BAB 3 – La Visita de Doña Morgana

Ada tiga tanda yang selalu mendahului kedatangan Doña Morgana Moure ke distrik Triana, dan ketiganya selalu muncul dalam urutan yang sama, seperti ritual yang tidak pernah ia sadari sendiri sudah ia lakukan.

Pertama, aroma dupa cendana yang entah bagaimana selalu tiba lebih dulu daripada pemiliknya, menyusup lewat ventilasi toko seperti tamu yang tidak diundang tapi terlalu sopan untuk diusir.

Kedua, burung-burung gagak kecil—peliharaan atau mata-mata, tidak ada yang berani bertanya secara langsung—yang hinggap di kabel listrik depan Emporio Álvarez, mengamati dengan mata yang terlalu cerdas untuk sekadar unggas.

Ketiga, dan ini yang paling dipercaya Carlos sebagai pertanda paling akurat: suara langkah kaki bersepatu hak yang berjalan dengan tempo terlalu santai untuk seseorang yang sebenarnya datang dengan agenda tersembunyi.

“Cierra la tienda.”[^1] Carlos berbisik panik ke arah Álex, yang sedang menata rak ramuan lantai satu dengan tenang seolah-olah dunia tidak akan berakhir dalam tiga puluh detik berikutnya.

“Papá, sudah ada lima pelanggan di dalam.”

“Bilang ke mereka kita lagi fumigasi.”

“Fumigasi apa? Belum ada serangga.”

“Akan ada,” kata Carlos, dengan nada seorang nabi yang baru menerima penglihatan, “begitu Morgana selesai berbicara denganku.”

Bel pintu berdenting—nada yang sama yang berdenting untuk pelanggan lain mana pun, tapi entah bagaimana, di telinga Carlos, terdengar seperti genderang perang.

Doña Morgana Moure melangkah masuk dengan gaya seseorang yang sudah lama berhenti peduli pada pendapat orang lain tentang caranya berjalan. Gaun hitamnya panjang, bersulam pola perak yang berubah bentuk pelan-pelan kalau diperhatikan terlalu lama—rune hidup, bukan sekadar dekorasi. Rambutnya putih, bukan karena usia, tapi karena ia, menurut gosip yang beredar di asosiasi pengusaha Sevilla, sengaja memutihkannya sendiri sebagai “pernyataan estetika spiritual.”

“Carlos,” sapanya, dengan senyum yang terlalu ramah untuk dipercaya sepenuhnya. “Tokomu masih berbau seperti supermarket.”

“Dan tokomu masih berbau seperti pemakaman yang dirias jadi spa,” balas Carlos, lalu langsung menambahkan, dengan kecepatan seseorang yang menyadari kesalahannya sendiri, “—maksudku, dengan cara yang elegan! Sangat elegan! Pemakaman paling elegan yang pernah ada!”

Morgana tertawa kecil, suara yang lebih menakutkan daripada lucu. “Aku tidak datang untuk berdebat estetika, Carlos. Aku datang untuk bisnis.”

Di sinilah Álex melangkah maju—bukan karena ia diminta, tapi karena pengalaman bertahun-tahun mengajarkannya bahwa setiap kali ayahnya dan Morgana berhadapan langsung tanpa penengah, hasilnya selalu berakhir dengan salah satu dari mereka menjual barang dengan harga yang sangat tidak masuk akal hanya demi membuktikan suatu hal yang sebenarnya tidak perlu dibuktikan.

“Doña Morgana,” sapa Álex, dengan nada paling netral yang bisa ia kumpulkan, gabungan rasa hormat dan kewaspadaan yang sudah ia latih sejak ia berumur dua belas tahun dan pertama kali melihat ayahnya hampir menukar seluruh stok minyak zaitun dengan satu botol “ramuan keberuntungan abadi” dari toko Morgana yang ternyata hanya air biasa dengan label mahal. “Ada yang bisa kami bantu?”

