BAB 2 – Pengakuan Setengah

Meja makan keluarga Álvarez selalu punya satu aturan tidak tertulis: siapa pun boleh berbohong tentang nilai ujian, tentang siapa yang menghabiskan susu Vaca Feliz[^1] terakhir, atau tentang siapa yang sebenarnya memecahkan vas nenek—tapi tidak boleh ada yang berbohong soal darah.

Itulah sebabnya, ketika Lucía meletakkan sendoknya pelan-pelan—terlalu pelan, dengan ketelitian seorang ahli rune yang sedang menjinakkan ledakan—Álex tahu malam itu tidak akan berakhir dengan obrolan ringan tentang tugas sekolah.

“Kak,” kata Lucía, tanpa basa-basi, tanpa nada manja yang biasa ia pakai untuk meledek. “Aku mau tanya satu hal. Dan aku mau jawaban yang bukan lelucon.”

Álex menatap adiknya. Lima belas tahun, mata setajam rune yang baru diukir, dan satu kemampuan yang lebih berbahaya daripada sihir apa pun yang pernah ia temui di La Frontera[^2]: kemampuan untuk bertanya tepat pada titik yang paling rapuh.

Ia bisa saja menggunakan Sinfonía-nya[^3]. Satu sentilan kecil pada benang-benang yang menghubungkan momen ini, dan perhatian Lucía akan luntur seperti embun pagi di Triana—berpindah ke topik lain, mungkin ke laporan AEGD[^4] yang harus ia selesaikan, mungkin ke gosip tentang murid pertukaran dari Persemakmuran Celestial. Mudah. Tidak menyakiti siapa pun.

Tapi untuk pertama kalinya—dan ia sendiri terkejut menyadarinya—ia tidak mau melakukan itu pada Lucía.

“Tanya,” kata Álex.

“Bulan lalu. Kamu bilang sakit flu. Tapi waktu kamu pulang, aku lihat kerah kausmu. Ada bekas—” Lucía berhenti, mengatur kata-katanya seperti seseorang yang sedang menjinakkan rune yang bisa meledak kalau diucapkan salah. “Bukan darah manusia. Aku tahu warnanya. Aku belajar biologi makhluk magis, Kak, bukan biologi SD.”

Carlos di ujung meja sedang terlalu sibuk menyeruput sup untuk mendengar, atau berpura-pura begitu. Helena belum pulang—masih ada panggilan dari UID[^5], katanya, soal racun yang sulit dimurnikan. Hanya mereka berdua, di bawah lampu rune yang berkelip pelan karena tagihan Éter bulan ini belum dibayar penuh.

Álex menghela napas. Ia memutuskan—mungkin keputusan paling berbahaya yang pernah ia ambil tanpa melibatkan pertempuran kosmis—untuk memberi adiknya sesuatu yang nyata. Bukan semuanya. Tapi nyata.

“Aku terlibat dengan sesuatu,” katanya pelan. “Sebuah… organisasi. Bergerak di luar AEGD, di luar UID, di luar apa pun yang pernah kau baca di laporan resmi manapun. Antar-dimensi. Mereka kadang minta bantuanku, karena aku punya… bakat. Bukan sihir seperti yang kau pikir. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak terdeteksi alat apa pun yang pernah kau bangun.”

Ia tidak menyebut El Velo Silencioso[^6]. Tidak menyebut El Vacío[^7]. Tidak menyebut Los Siete Ecos[^8]. Dan yang paling penting, ia tidak menyebut satu fakta yang akan membuat Lucía—jenius yang sudah memenangkan Liga Kaligrafi Rune dua tahun berturut-turut—berhenti bernapas sejenak: bahwa kakaknya, Álex yang sering kalah dalam debat soal siapa yang harus mencuci piring, adalah pemimpin tertinggi dari ordo paling rahasia yang pernah ada di multiverse.

Lucía mendengarkan dengan tenang. Terlalu tenang. Itu yang membuat Álex gelisah—seandainya ia menangis, atau berteriak, ia akan tahu cara menanganinya. Tapi diam seperti ini, diam seorang ilmuwan yang sedang mencatat data, jauh lebih menakutkan.

Lalu pertanyaan itu datang.

“Kalau mereka ‘hanya minta tolong sesekali,'” kata Lucía, mengutip kata-kata Álex sendiri dengan nada yang membuatnya terdengar seperti tuduhan, “kenapa kamu sampai terluka? Dan kenapa—” suaranya sedikit retak, hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Álex merasakannya di dadanya sendiri, “—kenapa kamu tidak bilang ke Mamá?”

Álex tidak menjawab.

