I. La Frontera Invisible — Sektor 7-Gamma
Ada cara yang benar untuk memberi perintah kepada makhluk yang lebih tua dari cahaya, dan Álex sudah hafal semuanya.
Yang pertama: jangan pernah memohon. Yang kedua: jangan pernah ragu lebih dari setengah detik, karena setengah detik di Frontera adalah seribu nyawa. Yang ketiga, dan yang paling penting—jangan pernah menatap El Vacío terlalu lama, sebab Kekosongan itu menatap balik, dan tidak seperti jurang, ia punya selera.
Ia berdiri di puncak bukit kristal yang memantulkan bukan cahaya melainkan kemungkinan—jutaan masa depan yang kemerlap seperti pecahan kaca, dan ia bisa membaca tiap kepingnya. Di bawah sana, sektor 7-Gamma sekarat. Langit—jika benda kelabu tanpa atas-bawah itu masih pantas disebut langit—dipenuhi makhluk-makhluk Vacío yang merembes masuk dari sebuah robekan: niskala, tanpa wujud, tanpa nama, hanya kelaparan yang diberi gerak.
Di hadapan makhluk seperti itu, sebuah peradaban biasanya berakhir dalam dua belas detik.
Álex memberi mereka tiga minggu. Dan ia sudah lelah.
“Tejedor.” Suara itu masuk bukan lewat telinga melainkan lewat tulang. Seraphiel. El Primer Eco berdiri tiga langkah di belakangnya, bekas luka di punggungnya tempat sayap dulu tumbuh berpendar seperti tungku yang menolak padam. “Sayap kiri runtuh. Armada Orion kehilangan empat puluh Estrella. Garis pertahanan ketiga akan jebol dalam—”
“Sembilan detik,” potong Álex. “Aku tahu.”
Ia tahu. Itulah persoalannya. Ia selalu tahu.
Inilah yang tidak dipahami orang tentang kemampuannya—dan tidak akan pernah ada orang yang memahaminya, sebab tidak seorang pun di seluruh multiverse yang tahu ia memilikinya. Álex tidak menembakkan api seperti Carmela. Tidak menyembuhkan luka seperti ibunya. Ia tidak bisa, sejujurnya, melakukan satu pun hal yang biasa dibanggakan seorang penyihir.
Ia hanya bisa melihat hilos causales—benang-benang halus yang menjahit sebab kepada akibat, keputusan kepada bencana, satu langkah kecil kepada keruntuhan tujuh galaksi—dan, dengan harga yang akan ia bayar selama dua hari penuh nanti, ia bisa merajutnya.
Ia mengangkat tangan kanan.
Bukan untuk melepaskan kekuatan. Untuk mendengar.
Dan medan perang itu—seluruhnya, ribuan prajurit dari ratusan dimensi, tiap dentuman artileri dimensi, tiap mantra yang lepas, tiap napas terakhir yang dihembuskan seorang serdadu yang namanya tak akan pernah Álex ketahui—berubah menjadi musik.
Sinfonía Causal.
Ia tidak lagi melihat manusia dan makhluk. Ia melihat nada. Dan ia adalah konduktornya.
“Kael’thas.” Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu. “Garis ketiga. Sekarang. Tahan delapan detik, bukan sembilan.”
Raja Tanpa Mahkota dari Nether Depths yang sejati—bukan dongeng murahan yang ditakuti manusia, melainkan benda hidup yang tersusun dari kegelapan yang memilih untuk setia—membungkuk satu inci, lalu lenyap. Sedetik kemudian garis pertahanan ketiga membeku di tempat, dikunci oleh bayangan yang menolak bergerak.
“Yamato. Robekannya. Aku tidak butuh kau membunuh apa pun. Aku butuh kau berdiri di koordinat yang akan kuberikan, dan menebas satu kali, di detik yang akan kuberikan.”