Morgana memandangnya—dan untuk sepersekian detik, sesuatu di matanya berubah. Bukan kecurigaan. Lebih seperti seseorang yang sedang mencium aroma yang sangat samar, sangat asing, dan mencoba mengingat dari mana ia pernah menciumnya sebelumnya.

“Ah,” katanya pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri. “Kau yang sulung. Sudah lama aku tidak melihatmu dari dekat.”

“Saya juga tidak terlalu sering pergi ke toko Anda, Doña. Harga dupa kalian terlalu mahal untuk kantong pelajar.”

Morgana terkekeh lagi, kali ini lebih tulus. “Sopan dan jujur. Kombinasi langka di Triana. Baiklah—” ia menoleh kembali ke Carlos, “—aku datang membawa proposal. Klan Dwarf dari Sierra Nevada yang menjadi pemasok utamamu, mereka juga memasok bahan baku ramuan organikku. Tapi belakangan ini, pasokan menipis. Aku dengar—dari sumber yang aku percaya—mereka kekurangan tenaga kerja karena ada masalah di terowongan pertambangan.”

Carlos langsung berubah dari panik menjadi waspada—mode yang jauh lebih jarang muncul, dan karena itu jauh lebih meyakinkan. “Aku belum dengar soal itu.”

“Tentu saja belum. Mereka memberitahuku lebih dulu, karena aku membeli dengan harga yang lebih masuk akal.” Morgana memberi jeda yang dihitung dengan sempurna, seperti aktris yang tahu kapan harus berhenti agar penonton bersandar maju. “Aku usulkan kita bagi pasokan yang tersisa. Setengah untukmu, setengah untukku. Daripada kita berdua bersaing memperebutkan sisa yang semakin sedikit dan akhirnya merugi sama-sama.”

Ruangan terasa sunyi sejenak—jenis sunyi yang hanya bisa terjadi ketika dua pesaing dagang yang sudah bertengkar selama satu dekade tiba-tiba dihadapkan dengan tawaran yang, secara mengejutkan, benar-benar masuk akal.

“…Kenapa kamu menawarkan ini padaku?” tanya Carlos, curiga seperti orang yang baru ditawari permen gratis oleh orang asing.

“Karena, Carlos,” kata Morgana, dengan nada yang—untuk pertama kalinya sejak ia masuk—terdengar lebih lelah daripada licik, “aku sudah terlalu tua untuk berperang demi minyak zaitun dan dupa. Aku ingin bisnisku bertahan, bukan menang.”

Carlos memandangnya lama, mengernyit, lalu—dengan gaya yang sangat khas dirinya—mengeluarkan satu botol minyak zaitun Virgen Extra Bendecida[^2] dari rak terdekat dan menyodorkannya.

“Setuju. Tapi sebagai bukti niat baik, kau coba dulu ini. Diberkati pastor sendiri, aku jamin tidak akan tengik sampai akhir tahun.”

Morgana menerima botol itu dengan tatapan seseorang yang baru disodori senjata yang sebenarnya hadiah. “Aku punya minyak organik sendiri yang—”

“Coba saja,” potong Carlos, dengan senyum lebar yang terlalu bangga untuk ditolak begitu saja.

Dan dengan itu, gencatan senjata dagang paling tidak elegan dalam sejarah Triana resmi dimulai—diikat bukan dengan kontrak hukum, melainkan dengan satu botol minyak zaitun yang dipaksakan.


Tapi sebelum Morgana melangkah keluar, ia berhenti sejenak di dekat pintu, menoleh ke arah Álex yang sedang membantu membereskan rak yang sempat berantakan karena demo produk tadi siang.

“Satu hal lagi,” katanya, nadanya berubah—lebih pelan, lebih pribadi, ditujukan hanya untuk Álex, meski Carlos masih berdiri tak jauh dan pura-pura sibuk menghitung stok.

Álex menoleh. “Ya, Doña?”

