Penculikan Si Meong, Kucing Kantin
Kepanikan melanda kantin sekolah saat Bu Mimin, dengan mata sembap, mengumumkan bahwa Si Meong telah hilang. Kucing jingga gemuk yang menjadi maskot dan penghibur setia di balik meja kasir itu tak terlihat sejak kemarin sore. “Dia pasti diculik!” teriak Bu Mimin, menggenggam erat sapu tangan. “Siapa yang tega mengambil anak manisku?” Situasi ini adalah panggilan alam bagi Klub Detektif Buku Terlarang. Rafi, yang kebetulan sedang antre membeli bakso, segera mengangkat kerah trench coat imitasi-nya. “Tenang, Bu! Klub Detektif Buku Terlarang akan menangani ini. Ini jelas kasus penculikan dengan motif terselubung!”
Pertemuan darurat digelar di markas mereka—sebuah sudut terpencil perpustakaan di belakang rak ensiklopedia usang. Rafi berdiri di depan whiteboard kecil, menulis dengan spidol merah bertuliskan:“OPERASI PENYELAMATAN SI MEONG: MENCARI MOTIF, MENGUNGKAP PELAKU.”
“Pertama-tama, kita harus bertanya:Cui bono?Siapa yang diuntungkan?” Rafi memulai, menirukan gaya Poirot. “Penghilangan Si Meong pasti memiliki motif. Bukan sekadar iseng.”
Zaki, dengan buku catatan tebal berjudulKatalog Motif Kejahatan dalam Fiksi Detektifterbuka di pangkuannya, langsung menyela. “Berdasarkan referensi, ada beberapa kemungkinan. Pertama,Motif Balas Dendam. Si Meong adalah simbol kebahagiaan Bu Mimin. Menghilangkannya adalah serangan psikologis terhadap Bu Mimin.” Dia membalik halaman. “Kedua,Motif Ekonomi. Mungkin ada permintaan tebusan. Atau,” matanya berbinar, “ini adalah bagian dari persaingan bisnis yang kejam! Ingat kasus di mangaDetektif Kindaichidi mana toko kue saingan mencuri kucing untuk mengalihkan perhatian?”
Bima mendengus, membersihkan kacamatanya dengan ujung jas lab putihnya yang sudah kusam. “Atau, kemungkinan ketiga:Motif Non-Eksisten. Si Meong mungkin hanya pergi jalan-jalan. Kucing itu sering berkeliaran.”
“Bima! Jangan merusak atmosfer investigasi dengan logika membosankanmu!” tegur Rafi. “Kita butuh daftar tersangka. Dion, kamu punya intel?”
Dion, yang sedang asyik memeriksastoryInstagram separuh sekolah, mengangguk. “Aku sudah menyusun profil. Bu Mimin punya beberapa ‘musuh’ potensial. Ada Rizal dari kelas XII IPA, yang minggu lalu dimarahi habis-habisan karena mencoba menukar voucher bakso palsu. Ada juga Ibu Sari, pemilik warung nasi goreng di seberang jalan, yang mungkin iri dengan ramainya kantin kita karena Si Meong. Terakhir,” Dion menurunkan suaranya, “ada kabar burung tentang ‘Sindikat Penculik Kucing’ yang aktif di kompleks perumahan sebelah. Mereka menculik kucing untuk… untuk dijual sebagai peliharaan mewah!”
“SINDIKAT!” Rafi berteriak, hampir menjatuhkan whiteboard. “Ini lebih besar dari yang kita kira! Kita berhadapan dengan organisasi kriminal yang terstruktur!”
Aji menghela napas panjang, memijat pelipisnya. “Atau, kita berhadapan dengan seekor kucing yang lagi pengen keluyuran. Tapi terserah kalian. Aku cuma janjiin Bu Mimin bantu cari.”
Rencana investigasi pun disusun dengan gegap gempita, mengabaikan sepenuhnya suara hati nalar Aji.
Operasi Interogasidimulai. Rafi dan Zaki mendatangi Rizal, yang sedang bermain bola di lapangan. Dengan gaya menghakimi, Rafi melontarkan pertanyaan. “Rizal! Di mana kamu kemarin sore antara pukul 16.00 hingga 17.00? Apakah kamu menyimpan dendam terhadap Bu Mimin hingga tega menyentuh Si Meong yang tak berdosa?”