Pedang-yang-berwujud-manusia itu tidak menjawab. Yamato no Mikoto tidak pernah menjawab. Ia hanya bergerak, dan ketika ia bergerak, udara—jika benda itu udara—memekik.
“Seraphiel.” Álex menutup matanya. Ini bagian yang ia benci. “Aku akan memberimu jalur. Hanya satu. Kalau aku salah hitung, kau yang mati lebih dulu, lalu aku. Kau percaya padaku?”
Hening setengah detik. Setengah detik yang tidak ia punya.
“Aku menemukanmu saat kau berusia tiga tahun, Tejedor, dan benang-benangmu sudah lebih terang dari seluruh surga yang kutinggalkan.” Malaikat itu sudah mulai bergerak sebelum kalimatnya selesai. “Beri aku jalurnya.”
Álex membuka mata. Dan ia merajut.
Bukan satu benang. Bukan seribu. Ia mengambil setiap benang kausalitas di sektor 7-Gamma—setiap mungkin, setiap seharusnya, setiap kalau-saja—dan menariknya, dengan kelembutan seorang penjahit tua dan kebrutalan seorang jenderal, menuju satu-satunya simpul tempat semua benang itu bisa bertemu tanpa putus.
Kael’thas menahan delapan detik. Tepat delapan.
Orion Pax membelokkan sisa armadanya—Estrellas Silenciosas, kapal-kapal hening yang dikomandoi sebuah kecerdasan kuantum dari peradaban yang telah lama musnah dan memilih kesetiaan ketimbang kepunahan—ke koordinat yang seharusnya bunuh diri, dan justru menjadi penyelamatan.
Yamato menebas. Satu kali. Di detik yang diberikan.
Dan robekan itu, mulut Kekosongan yang sedang menelan sebuah sektor, menutup dengan suara yang lebih mirip helaan napas ketimbang ledakan.
Sunyi.
Lalu sorak—dari prajurit yang tidak akan pernah tahu betapa dekat semuanya tadi dengan kiamat, yang mengira mereka menang karena keberanian mereka sendiri. Biarlah. Itu bagian dari hadiahnya. Mereka berhak merasa berani.
Álex tidak ikut bersorak. Lututnya menyerah lebih dulu.
Seraphiel menangkapnya sebelum ia menyentuh kristal. Tubuh anak itu—karena pada akhirnya ia memang masih seorang anak, tujuh belas tahun, dari sebuah kota yang panas di tepi sungai bernama Guadalquivir—gemetar seperti kawat yang teregang terlalu jauh.
“Berapa kemungkinan yang kau lihat tadi?” tanya sang malaikat, pelan.
“Empat juta,” bisik Álex. Darah—hitam, bukan miliknya, percikan dari makhluk yang tadi terlalu dekat—menetes dari pelipisnya. “Hanya satu yang menang.”
“Dan kau menemukannya dalam sembilan detik.”
“Delapan.” Álex memejamkan mata. Kelelahan itu bukan kelelahan tubuh. Itu kelelahan yang merembes ke tempat yang lebih dalam dari tubuh, ke sesuatu yang oleh ibunya mungkin disebut jiwa dan oleh Lucía disebut anomali termodinamika yang tidak dapat dijelaskan. “Aku menyuruh Kael’thas menahan delapan. Bukan sembilan.”
Ia mengatur jadwalnya sendiri sekarang—bukan jadwal perang, melainkan jadwal yang jauh lebih menakutkan.
“Reloj de Arena,” gumamnya. “Bawa aku pulang. Hari ini Selasa. Aku ada kerja paruh waktu jam lima.”
II. Sevilla, 11:47 — Empat Jam Kemudian (atau Tiga Minggu, Tergantung Siapa yang Bertanya)
Hal pertama yang Álex dengar saat sadar adalah Doña Consuelo membantai sebuah sevillana dengan suara yang, andai dijadikan senjata, bisa dilarang oleh konvensi antar-dimensi.