Morgana mendekat selangkah, menatapnya dengan mata seorang bruxa[^3] yang sudah menghabiskan separuh hidupnya membaca hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa.

“Kau bawa sesuatu di tubuhmu,” katanya, lembut tapi tidak ragu. “Aroma yang tidak berasal dari realm manapun yang aku kenal. Bukan Alfheimr. Bukan Dvergheimr. Bukan Therion. Sesuatu yang… lebih jauh.”

Jantung Álex berdetak sedikit lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang—keterampilan yang sudah ia latih bertahun-tahun, baik di meja makan keluarganya maupun di hadapan pasukan abadi di La Frontera.

“Mungkin saya cuma kena ramuan eksperimen Lucía minggu lalu,” ia mencoba, dengan nada bercanda yang sengaja dibuat terlalu ringan untuk dipercaya sepenuhnya.

Morgana tersenyum, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Mungkin,” katanya, dengan nada yang justru menunjukkan ia sama sekali tidak percaya jawaban itu. “Aku seorang pedagang, Alejandro. Aku tidak akan bertanya lebih jauh dari yang kau mau jawab. Tapi—” ia berhenti di depan pintu, satu tangan memegang kusen, “—kalau suatu hari aromanya berubah jadi lebih dekat ke sesuatu yang aku takuti daripada sesuatu yang aku ingin tahu, datanglah ke tokoku. Aku punya hal-hal yang tidak dijual AEGD[^4], dan aku berutang satu kebaikan padamu sekarang.”

Ia melangkah keluar, diiringi dentingan bel pintu dan aroma dupa cendana yang perlahan menghilang seperti datangnya.

Carlos baru bernapas lega setelah pintu benar-benar tertutup. “Akhirnya. Kupikir kita harus menjual setengah toko hari ini.”

“Kita malah dapat kesepakatan pasokan,” kata Álex, mencoba mengalihkan perhatian ayahnya dari percakapan terakhir tadi. “Itu bagus, kan?”

“Bagus, ya. Tapi tetap saja—” Carlos memandang botol minyak zaitun yang masih ada di tangan Morgana sebelum pergi, lalu menggeleng, seolah baru menyadari sesuatu, “—aku baru sadar aku kasih dia botol minyak zaitun gratis demi kesepakatan yang menguntungkan kita berdua. Aku ini pedagang ulung atau orang paling bodoh di Sevilla?”

“Mungkin keduanya, Papá.”

“Itu yang sering dikatakan ibumu juga,” kata Carlos, lalu tertawa sendiri, dan kembali ke rutinitas tokonya seolah-olah dunia baru saja kembali normal.

Tapi Álex berdiri sebentar lebih lama di tempatnya, menatap pintu yang baru saja ditutup Morgana, memikirkan kata-katanya. Aromanya berubah jadi lebih dekat ke sesuatu yang aku takuti.

Ia tidak tahu bahwa di seberang kota, di sebuah kamar yang lampunya masih menyala jauh melewati jam tidur yang seharusnya, adiknya sendiri sedang memikirkan kata-kata yang hampir sama—hanya dengan alat yang berbeda, dan ketakutan yang baru mulai punya bentuk.


[^1]: “Cierra la tienda” — (Sp.) “Tutup tokonya.” [^2]: Virgen Extra Bendecida — minyak zaitun extra virgin yang diberkati pastor lokal, dipercaya tidak mudah tengik dan bisa mengusir hantu dapur; produk andalan Emporio Álvarez. [^3]: Bruxa — penyihir dari cerita rakyat Galicia, kini eksis nyata sebagai pengguna sihir alami yang kuat sejak Era Kebangkitan; sering berselisih pandangan dengan Gereja Katolik. [^4]: AEGDLa Agencia Española de Gestión Dimensional, badan pemerintah Spanyol yang mengatur gerbang dimensi dan distribusi artefak resmi; barang yang “tidak dijual AEGD” mengindikasikan sesuatu di luar jalur legal-resmi.

Tinggalkan komentar