Bukan karena ia tidak punya jawaban. Ia punya terlalu banyak jawaban, dan semuanya berbahaya. Karena Mamá akan ingin ikut menyembuhkanku, dan ia akan melihat luka yang tidak ada di buku medis manapun. Karena kalau aku bilang, ia akan bertanya lebih jauh, dan setiap pertanyaan lebih jauh adalah satu langkah lebih dekat ke Vacío yang bisa menemukan jalan masuk lewat kalian. Karena aku tidak tahu cara bilang aku menyayangi kalian semua terlalu banyak untuk membiarkan kalian tahu seberapa dekat dunia ini dengan tidak ada.

Keheningan itu menggantung di antara mereka, berat seperti udara sebelum gerbang liar terbuka.

Dan tepat sebelum keheningan itu pecah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali, pintu depan terbuka dengan suara berderak khas engsel yang sudah minta diminyaki sejak tahun lalu.

“¡Familia, tengo una sorpresa!”[^9] suara Carlos menggelegar dari ruang depan, diiringi suara kardus besar yang diseret di lantai. “¡El turrón[^10] del futuro ha llegado!”

Lucía dan Álex saling pandang—gencatan senjata tak terucap, sebagaimana lazimnya terjadi di keluarga Álvarez setiap kali Carlos membawa “inovasi” terbaru.

Carlos masuk ke ruang makan dengan wajah berbinar, membawa kardus berlabel EMPORIO ÁLVAREZ — EDICIÓN ESPECIAL dengan tulisan tangan yang ditambah sendiri di bawahnya: “¡Patentado, casi!” (Sudah dipatenkan, hampir).

“Turrón[^10] rasa poción energi,” ia mengumumkan dengan bangga seorang penemu yang belum pernah membaca manual keselamatan. “Aku bilang ke supplier Dwarf, ‘kalian punya ramuan stamina, aku punya manisan khas Natal, kenapa tidak digabung?’ Mereka bilang ide bagus. Mereka tidak bilang—”

Tepat saat itu, dari dalam kardus, terdengar bunyi pop yang sangat tidak meyakinkan, diikuti oleh suara mendesis seperti panci presto yang lupa dimatikan.

“—bahwa ramuan staminanya bereaksi dengan gula karamel,” Carlos menyelesaikan kalimatnya, dengan nada orang yang baru menyadari informasi penting satu detik terlalu lambat.

Kardus itu meledak. Bukan ledakan dramatis seperti yang biasa terjadi di Therion[^11], tapi ledakan domestik yang jauh lebih memalukan: serpihan turrón terbang ke segala arah, menempel di langit-langit, di rambut Carlos, dan—dengan presisi yang seakan-akan disengaja oleh alam semesta yang punya selera humor buruk—tepat di tengah mangkuk gazpacho[^12] yang baru saja diletakkan Helena sebelum pergi tadi sore.

Lucía menjerit pelan, lalu tertawa—tawa yang sama sekali bukan tawa seorang jenius dingin, melainkan tawa adik kecil yang melihat ayahnya gagal total untuk kesekian kali. Álex ikut tertawa, lebih lega daripada lucu, karena ketegangan yang baru saja menyelimuti meja makan itu kini retak menjadi tawa, meski ia tahu—dan dari tatapan singkat Lucía sebelum ia membantu membersihkan langit-langit, Lucía juga tahu—bahwa pertanyaan itu belum dijawab. Hanya ditunda.

Carlos berdiri di tengah kekacauan turrón-nya sendiri, mengangkat satu potong yang menempel di lengan bajunya, mengamatinya seperti arkeolog menemukan artefak kuno.

“Bahan baku masih bisa diselamatkan,” katanya optimis, lalu menjilat potongan itu, dan langsung membeku selama tiga detik penuh sebelum berkata, “Ah. Ya. Aku paham sekarang kenapa Dwarf itu tertawa waktu aku pergi.”


Sore harinya, Álex berdiri di lantai tiga Emporio Álvarez, menata ulang botol-botol ramuan quitaresaca[^13] yang baru datang. Toko sedang sepi—jam-jam mati antara pulang sekolah dan jam pulang kantor, satu-satunya waktu di mana Álex bisa berpikir tanpa ada pelanggan yang mengeluh soal ramuan insomnia yang justru membuat mereka tidur tiga hari.

Pintu berdenting. Val masuk, ransel toolkit-nya berderak seperti biasa, rambut merahnya dikepang dua dengan rapi meski baru pulang dari kelas Tecnomancia yang—dari noda jelaga di pipinya—sepertinya tidak berjalan mulus.

“Jefe[^14],” sapanya, melempar diri ke kursi pelanggan dengan gaya yang membuat kursi itu berderak protes. “Bapakmu masih trauma sama turrón?”

“Dia lagi di gudang belakang, menyusun ulang strategi pemasaran. Kata-katanya: ‘Mungkin bukan turrón-nya yang salah, mungkin marketingnya.'”