“¡Y vivaaa Sevillaaa~!” lengking arwah penjahit tua itu dari sudut kamar, sumbang di setiap nada yang ada dan beberapa nada yang sebenarnya belum ditemukan manusia. “Bangun, niño. Kau tidur seperti orang yang baru kalah perang.”
Kalau saja kau tahu, pikir Álex.
Ia membuka mata. Langit-langit kamarnya yang akrab—retak kecil di pojok yang sudah tiga tahun dijanjikan Carlos akan diperbaiki—menyambutnya seperti pelukan. Ia mencoba bangun, dan seluruh tubuhnya mengajukan keberatan resmi.
Ini bagian yang tidak ditulis dalam legenda mana pun tentang El Velo Silencioso. Bahwa setelah seseorang merajut empat juta kemungkinan dan menyelamatkan sebuah sektor berisi tiga planet berpenghuni, ia akan terbangun di Sevilla dengan punggung yang terasa seperti baru ditabrak kereta kargo, leher yang menolak menengok ke kiri, dan mulut yang rasanya seperti dasar kandang grifo.
Jam di nakas menunjukkan 11:47. Ia “menghilang”—dalam catatan keluarganya—baru empat jam. Cukup untuk alasan “bantu Papá inventaris di gudang Carmona, nginap, pulang siang.” Cukup, juga, untuk membuatnya merasa berusia sembilan ratus tahun.
Inilah ekonomi rahasia hidupnya: tiga minggu di Frontera, empat jam di Bumi, dua hari pemulihan. El Reloj de Arena karya Orion Pax memang adil dalam hitungan waktu, tapi kejam dalam hitungan tubuh. Waktu boleh dipampatkan. Kelelahan tidak bisa.
“Kerah bajumu itu,” komentar Doña Consuelo, mengambang mendekat dengan tatapan kritis seorang perempuan yang menghabiskan enam dekade hidupnya menilai jahitan orang. “Ada noda. Hitam. Dan potongan jubahmu jelek sekali, niño, siapa yang menjahit ini? Tukang las?”
Álex membeku setengah detik—setengah detik yang, di Frontera, akan membunuhnya.
“Tinta,” katanya, halus, sembari menyelipkan benang kausalitas tipis ke percakapan, membuat perhatian arwah itu tergelincir mulus ke arah lain. “Tugas kaligrafi rune. Doña, menurutmu kemeja biru atau yang putih untuk kerja nanti?”
“¡El blanco, por supuesto!” serunya, persoalan noda terlupakan, beralih ke topik kesukaannya: pakaian. “Yang biru membuatmu terlihat seperti pegawai pos.”
Ia berhasil. Tentu saja. Mengalihkan arwah tua jauh lebih mudah daripada mengalihkan adiknya—dan untuk itu, ia berterima kasih kepada apa pun yang masih layak disyukuri di multiverse ini.
Lalu cermin panggil di nakasnya bergetar, memendarkan cahaya panik.
Ia melirik nama yang muncul di permukaan kaca. Teo.
Pengalaman mengajarkan Álex bahwa panggilan Teo terbagi dalam dua kategori: yang bisa menunggu, dan yang harus dijawab sebelum ada yang meledak. Berdasarkan jam—hampir tengah hari, Teo seharusnya sedang sendirian di rumah—ini kemungkinan besar kategori kedua.
Ia mengangkat.
Wajah Teo tidak muncul. Yang muncul hanya bagian dalam sesuatu yang gelap, dingin, dan—Álex menyipit—berisi sebotol mayones.
“ÁLEX.” Suara Teo terdengar aneh. Datar. Mekanis. Seperti pengumuman stasiun metro yang kehilangan harapan hidup. “DI-MO-HON. BAN-TU-AN. DI-PER-LU-KAN. SE-GE-RA.”
“…Teo. Kenapa suaramu begitu?”
“GA-FAS-KU. RU-SAK. MENG-AM-BIL-A-LIH. FUNG-SI. BI-CA-RA-KU. JU-GA—” jeda statis yang panjang dan menyiksa, “—A-KU. TER-KUN-CI. DI-DA-LAM. KUL-KAS.”
