BAB 4 – Dos Detectives, Cero Coordinación

Lucía Álvarez Sánchez tidak pernah menyebut dirinya sedang “menyelidiki” sesuatu. Kata itu, menurutnya, terlalu dramatis untuk apa yang sebenarnya ia lakukan, yaitu: mengumpulkan data dengan metodologi yang sangat ketat dari sumber-sumber yang tidak menyadari mereka sedang menjadi sumber.

“Val,” katanya, suatu siang di kantin sekolah, dengan nada se-kasual mungkin yang bisa dicapai oleh seseorang yang sudah merancang kalimat ini selama dua puluh menit sebelumnya, “kalau misalnya ada makhluk yang bisa bikin mantra orang lain meleset tanpa kelihatan kasting apa pun—itu jenis sihir apa? Secara teori.”

Val, yang sedang menggigit bocadillo de tortilla[^1] dengan kekuatan seorang Dwarf yang menganggap roti sebagai musuh pribadi, mengangkat satu alis. “Kenapa tiba-tiba tanya itu?”

“Penelitian. Untuk laporan AEGD.” Lucía mengangkat bahu, terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkan.

“Hmm.” Val mengunyah pelan, berpikir—atau berpura-pura berpikir, karena seorang Dwarf yang dibesarkan di antara rune struktural tahu betul kapan sebuah pertanyaan punya fondasi yang lebih dalam daripada yang terlihat. “Setahuku, nggak ada sihir yang bisa bikin mantra meleset tanpa jejak. Semua sihir Éter punya residu, sekecil apa pun. Kecuali—” ia berhenti, lalu menggeleng, “—kecuali itu bukan sihir Éter sama sekali.”

“Maksudnya?”

“Maksudku, kalau itu beneran terjadi tanpa residu apa pun, itu bukan pertanyaan teori, jefa[^2]. Itu pertanyaan tentang sesuatu yang kita belum punya nama untuknya.” Val menatapnya lebih lama dari biasanya. “Ini soal kakakmu, ya?”

“Bukan,” kata Lucía, terlalu cepat, dengan nada seorang jenius yang baru menyadari bahwa kebohongannya sendiri terlalu transparan untuk dipakai di depan orang yang bekerja dengan presisi setiap hari.

Val tidak mendesak. Tapi senyumnya yang sedikit miring memberi tahu Lucía bahwa percakapan ini, meski tidak dilanjutkan, sudah tercatat di suatu tempat dalam kepala Val yang selalu menyimpan data lebih lama daripada yang ia tunjukkan.


Di meja lain, dalam waktu yang hampir bersamaan, Teo sedang berusaha memperbaiki gafas inteligentes-nya yang retak untuk ketiga kalinya minggu itu, ketika Lucía—dengan cara yang ia kira jauh lebih halus daripada yang sebenarnya—duduk di sebelahnya dan bertanya:

“Teo. Hipotetis. Kalau ada anomali energi yang nggak masuk kategori apa pun—bukan Éter, bukan Qi, bukan Àṣẹ, bukan apa pun di database AEGD—gimana cara mendeteksinya dengan benar?”

Teo, yang otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa di teori meski sering gagal total di praktik, langsung berbinar seperti seseorang yang baru diberi teka-teki paling indah dalam hidupnya.

“Anomali nondatabase? Itu HEBAT. Itu bisa jadi penemuan abad ini! Kamu nemu di mana?”

“Belum nemu. Cuma teori.”

“Kalau cuma teori, kenapa kamu bawa detektor portabelmu ke sekolah hari ini?” Teo menunjuk ke ransel Lucía, di mana ujung antena kecil detektor buatannya menyembul dengan tidak elegan dari resleting yang lupa ditutup rapat.

Lucía menutup resletingnya dengan cepat. “Itu… untuk kelas berikutnya.”

“Kelas apa? Kita nggak ada kelas yang—”

“Aku harus pergi,” kata Lucía, berdiri terlalu cepat, meninggalkan Teo dengan ekspresi seorang anak yang baru kehilangan mainan favoritnya sebelum sempat memainkannya.

Teo memandangi kepergiannya, lalu menggumam pada dirinya sendiri, “Anomali nondatabase. Aku harus bicara soal ini sama Señorita Valeria,” tanpa menyadari bahwa ia baru saja menjadi sumber data kedua dalam penyelidikan adik kandung dari subjek yang sebenarnya sedang diselidiki.


Sementara itu, jauh dari kantin yang dipenuhi rumor remaja dan bau churros, seekor burung gagak kecil mendarat di atas pagar besi patio sekolah, mengamati dengan mata yang terlalu cerdas untuk seekor unggas biasa.

Doña Morgana tidak pernah menjelaskan secara persis bagaimana mata gagaknya bekerja, dan tidak ada yang berani bertanya terlalu detail—termasuk Carlos, yang sekarang berbisnis “damai” dengannya tapi tetap menjaga jarak yang sehat dari segala hal berbau dupa dan ramalan. Yang jelas, gagak itu, seperti gagak-gagak lain milik Morgana, punya satu tugas sederhana: mengamati, lalu kembali membawa kesan—bukan gambar, bukan rekaman, tapi semacam intuisi yang dirasakan Morgana sendiri lewat ikatan magisnya.

Gagak itu mengikuti Álex dari jarak yang sopan, hinggap di sana-sini, mengamati saat Álex berjalan menuju kelas Humanidades Expandidas, lalu mengamati lagi saat ia berhenti sejenak di lorong untuk menengahi perdebatan kecil antara dua siswa elf dan dwarf soal siapa yang harus membersihkan tumpahan ramuan praktikum.