Val terkekeh, lalu mengambil satu botol ramuan dan memutarnya, memeriksa segel rune di tutupnya dengan mata seorang ahli yang tidak bisa berhenti memeriksa kualitas kerja orang lain, bahkan saat sedang santai.

“Eh, Álex,” katanya, nadanya berubah sedikit—lebih hati-hati, seperti seseorang yang sedang menguji kekuatan jembatan sebelum melangkah penuh. “Aku boleh tanya sesuatu yang agak random?”

“Tanya.”

“Minggu lalu, pas duel latihan lawan Gonzalo di lapangan sekolah—yang katanya cuma latihan tapi semua orang tahu itu beneran—dia nembak mantra angin level tinggi ke arahmu. Aku lihat dari jauh. Kamu nggak gerak. Sama sekali nggak gerak. Dan manteranya… entah kenapa, melenceng. Padahal Gonzalo nggak pernah meleset kalau lawannya diam.”

Álex melanjutkan menata botol, tidak menoleh. “Mungkin dia gugup. Aku kan tampan.”

“Álex.”

“Mungkin angin sedang ada urusan lain.”

“Álex.”

Ia akhirnya menoleh, dan menemukan Val menatapnya bukan dengan kecurigaan seorang detektif, melainkan dengan ketenangan seorang teman yang sudah lama curiga tapi memilih untuk tidak memaksa pintu yang belum siap dibuka.

“Aku nggak akan maksa,” kata Val, lebih lembut dari biasanya. “Dwarf percaya, kalau sebuah struktur belum siap dibongkar, kamu nggak bongkar paksa—nanti yang ada malah runtuh semua. Tapi aku juga bukan bodoh, jefe. Keberuntunganmu terlalu… rajin.”

Álex tersenyum tipis, senyuman yang sama yang ia berikan pada setiap orang yang mendekati kebenaran tanpa benar-benar tahu mereka sudah berdiri di tepinya. “Kalau suatu hari aku bisa cerita, kamu yang pertama tahu. Setelah Lucía, mungkin.”

“Adil,” kata Val, lalu kembali memutar botol di tangannya seolah-olah percakapan itu tidak pernah terjadi—satu lagi tanda kesetiaan yang tidak pernah diucapkan, hanya dilakukan, seperti yang selalu terjadi di geng Álex.

Mereka melanjutkan sore itu membicarakan hal-hal yang jauh lebih ringan: apakah karpet balap yang dimodifikasi Val bisa menang melawan tim dari distrik Macarena di Alfombra Nocturna[^15] berikutnya, dan apakah Teo akhirnya akan berhasil membuat rune yang tidak meledak (jawabannya, berdasarkan riwayat, kemungkinan besar tidak).


Malam itu, jauh setelah toko tutup dan keluarga Álvarez tertidur—kecuali Helena, yang baru pulang jam sepuluh dengan wajah lelah seorang penyembuh yang baru saja kalah melawan satu kasus dan menang melawan lima yang lain—Álex berdiri sendirian di balkon kamarnya, menatap langit Sevilla yang dipenuhi cahaya karpet-karpet terbang malam dan, di balik semua itu, sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun kecuali dirinya.

Seraphiel muncul tanpa suara, seperti biasa—cahaya yang melipat dirinya sendiri menjadi bentuk manusiawi yang terlalu sempurna untuk benar-benar manusia.

“El Tejedor,” sapanya, dengan nada hormat yang selalu membuat Álex sedikit tidak nyaman, karena gelar itu masih terasa seperti jubah yang terlalu besar untuk tubuhnya. “Kursi Ketujuh berdenyut lagi.”

Álex menutup mata sejenak. La Séptima[^16]—posisi yang kosong, yang hanya ia yang tahu untuk siapa disiapkan. “Seberapa kuat?”

“Lebih kuat dari sebelumnya. Jauh lebih kuat.” Seraphiel berhenti, dan dalam keheningannya itu, Álex bisa merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan dari malaikat tanpa sayap itu: kekhawatiran yang tidak dikatakan secara langsung. “Dan kali ini, lokasinya bukan di realm asing, bukan di Frontera. Lokasinya di Bumi.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam danau tenang.

“Di mana?” tanya Álex, suaranya jauh lebih tenang daripada perasaannya.

“Belum jelas. Tapi sinyalnya—” Seraphiel menatap ke arah selatan, ke arah cahaya kota yang sama yang dipandangi Álex setiap malam, “—berasal dari dekat sini. Sangat dekat.”

Setelah Seraphiel menghilang seperti embun yang ditarik kembali ke langit, Álex tetap berdiri di balkon, lebih lama dari biasanya, menghitung kemungkinan-kemungkinan yang biasanya bisa ia lihat dengan jelas seperti benang-benang berwarna. Tapi kali ini, untuk alasan yang tidak ia pahami, benang-benang itu kabur. Seolah-olah sesuatu—atau seseorang—sengaja menyembunyikan diri dari penglihatannya.