Álex menutup mata. Ia menghitung sampai tiga. Di Frontera ia bisa menghitung sampai empat juta dalam sembilan detik; di Sevilla, menghitung sampai tiga membutuhkan seluruh disiplinnya.
“Bagaimana caranya,” ucapnya pelan, “kau mengunci dirimu sendiri di dalam kulkas?”
“FRI-GO-RÍ-FI-CO-RÚ-NI-CO. AKU-MENG-O-PRE-KNYA. UN-TUK-MEM-BUAT-RUNE-PIN-TAR. LA-LU-RUNE-NYA-MENG-A-NG-GAP-A-KU. SE-BA-GAI. MA-KAN-AN.”
“Kau menyuruh kulkasmu sendiri menyimpanmu seperti sosis.”
“…SE-CA-RA-TEK-NIS. YA.”
Tiga minggu lalu—atau empat jam lalu, atau seumur hidup lalu—ia berdiri di atas bukit kristal dan memerintahkan seorang Raja Bayangan untuk membendung Kekosongan Purba. Sekarang ia harus mengeluarkan temannya dari kulkas sebelum temannya itu beku bersama mayones.
“Aku ke sana,” kata Álex. “Jangan sentuh apa pun.”
“A-KU-TI-DAK-BI-SA-MENG-GE-RAK-KAN-TA-NGAN-KU.”
“Bagus. Pertahankan.”
III. Di Jalan: Patah Hati Berkekuatan Elemental
Triana di tengah hari adalah perpaduan aroma churros, suara karpet kota yang berdesing di atas Guadalquivir, dan panas khas Andalusia yang sekarang—berkat mantra pendingin di tiap ambang pintu—berhenti sopan di garis trotoar seakan tahu diri.
Álex baru berjalan dua blok ketika ia mendengar isak tangis yang ia kenal terlalu baik, diiringi suara yang lebih mengkhawatirkan: desisan. Seperti minyak panas. Atau, dalam kasus ini, seperti seorang gadis dengan pirokinesis emosional yang sedang sangat, sangat tidak baik-baik saja.
Carmela duduk di tepi air mancur kecil, riasan matanya luntur seperti lukisan yang ketumpahan hujan, dan setiap kali ia menarik napas tersengal, percikan api kecil meletup dari ujung rambutnya dan padam di udara.
“Carmela—”
“¡MI ARMA!” Ia menubruk Álex sebelum Álex sempat memutuskan jarak aman. “Dia bohong! Diego bohong padaku!”
“Diego yang mana—”
“Diego rupturista! Yang tampan! Yang katanya menutup Brecha sendirian di Extremadura!” Sebuah lidah api kecil menjilat keluar dari kerah bajunya, dan Álex, dengan refleks seorang yang sudah terbiasa berdiri di samping kekuatan yang lebih besar dari matahari, memiringkan tubuh tiga sentimeter ke kiri. “Ternyata dia juga bilang mi arma ke tiga gadis lain! TIGA, Álex! Aku nomor empat!”
“Itu… memang jahat sekali,” kata Álex, dan ia bersungguh-sungguh. Ada banyak hal di multiverse yang lebih besar dari patah hati seorang gadis tujuh belas tahun. Tapi tidak ada satu pun dari hal-hal besar itu yang sedang menangis di bahunya, dan kebesaran sebuah penderitaan tidak pernah diukur dari skalanya. Ia tahu itu lebih baik daripada siapa pun. Ia menghabiskan separuh hidupnya menimbang triliunan jiwa, dan justru karena itu ia belajar: setiap satu jiwa, sendirian, adalah seluruh dunia.
Ia menepuk pundak Carmela. “Tarik napas. Pelan. Kalau alismu terbakar lagi, kita tidak punya waktu mampir ke toko Mamá untuk poción penumbuh rambut.”
