Senin dinihari, 3 November 2248 — kaki Pegunungan Palandöken[^1], Erzurum, Turki Timur


Angin di ketinggian tiga ribu meter itu tidak main-main. Ia menampar seperti tante yang baru tahu keponakannya belum menikah di usia dua puluh tujuh—tanpa ampun, dan disertai ceramah tak terucap yang entah bagaimana masih bisa dirasakan.

Álex duduk di antara dua batu granit yang menonjol dari padang rumput, jaketnya yang tadinya cukup hangat untuk Sevilla kini terasa seperti kertas tisu basah. Ia baru saja menempuh perjalanan yang—kalau ia jujur pada dirinya sendiri—seharusnya butuh waktu delapan jam penerbangan, tapi baru saja diselesaikannya dalam waktu kurang dari satu detik lewat sebuah lipatan yang tidak ingin ia jelaskan pada siapa pun, termasuk pada dirinya sendiri di masa depan.

Di depannya, seorang kakek tua berdiri bersandar pada tongkat kayu yang sudah dipoles licin oleh puluhan tahun genggaman, mengamati kawanan domba yang merumput dengan ketenangan orang yang sudah melihat dunia berakhir setidaknya tiga kali dan menganggapnya bukan urusannya.

Di sisi lain, membentuk simpul ketiga dari segitiga yang entah kenapa terasa seperti diatur oleh seseorang yang sangat suka simetri, seorang anak laki-laki—usianya mungkin sepuluh, mungkin sepuluh ribu, sulit dipastikan pada orang-orang macam ini—duduk bersila di atas batu datar, menyeruput teh dari cangkir kecil seolah-olah sedang menonton drama picisan sore hari.

“Kenapa,” kata Álex, akhirnya, setelah lima menit hening yang menurutnya sudah cukup dramatis untuk membuka pembicaraan, “kalian berdua tidak pernah—sekali pun—membantuku?”

Kakek gembala itu tidak menoleh. “Selama masalahmu belum menyentuh kawasan penyangga Kekosongan[^2],” katanya, suaranya seperti derap batu yang digeser pelan-pelan, “keluarga saya tidak akan ikut campur. Perang di sana,” ia mengangguk ke arah yang tidak jelas—mungkin ke langit, mungkin ke sesuatu yang jauh lebih dalam dari langit—”sudah cukup rumit tanpa harus menambah petualangan antarsemestamu, Tejedor.”

Álex membuka mulut untuk protes, tapi anak laki-laki itu sudah lebih dulu bicara, tanpa menoleh dari cangkir tehnya.

“Kuil Pedang Empat Musim[^3] tidak turun tangan untuk masalah kecil,” katanya, nada bicaranya seperti anak SD yang menjelaskan peraturan monopoli pada orang dewasa yang jelas-jelas curang. “Lagipula kami cuma tamu di planet biru ini. Kecuali para dewa dari era mitologi sendiri yang minta tolong—baru mungkin kami pertimbangkan.”

Masalah kecil,” ulang Álex, nadanya naik satu oktaf. “Aku baru saja kehilangan dua orang di Subbéticas[^4]. Aku memimpin tujuh jenderal abadi lintas dimensi melawan sesuatu yang bahkan tidak punya nama yang sopan. Dan kalian bilang itu—apa, receh?”

“Dibandingkan apa yang sedang terjadi di sana,” kata si kakek, menunjuk lagi ke arah yang sama, tempat yang sama yang tidak jelas itu, “ya. Receh.”

Álex menghela napas panjang, jenis napas yang biasa dikeluarkan remaja tujuh belas tahun yang menyadari bahwa sistem semesta ternyata punya birokrasi yang lebih menyebalkan daripada urusan perpanjangan KTP.

“Baik,” katanya, mencoba pendekatan lain. “Kalau begitu—tidak bisakah salah satu dari kalian meramalkan di mana aku bisa menemukan orang ketujuh? La Séptima[^5]. Aku sudah kehabisan cara.”

Si kakek akhirnya menoleh. Matanya, Álex baru sadar, berwarna abu-abu pucat seperti langit sebelum salju—warna yang tidak seharusnya dimiliki manusia biasa mana pun.

“Kalau sudah waktunya, ia akan tiba,” katanya. “Tidak perlu dicari. Musim tidak dipanggil, Álex. Ia datang.”

