Tapi di balik gerakan fisiknya yang biasa, sesuatu yang lain mulai bergetar—benang-benang tipis di tepi penglihatannya, samar, seperti radio yang menangkap sinyal dari frekuensi yang seharusnya tidak ada di Bumi.
Disedot, ia mengingat kembali kata Helena. Dan sekarang, berdiri di tepi sungai yang sama, ia bisa merasakannya sendiri—jejak energi yang familiar, dingin, kosong, seperti bayangan dari sesuatu yang lebih besar yang sedang mengintip lewat lubang kecil di kain realitas.
Bukan Saqueadores Abisales. Bukan FSP. Sesuatu yang lain.
Sesuatu yang terasa, samar-samar, seperti gema kecil dari Vacío itu sendiri.
“Álex?” Gonzalo menatapnya, bingung melihat ekspresi yang tiba-tiba berubah jauh lebih serius daripada situasi yang tampaknya hanya berupa suara air aneh di kejauhan. “Kau dengar sesuatu?”
Álex menelan ludah, memaksa wajahnya kembali tenang, mengubur kepanikan yang baru saja muncul jauh di bawah permukaan yang bisa dilihat siapa pun—keterampilan yang sudah ia kuasai bertahun-tahun, tapi yang baru kali ini benar-benar diuji di depan seseorang yang, meski bukan teman dekat, cukup tajam untuk memperhatikan perubahan sekecil apa pun.
“Mungkin cuma ikan besar,” katanya, terlalu cepat, terlalu ringan. “Atau angin di air. Ayo, sudah mau gelap, lebih baik kita pulang.”
Gonzalo menatapnya sejenak lebih lama dari yang nyaman, lalu mengangguk pelan, meski raut wajahnya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya jawaban itu.
Mereka berjalan pergi bersama, satu langkah demi satu langkah, jauh dari jembatan lama dan suara kecipak yang sudah berhenti—tapi Álex tahu, dengan kepastian yang hanya bisa dirasakan oleh seorang Tejedor yang melihat benang-benang takdir mulai menyimpul ke arah yang sama, bahwa apa pun yang baru saja menyentuh ujung penglihatannya, itu tidak akan berhenti di sana.
[^1]: Conejo cornudo — “kelinci bertanduk” (Sp.), makhluk kecil dari Therion Wilds yang kadang nyasar lewat gerbang liar minor; biasanya tidak berbahaya, sering jadi gangguan kecil di area urban.