Carmela tertawa sambil sesenggukan—setengah tawa, setengah isak—dan apinya meredup sedikit. “Alisku terbakar dua kali minggu ini.”
“Aku tahu. Aku yang membayar es krimmu kemarin untuk menutupinya.”
Dan tepat saat itu, di ruang yang lebih sunyi dari suara, sebuah suara lain masuk lewat tulangnya.
“Tejedor.” Seraphiel. Tenang, tapi Álex sudah belajar membaca ketegangan dalam ketenangan malaikat itu. “Laporan kerusakan akhir. Armada Orion kehilangan empat puluh tiga Estrella, bukan empat puluh. Kael’thas meminta izin untuk menambal robekan sekunder di 7-Delta sebelum melebar. Dan La Séptima—kursi ketujuh—berdenyut lagi. Seseorang mendekati ambangnya.”
Álex mengelus punggung Carmela dengan tangan kanan.
Dengan bagian dirinya yang lain—bagian yang tidak punya tangan, yang berbicara dalam bahasa benang dan kemungkinan—ia menjawab: Izinkan Kael’thas. 7-Delta prioritas. Suruh Orion hentikan menghitung kerugian dan mulai menghitung yang selamat; angka itu lebih berguna untuk moral. Soal kursi ketujuh— ia ragu setengah detik, —belum. Jangan dekati. Aku belum siap tahu siapa.
“Dimengerti, Tejedor.”
“Álex?” Carmela mendongak, mengusap hidungnya dengan punggung tangan. “Kau melamun. Kau juga sedih, ya? Karena Diego?”
“…Ya,” kata Álex. “Sangat. Diego adalah tragedi pribadiku.”
“KAU TIDAK KENAL DIEGO.”
“Justru itu tragedinya.”
Carmela memukul lengannya, tertawa benar-benar kali ini, apinya akhirnya padam menjadi asap tipis yang harum seperti dupa. Begitulah cara kerjanya dengan Carmela: kau tidak memadamkan apinya dengan air. Kau memadamkannya dengan tawa.
“Pergilah,” kata Álex, sambil melepaskan diri dengan lembut. “Cuci muka. Pakai mantra ilusi yang biasa. Dan kalau Diego berani menampakkan wajahnya di Feria nanti, kabari aku.”
“Kenapa? Kau mau apa? Kau bahkan tidak bisa sihir.”
Ia tersenyum. Tipis. Andalusia tulen.
“Tidak,” katanya jujur. “Tapi aku punya cara lain membuat orang menyesal.”
Carmela mengira itu lelucon. Semua orang selalu mengira itu lelucon.
IV. Rumah Teo: Pria Paling Berbahaya di Multiverse
Pintu rumah Teo tidak terkunci—Teo tidak pernah mengunci pintu, dengan teori bahwa rumahnya tidak punya apa pun yang ingin dicuri orang waras, sebuah teori yang sayangnya benar.
Álex mengikuti suara mekanis yang masih melantunkan permintaan tolong dengan nada datar, melewati ruang tamu yang dipenuhi setengah-purwarupa rune yang berkedip-kedip mencurigakan, menuju dapur.
Dan di sanalah, di dalam Frigorífico Rúnico yang pintunya menganga, di antara sebotol mayones, setengah lusin telur, dan sepotong queso manchego yang sudah mencapai tahap evolusi tersendiri—duduk Mateo “Teo” Gutiérrez, meringkuk, biru kedinginan, kacamata pintarnya berasap tipis dan berkedip merah.
“ÁLEX,” katanya, dengan nada lega yang tidak tertangkap oleh suara robotnya. “KAU. DA-TANG. STA-TIS-TIK-KE-LANG-SUNG-AN-HI-DUP-KU. ME-NING-KAT. TI-GA-RA-TUS-PER-SEN.”