“Itu bukan jawaban. Itu kalender.”

“Itu jawaban yang lebih baik dari kalender,” sahut anak laki-laki itu, akhirnya menoleh, dan tersenyum dengan cara yang membuat Álex—yang sudah menghadapi malaikat jatuh, entitas bayangan, dan pedang yang bisa berjalan—merasa sedikit tidak nyaman. “Lagipula. Kau bisa membaca takdir, El Tejedor, dan kau saja kewalahan menemukannya. Kau pikir aku, yang cuma anak kecil menyeruput teh di padang rumput, bisa membacanya lebih jelas darimu?”

“Kau bukan anak kecil.”

“Secara teknis,” kata anak itu, mengangkat cangkirnya seperti bersulang, “aku sudah berumur cukup untuk dianggap kakek-kakeknya kakekmu. Tapi terima kasih sudah sopan.”

Álex menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sudah membayangkan perjalanan ke Erzurum ini akan memberinya jawaban. Sebaliknya, ia mendapat dua makhluk purba yang jelas-jelas menikmati hidup mereka yang santai sambil menonton dia menggali lubang sendiri.

“Kuil kami tidak akan ikut campur urusan semesta bawah,” lanjut anak itu, kali ini nadanya melunak sedikit—cukup untuk terasa seperti belas kasihan, bukan ejekan. “Tapi.” Ia berdiri, meletakkan cangkir tehnya di atas batu dengan bunyi keramik yang terlalu berat untuk ukurannya. “Kelemahanmu sudah jelas sejak kau duduk di sana tadi, menggigil seperti anak kucing kehujanan. Kekuatanmu ada di sana”—ia menunjuk ke arah dada Álex, ke tempat yang tidak seorang pun bisa menunjuk kecuali makhluk semacam ini—”bukan di sini.” Jarinya berpindah, mengetuk pelan lengan Álex. “Kalau kemampuanmu tidak kaugunakan, kau bahkan tidak akan menang melawan domba itu.”

Domba yang dimaksud, seolah tahu sedang dibicarakan, mengembik dengan nada yang menurut Álex terdengar meremehkan.

“Jadi,” anak itu melanjutkan, “aku akan memberimu sesuatu. Bukan jawaban. Sebuah cara.”

Ia mengangkat tangan kanannya, dan udara di sekitar jari-jarinya melipat—bukan seperti sihir yang biasa Álex kenal, bukan Éter yang bisa ia rasakan sebagai getaran familiar, melainkan sesuatu yang lebih tua, lebih sunyi, seperti musim yang berganti tanpa pernah benar-benar terlihat bergerak.

“Delapan Perubahan Pedang[^6],” katanya. “Cabang kecil—sangat kecil, jangan besar kepala—dari Pedang Empat Musim. Delapan bentuk. Delapan musim yang tidak pernah ada di kalender manusia mana pun. Pelajari dengan tubuhmu sendiri, bukan dengan benang-benangmu. Karena suatu hari, Tejedor, benang-benangmu akan terputus di saat yang paling buruk, dan yang tersisa hanya tubuh remaja lemah yang harus menang melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari domba.”

Sesuatu hangat—bukan Éter, bukan energi apa pun yang punya nama dalam katalog manapun yang pernah Álex pelajari—mengalir masuk ke dalam dadanya, menetap di sana seperti benih yang menunggu musim semi.

“Terima kasih,” kata Álex, akhirnya, karena apa lagi yang bisa dikatakan seseorang pada guru yang menghadiahi ilmu sambil menghina di kalimat yang sama.

“Jangan berterima kasih dulu,” sahut si kakek gembala, sudah berbalik mengurus dombanya lagi seolah percakapan barusan tidak lebih penting dari cuaca. “Delapan Perubahan itu akan membuatmu muntah selama seminggu pertama latihan.”


Kamis, 6 November 2248, pukul 16.40 — Emporio Álvarez, Triana, Sevilla

Álex pulang dengan tiga koper.

Dua di antaranya berisi pakaian yang tidak pernah ia buka sekali pun selama tiga hari itu, karena ternyata “belajar Delapan Perubahan Pedang” dalam definisi anak laki-laki purba berarti dua puluh jam sehari tanpa jeda, minus waktu untuk—katanya—”muntah, itu bagian dari kurikulum.”