Yang tidak diperhitungkan gagak itu—atau Morgana, yang sedang duduk di tokonya sambil menyesap teh herba dan menerima kesan-kesan dari familiarnya dengan mata terpejam—adalah bahwa di waktu yang hampir bersamaan, Lucía sedang berjalan ke arah yang sama, mata terpaku ke layar detektornya yang baru saja menangkap getaran kecil tapi aneh di sekitar area lorong itu.

Lucía mendongak, dan untuk sepersekian detik, ia melihatnya: seekor gagak hitam, diam terlalu lama di pagar besi, mengamati ke arah yang sama dengan arah kakaknya berjalan.

Mata Lucía menyipit. Anomali nondatabase, bergerak mengikuti pola yang spesifik…

Ia mengangkat detektornya, mengarahkannya ke gagak itu—

—dan tepat saat itu, alat itu berbunyi nyaring, menangkap sinyal yang sama sekali tidak ia harapkan: bukan sinyal misterius milik Álex, melainkan residu sihir bruxa yang jelas dan terdokumentasi dengan baik di database AEGD sejak tahun lalu.

“Ah,” kata Lucía, kecewa setengah, lega setengah. “Cuma familiar Doña Morgana.”

Gagak itu, seolah merasakan dirinya sedang diamati balik, terbang pergi dengan suara kepak yang terdengar—setidaknya menurut Lucía, yang mungkin sudah terlalu lama tidak tidur cukup—agak tersinggung.

Lucía menulis catatan kecil di jurnalnya: Bukan anomali. False positive. Lanjutkan pencarian. Tanpa menyadari bahwa “false positive” itu sebenarnya adalah bukti nyata bahwa ada pihak lain—pihak yang sama sekali tidak ia ketahui—yang juga sedang mengawasi kakaknya, untuk alasan yang sama sekali berbeda dari alasannya sendiri.


Álex, yang sejak pagi sudah merasakan dua pasang mata yang tidak biasa mengikutinya—satu dari benang kausalitas adiknya yang mulai terlalu sering melintas dekat dengannya, satu dari sesuatu yang terasa seperti familiar magis—menghabiskan separuh harinya dalam kondisi yang, jika digambarkan dengan istilah militer La Frontera, bisa disebut “bertahan di dua front sekaligus tanpa boleh menembak.”

Ia tidak bisa menggunakan Sinfonía Causal secara penuh—terlalu mencolok, terlalu berisiko meninggalkan jejak yang justru akan mengonfirmasi kecurigaan Lucía. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan benang-benang ini terus merajut diri mereka sendiri ke arah kebenaran.

Maka ia melakukan apa yang selalu ia lakukan paling baik: sentuhan kecil. Tidak merubah nasib siapa pun, hanya merapikan sedikit kekacauan yang sudah ada.

Saat istirahat siang, ia “kebetulan” lewat tepat ketika Teo akan membawa topik “anomali nondatabase” ke Señorita Valeria—dan dengan satu pertanyaan ringan tentang proyek smart rune Teo yang sedang macet, perhatian Teo teralihkan sepenuhnya ke masalah teknisnya sendiri, yang jauh lebih mendesak baginya daripada misteri apa pun milik orang lain.

Saat pulang sekolah, ia “kebetulan” menemukan Val sedang memperbaiki engsel pintu gudang toko yang berderak, dan dengan obrolan ringan soal balapan Alfombra Nocturna minggu depan, ia memastikan topik soal “sihir tanpa residu” tidak pernah disebut lagi—bukan karena Val melupakannya, tapi karena Val, dengan kesetiaannya yang khas, memilih untuk tidak membawanya kembali ke permukaan.

Dan soal gagak Morgana—Álex sudah menyadarinya sejak jam pertama, jauh sebelum Lucía. Ia membiarkannya saja. Mengusirnya hanya akan mengonfirmasi bahwa ada sesuatu yang patut diusir. Lebih baik membiarkan burung itu pulang dengan kesan yang membosankan: seorang remaja biasa yang menengahi pertengkaran sepele dan menengahi kakaknya menunda waktu belajar.

Pada akhir hari, ketika ia berbaring di kamarnya, lebih lelah secara mental daripada setelah pertempuran sungguhan di Frontera, Álex menatap langit-langit dan menghitung kerusakan yang berhasil ia kendalikan hari itu.

Lucía: dialihkan, tapi tidak berhenti. Morgana: melihat sesuatu, tapi tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun. Val dan Teo: kembali ke dunia normal mereka, tanpa sadar mereka baru menjadi dua titik kecil dalam jaring kecurigaan yang lebih besar.

Rahasianya tetap aman.

Untuk malam ini.


Dan justru karena itulah, ketika Lucía menutup jurnalnya malam itu dengan satu baris terakhir—Hari ini nihil. Tapi instingku bilang aku semakin dekat—dan Morgana, di tokonya, membuka mata setelah menerima kesan terakhir dari gagaknya, lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri, “Anak itu terlalu pintar untuk umurnya. Atau terlalu berpengalaman untuk seseorang yang seharusnya baru tujuh belas tahun”—keduanya, tanpa saling tahu, baru saja menyimpulkan hal yang sama dari arah yang sama sekali berbeda:

Bahwa Alejandro Álvarez Sánchez bukan sekadar anak biasa yang beruntung.

Dan bahwa rahasia, betapapun rapi dijaga, selalu meninggalkan bayangan—bahkan jika bayangan itu sendiri belum tahu bentuknya.


[^1]: Bocadillo de tortilla — roti panjang berisi tortilla española (telur dadar kentang khas Spanyol), camilan/makan siang populer di kantin sekolah. [^2]: Jefa — bentuk feminin dari jefe (“bos”), di sini digunakan Val secara bercanda untuk Lucía, mencerminkan kebiasaan geng memberi panggilan akrab semacam ini.

Tinggalkan komentar