Álex berdiri di depan kulkas itu, menatap temannya, dan untuk sesaat membiarkan dirinya merasakan kontras yang sempurna—kontras yang adalah seluruh hidupnya, dipadatkan ke dalam satu dapur Andalusia yang baunya tidak sedap.
Pagi ini ia memerintahkan seorang malaikat untuk membendung Kekosongan Purba.
Siang ini ia menatap temannya yang membeku bersama mayones.
Aku bisa memanggil Seraphiel untuk menghapus El Vacío dari peta realitas, pikirnya, dengan ketenangan seorang biarawan dan keputusasaan seorang kakak. Tapi entah bagaimana, teman-temankulah yang paling berbahaya.
Ia memeriksa rune di pintu kulkas. Teo, sebagai seorang jenius teori yang payah dalam praktik, selalu membangun sesuatu yang luar biasa rumit demi mencapai sesuatu yang luar biasa bodoh. Rune ini mungkin bisa menjadi makalah doktoral. Ia juga punya kesalahan paling mendasar yang bisa dibuat seseorang: simpul pembalik yang dipasang terbalik.
Álex tidak butuh sihir untuk ini. Ia hanya butuh jari.
Ia menggeser satu garis rune dengan kuku ibu jarinya. Klik.
Kulkas mendesis, kacamata Teo mati lalu menyala ulang dengan bunyi normal, dan Teo—dengan suaranya sendiri kembali, suara seorang remaja yang antusias bahkan setelah hampir menjadi tapas—berseru:
“Astaga, kau benar! Polaritasnya kebalik! Álex, kau lihat itu? Kalau aku membalik simpulnya, secara teori aku bisa membuat kulkas yang mengunci waktu, bukan cuma suhu! Bayangkan! Frigorífico yang membekukan—”
“Teo.”
“—iya?”
“Keluar dari kulkas.”
Teo memanjat keluar, menggigil, sehelai keju menempel di rambutnya seperti aksesori yang sangat buruk. Ia menatap Álex dengan kekaguman tulus yang justru membuat dada Álex sedikit sesak.
“Bagaimana kau selalu tahu cara memperbaiki semuanya?” tanya Teo, mengusap kacamatanya. “Sumpah, jefe—eh, itu panggilan Val—tapi serius. Kau tidak bisa sihir, tapi kau selalu tahu persis apa yang harus dilakukan. Seperti… seperti kau bisa melihat sesuatu yang tidak kami lihat.”
Hening.
Di dapur kecil yang bau itu, di antara mayones dan keju yang berevolusi, Álex merasakan benang kausalitas berdenyut—satu benang tipis yang menghubungkan kalimat polos Teo ke sebuah masa depan yang ia tidak ingin lihat.
Ia menariknya pelan. Mengalihkannya.
“Aku cuma sering memperbaiki barang di toko Papá,” katanya, mengambil keju dari rambut Teo dan menyerahkannya kembali dengan wajah datar. “Sekarang mandi. Kau bau seperti dasar kulkas yang menyerah pada hidup.”
Teo tertawa, dan momen itu lewat, seperti semua momen lewat ketika Álex memutuskan demikian.
V. Meja Makan: Adik yang Terlalu Pintar
Álex pulang menjelang sore, tubuhnya masih berdenyut nyeri di tempat-tempat yang tidak punya nama, pikirannya sudah setengah berada di shift jam lima di Emporio Álvarez, di mana Señor Paco kemungkinan besar sudah menunggu untuk mengeluh tentang ramuan yang tidak mempan karena ia mencampurnya dengan anggur Dwarf.
Ia membuka pintu, dan menemukan Lucía sudah duduk di meja makan.
Adiknya tidak sedang membaca tablet. Tidak sedang menggambar rune. Tidak melakukan satu pun dari seribu hal cemerlang yang biasanya menyita perhatiannya.
Lucía sedang menatapnya.
Dan Álex, yang telah menatap balik Kekosongan Purba dan tidak berkedip, merasakan sesuatu di dasar perutnya mengencang.