Rizal hanya melongo, bola di kakinya terlepas. “Apa? Si Meong hilang? Ya ampun… Aku cuma malu sama Bu Mimin, masak sampe culik kucing? Lagian aku alergi bulu kucing, Dek.” Jawaban yang masuk akal dan disertai bersin-bersin membuat Rafi sedikit kecewa.
Sementara itu,Operasi Penyamaran dan IntelDion berjalan… tidak sesuai rencana. Untuk memata-matai warung Ibu Sari, Dion menyamar sebagai “reviewer makanan misterius” dengan kumis palsu dan topi fedora. Sayangnya, kumisnya terleleh karena keringat dan menempel di bibirnya saat dia memesan nasi goreng, dan logat “asing” yang dia buat-buat terdengar seperti orang sakit tenggorokan. Ibu Sari justru kasihan dan memberinya ekstra telor. Dion pulang dengan perut kenyang dan informasi nol, kecuali fakta bahwa nasi goreng Ibu Sari memang enak.
Di sisi lain,Operasi ForensikBima menemui jalan buntu yang memalukan. Di “TKP” – yaitu area sekitar kantin – Bima menemukan beberapa helai bulu oranye di semak. Dengan penuh kewibawaan, dia mengeluarkan kit investigasinya: lup mainan, tongkat, dan kantong plastik klip. “Ini mungkin bulu Si Meong yang tertinggal saat dia dibawa paksa. Aku akan menganalisisnya.” Yang dia lakukan kemudian adalah membandingkan bulu itu dengan foto Si Meong di ponsel Dion. “Warnanya mirip… teksturnya… sulit dikatakan.” Karena tidak ada laboratorium DNA portabel, analisisnya berakhir dengan kesimpulan: “Yakin ini bulu kucing. Mungkin Si Meong.” Lalu, tanpa sengaja, sehelai bulu itu menempel di bubur ayam yang baru dibelinya. Bima mengangkat bahu. “Sampel terkontaminasi. Percobaan gagal.”
Ketika semua jalur investigasi seolah menguap,ancaman tebusantiba. Sebuah pesan anonim masuk ke akunfanpagefiktif klub yang dibuat Dion:“Kami memegang Si Meong. Siapkan uang 500 ribu di tempat sampah belakang lapangan basket. Jangan libatkan polisi atau kucing ini akan menjadi sate.”
Klub pun gempar. “Aku tahu! Motif ekonomi!” seru Zaki. Rafi tampak puas sekaligus tegang. “Ini saatnya kita beraksi. Kita akan menyergap penukar tebusan!”
Malam itu, dengan jantung berdebar-debar, mereka bersembunyi di balik pepohonan dekat tempat sampah yang ditentukan. Aji memegang kantong berisi uang kertas mainan (ide Zaki, karena “uang palsu adalah umpan klasik dalamLupin III”). Dion mengintai dengan teropong mainan. Suasana sunyi dan mencekam.
Tepat pukul sembilan, sebuah bayangan mendekat. Sosoknya pendek, berkerudung. Rafi memberi isyarat. “Dia… dia sendirian. Siap-siap!”
Saat sosok itu membungkuk untuk mengambil kantong, Rafi meneriakkan, “Sekarang!” Kelima sekawan melompat keluar dari persembunyian, dengan Rafi berteriak, “Berhenti di nama hukum! Kamu tertangkap basah!”
Sosok itu terkejut, berbalik, dan kerudungnya terbuka. Cahaya lampu jalan menyinari wajah… Aldo, siswa kelas XI yang pendiam, dengan ekspresi ketakutan dan kebingungan yang luar biasa. Di tangannya tidak ada kucing, hanya sebuah buku puisi.
“A-Apa? Kamu-kalian mau apa?” gagap Aldo.
“Di mana Si Meong?” geram Rafi.
“Siapa? Aku cuma… disuruh temenku ambil buku puisi yang dia sembunyi di sini. Katanya buat lomba puisi besok. Dia bilang taruh duit 50 ribu buat jaminan, tapi kok isinya uang mainan?”
Silence yang memalukan menyelimuti mereka. Angin malam berbisik, seolah menertawakan kekonyolan mereka. Tidak ada sindikat. Tidak ada penculik. Hanya salah paham yang sangat, sangat bodoh.