Koper ketiga penuh oleh-oleh: sepasang kotak baklava[^7] yang sudah setengah gepeng karena disesaki di antara pakaian, tiga toples selai mawar, satu karpet kecil bermotif yang menurut penjual di pasar Erzurum “otentik” tapi menurut mata Álex yang sudah terbiasa melihat rune bergerak, jelas-jelas dibuat pabrik, dan—yang paling membuat Carlos berbinar ketika membukanya—satu botol çay[^8] hitam pekat lengkap dengan gelas tulipnya.

“Kau,” kata Carlos, memutar-mutar gelas tulip itu di bawah lampu toko seolah sedang menilai berlian, “menghilang empat hari, tidak ada kabar, dan pulang bawa oleh-oleh teh Turki?”

“Studi banding,” kata Álex, cepat, sudah menyiapkan alasan itu di sepanjang lipatan pulang. “Program pertukaran—Defensa Mágica Escolar[^9]. Ada modul lapangan.”

“Kau tidak bilang apa-apa.”

“Mendadak.”

Carlos menatapnya lama—cukup lama sampai Álex merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya untuk seorang remaja yang cuma pulang bawa oleh-oleh. Tapi kemudian ayahnya cuma mengangguk, seperti biasa menyerah pada logika yang, secara teknis, masih masuk akal.

“Ya sudah. Taruh baklava-nya di dapur. Ibumu pasti mau.”

Dari balik rak sabun magis, Lucía muncul, satu alis terangkat, menatap koper ketiga dengan cara yang membuat Álex ingin sekali bisa menghilang di tempat.

“Turki,” katanya, pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada kakaknya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mencatat—Álex bisa melihatnya, cara mata adiknya bergerak seperti sedang menambahkan satu baris lagi ke dalam sebuah dokumen yang hanya ada di kepalanya.

Álex tersenyum, seceria mungkin, dan naik ke kamarnya membawa satu toples selai mawar yang tidak sempat ia berikan pada siapa pun.

Di dalam dadanya, delapan bentuk yang belum sepenuhnya ia kuasai menunggu, sabar seperti musim yang tahu gilirannya akan tiba.


[^1]: Palandöken — pegunungan di dekat kota Erzurum, Turki Timur, dikenal sebagai kawasan ski di dunia nyata; dalam cerita ini menjadi lokasi tersembunyi tempat sekutu-sekutu purba Álex tinggal, jauh dari jangkauan otoritas magis konvensional.

[^2]: Kawasan penyangga Kekosongan — istilah informal untuk area perbatasan pengaruh El Vacío, ancaman kosmik utama dalam cerita ini; berbeda dari serangan langsung, kawasan ini adalah zona “penyaringan” tempat konflik generasi tua terjadi tanpa sepengetahuan dunia manusia biasa.

[^3]: Kuil Pedang Empat Musim — sekte kultivasi pedang purba, tidak berafiliasi dengan otoritas bumi mana pun; anggotanya menganggap diri mereka “tamu” di planet ini, bukan penduduk asli, sehingga jarang mau turun tangan dalam urusan lokal.

[^4]: Subbéticas — Pegunungan di Provinsi Córdoba, Spanyol; lokasi operasi militer besar (Bab 19–20) melawan organisasi teroris La Mano Vacía, yang berujung pada korban jiwa di pihak Legión Aetheris.

[^5]: La Séptima — sebutan untuk kursi ketujuh yang kosong dari Los Siete Ecos (Tujuh Gema), dewan tujuh jenderal abadi yang dipimpin Álex sebagai El Tejedor (Sang Perajut).

[^6]: Delapan Perubahan Pedang — teknik bela diri kecil turunan dari ilmu Pedang Empat Musim; berbeda dari sihir berbasis Éter yang biasa dipakai Álex, teknik ini bergantung pada tubuh dan disiplin fisik, bukan energi magis eksternal.

[^7]: Baklava — kue berlapis khas Timur Tengah dan Balkan, terbuat dari adonan filo, kacang cincang, dan sirop madu.

[^8]: Çay — teh hitam khas Turki, biasa disajikan dalam gelas kecil berbentuk tulip.

[^9]: Defensa Mágica Escolar — kurikulum pertahanan sihir resmi yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Mistika Spanyol, diperkenalkan pertama kali di Bab 16; menjadi alasan kover yang sering dipakai Álex untuk menutupi aktivitas rahasianya.

Tinggalkan komentar