“Kak,” kata Lucía. Suaranya tenang. Analitis. Suara yang ia pakai di lab Señorita Valeria, bukan suara adik manja yang biasa meledeknya soal bangun kesiangan. “Tadi pagi aku mengkalibrasi ulang detektor Éter-ku. Iseng. Untuk proyek AEGD.”
“Hebat,” kata Álex, melepas jaket dengan gerakan yang ia jaga agar tetap santai, tetap biasa, tetap Álex. “Adikku jenius. Apa yang baru?”
“Aku menangkap sisa energi.” Ia tidak tersenyum. “Di kamarmu.”
Álex menggantung jaketnya di sandaran kursi. Hati-hati, agar kerahnya tidak terlihat.
“Mungkin korek api siemprevivo bocor lagi. Papá bawa sampel dari toko—”
“Bukan.” Satu kata. Final, seperti pintu yang ditutup. “Aku tahu semua tanda tangan energi yang terdaftar, Kak. Éter, Qi, Àṣẹ, Nur, semua yang ada di basis data internasional. Aku juga tahu tujuh belas anomali yang belum terklasifikasi.” Ia mencondongkan tubuh. “Yang di kamarmu bukan salah satu dari mereka. Itu bukan dari peta mana pun. Itu dari dimensi yang… tidak terpetakan. Yang seharusnya tidak ada.”
Di kepala Álex, sesuatu yang sangat mirip alarm Frontera mulai berbunyi—pelan, jauh, tapi tidak bisa diabaikan.
Ia tersenyum. Senyumnya masih terpasang dengan sempurna; ia memastikan itu. Senyum yang sama yang ia pakai untuk menenangkan Carmela, untuk meledek Teo, untuk berkata kepada gengnya biar aku saja yang maju.
“Lucía,” katanya, ringan, “kamu kebanyakan begadang.”
“Dan satu hal lagi.” Adiknya bangkit, berjalan mendekat, dan sebelum Álex sempat menjauh, jemari kecilnya yang lincah—jemari yang bisa merajut rune dalam tidurnya—menarik kerah baju di tengkuk kakaknya.
Lucía menatap noda di sana. Noda hitam. Kecil. Sudah mengering.
Ketika ia bicara lagi, suaranya turun menjadi nyaris berbisik, dan untuk pertama kalinya sejak Álex masuk, ada sesuatu di matanya yang bukan rasa ingin tahu seorang ilmuwan.
Itu kekhawatiran seorang adik.
“Itu bukan darah manusia, Kak.”
Álex tidak menjawab.
Di luar, langit Sevilla mulai berubah keemasan—swastamita yang menumpahkan tembaga ke atap-atap Triana, ke karpet-karpet kota yang melintas pulang, ke menara Giralda yang berdiri seperti penjaga tua yang sudah melihat segalanya dan memilih diam.
Di dalam, di sebuah dapur biasa milik sebuah keluarga biasa di kota yang panas, El Tejedor de la Causalidad—pemimpin tertinggi ordo paling elit yang pernah ada di seluruh multiverse, komandan tujuh jenderal abadi, satu-satunya makhluk yang bisa melihat empat juta masa depan sekaligus—berdiri membeku.
Karena ada satu masa depan yang tidak pernah bisa ia lihat. Satu benang yang selamanya gelap baginya.
Masa depannya sendiri.
Dan adiknya yang berusia lima belas tahun baru saja melangkah, tanpa peta, tanpa senjata, dengan sehelai detektor Éter buatan sendiri dan otak yang terlalu tajam untuk kebaikannya sendiri—lurus ke arah tepi sebuah jurang yang bahkan tidak ia tahu ada.
La Séptima, bisik sesuatu yang dingin di kepalanya. Kursi ketujuh berdenyut.
Álex menelan ludah, dan menjaga senyumnya tetap di tempat.
“Lucía,” katanya pelan. “Duduk. Kita perlu bicara.”
— Bersambung ke Bab 2.