Ia tidak tahu bahwa dua lantai di bawahnya, di kamar yang masih menyala terang jauh melewati jam tidur yang seharusnya, adiknya sendiri sedang menatap layar yang sama-sama tidak masuk akal.


Lucía tidak bisa tidur. Bukan karena memikirkan turrón yang masih menempel di langit-langit ruang makan, dan bukan sepenuhnya karena pertanyaan yang belum terjawab dari kakaknya—meski itu juga berputar-putar di kepalanya seperti rune yang belum selesai diukir.

Ia membuka kembali detektor Éter pribadinya, proyek sampingan yang ia bangun sendiri dari komponen bekas dan kecerdasan yang terlalu besar untuk usianya. Alat itu seharusnya hanya mendeteksi fluktuasi Éter standar—data sekolah, latihan magang AEGD-nya. Tapi sejak bulan lalu, alat itu terus menangkap satu anomali kecil yang tidak masuk dalam kategori apa pun di buku referensinya: sebuah tanda tangan energi yang tidak cocok dengan Éter biasa, tidak cocok dengan sihir elf, dwarf, atau makhluk realm manapun yang pernah ia pelajari.

Tanda tangan itu selalu muncul di sekitar—dan ini yang membuatnya gelisah sejak awal—kamar kakaknya.

Malam ini, ketika ia membuka kembali peta deteksi di tabletnya, satu titik baru muncul di layar. Bukan di kamar Álex.

Di suatu tempat lain di Sevilla.

Lucía menyipitkan mata, memperbesar tampilan, membandingkan pola energinya dengan data lama yang sudah ia simpan diam-diam selama berminggu-minggu.

Tanda tangan yang sama.

Tapi kali ini, jauh lebih besar.

Ia meraih pensil, menulis catatan kecil di buku jurnalnya dengan tangan yang—untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang prodigio—sedikit bergetar:

Bukan hanya Kak Álex. Ada sesuatu yang lain. Dan itu sedang bergerak ke arah sini.


[^1]: Vaca Feliz — “Sapi Bahagia” (Sp.), merek susu sapi yang diberi mantra relaksasi sebelum diperah, populer karena teksturnya lebih creamy. [^2]: La Frontera (Invisible) — medan perang rahasia antar-dimensi yang dipimpin Álex sebagai panglima El Velo Silencioso, tidak terdeteksi oleh teknologi atau sihir mana pun di Bumi. [^3]: Sinfonía (Causal) — singkatan informal untuk Sinfonía Causal, kemampuan puncak Álex untuk memanipulasi benang kausalitas dalam skala masif. [^4]: AEGDLa Agencia Española de Gestión Dimensional, badan pemerintah Spanyol yang mengatur gerbang dimensi dan urusan Éter sipil. [^5]: UIDUnidad de Intervención Dimensional, satuan khusus Guardia Civil yang menangani kejahatan magis dan antar-dimensi. [^6]: El Velo Silencioso — ordo multiversal rahasia yang dipimpin Álex, bertugas menjaga multiverse dari ancaman El Vacío Primordial. [^7]: El Vacío (Primordial) — entitas sadar dari luar realitas yang berusaha melahap seluruh eksistensi; musuh utama El Velo Silencioso. [^8]: Los Siete Ecos — tujuh panglima perang El Velo Silencioso, masing-masing legenda dari realm berbeda, mengabdi langsung di bawah Álex. [^9]: “¡Familia, tengo una sorpresa!” — (Sp.) “Keluarga, aku punya kejutan!” [^10]: Turrón — manisan khas Natal Spanyol berbahan dasar madu, gula, dan kacang almond, biasanya bertekstur keras atau lembut tergantung jenisnya. [^11]: Therion (Wilds) — realm para beastman (manusia-hewan), salah satu Reinos Exteriores yang terhubung lewat gerbang di Extremadura. [^12]: Gazpacho — sup dingin khas Andalusia berbahan dasar tomat dan sayuran segar. [^13]: Quitaresaca — ramuan penghilang efek mabuk (dari kata Spanyol quitar = menghilangkan, resaca = mabuk/hangover), produk laris di Emporio Álvarez setiap hari Minggu. [^14]: Jefe — (Sp.) “Bos”, panggilan akrab Val untuk Álex sebagai lelucon karena ia sering jadi penengah di geng. [^15]: Alfombra Nocturna — ajang balap karpet terbang ilegal yang diadakan di atas atap-atap kota, sering diburu oleh UID. [^16]: La Séptima — posisi ketujuh dan terakhir di Los Siete Ecos, yang selama ini dibiarkan kosong oleh Álex untuk alasan yang hanya ia ketahui sendiri.

Tinggalkan komentar