Rafi, dengan wajah memerah, perlahan menurunkan tangan yang tadinya menunjuk dramatis. “Kita… kita mungkin perlu mengevaluasi kembali interpretasi kita terhadap pesan tebusan itu.”
Kembali ke markas dengan kegagalan total, suasana klub suram. Mereka telah menghabiskan sehari penuh, menuduh orang yang salah, dan hampir menangkap siswa yang tidak bersalah karena urusan buku puisi. Kasus Si Meong masih gelap. Motif-motif megah yang mereka susun berantakan di hadapan realita yang mengejek. Satu-satunya hal yang mereka dapatkan adalah keyakinan Bu Mimin yang mulai memudar dan rasa lelah yang mendalam. Petualangan mereka yang penuh teori itu sekali lagi terbentur pada dinding realitas yang ternyata… mungkin, hanya tentang seekor kucing yang sedang ingin berjalan-jalan. Tapi tentu saja, mereka belum menyerah. Masih ada satu jalur tersangka yang belum mereka jelajahi: sindikat imajiner itu. Atau, mungkin, untuk pertama kalinya, mereka harus mendengarkan usul Aji yang sederhana: “Coba kita cari di sekitar kompleks perumahan sebelah, siapa tahu dia lagi main.”
Kegagalan total operasi “penyelamatan dengan tebusan” meninggalkan suasana muram di markas Klub Detektif Buku Terlarang, yang saat itu sedang berkumpul di sudut perpustakaan usai pulang sekolah. Rafi, dengan trench coat-nya yang terkulai lesu, memandangi uang tiga puluh ribu rupiah yang terkumpul—sisa dari iuran darurat mereka. “Ini adalah kekalahan telak bagi keadilan,” gumamnya dramatis, meniru nada seorang detektif yang kehilangan kasus besarnya. Bima mendengus sambil membersihkan lup mainannya dengan ujung kaos. “Kekalahan? Ini lebih tepat disebut kebodohan kolektif. Kita hampir memberikan uang jajan kita kepada angin.” Dion, yang masih memakai kacamata hitam bekas penyamarannya, mengangguk lesu. “Intel saya gagal. Tidak ada jejak ‘Pak Topi’ di mana pun. Mungkin dia benar-benar hantu.” Hanya Aji yang terlihat lega, meski sedikit kesal. “Sudah kubilang dari tadi, ini ide gila. Untung kita tidak jadi ketemu orang aneh. Sekarang gimana? Laporkan ke Bu Mimin kalau kita gagal?”
Zaki, yang selama satu jam terakhir menyendiri dengan buku catatan tebalnya, tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya berbinar di balik kacamatanya. “Tunggu. Ada yang mengganjal.” Semua mata tertuju padanya. “Kita sudah memeriksa semua motif manusia: balas dendam, persaingan bisnis, bahkan tebusan. Tapi kita lupa memeriksa satu kemungkinan paling dasar dalam setiap cerita detektif tentang hewan peliharaan yang hilang.” Rafi menyipitkan mata. “Apa itu?” “Motif alamiah,” kata Zaki dengan suara berwibawa. “DalamThe Adventure of the Missing Bloodhoundkarya Sir Arthur Conan… eh, maksudku, dalam banyak kasus fiksi, hewan yang hilang seringkali bukan diculik, tapi mengikuti nalurinya sendiri. Kawin, berburu, atau sekadar menjelajah.”
Bima mengernyit. “Kau punya data untuk mendukung teori ‘naluri kucing’ itu, Zaki?” “Tentu!” Zaki membuka buku catatannya. “Catatan saya menunjukkan Si Meong adalah kucing betina yang belum dikebiri. Berdasarkan siklus biologis kucing dan peta wilayah sekitar sekolah…” Dia mulai menggambar diagram sederhana di udara. “Ada kemungkinan non-negligible bahwa dia pergi mencari pasangan. Kompleks perumahan di sebelah timur sekolah memiliki populasi kucing liar yang cukup signifikan.” Dion mencoba mengikuti. “Jadi… Si Meong bukan diculik, tapi… pacaran?” “Dalam istilah biologis, ya,” sahut Bima, tiba-tiba tertarik. “Itu masuk akal. Jika itu penyebabnya, dia akan kembali sendiri setelah beberapa hari, setelah… urusannya selesai.” Rafi terlihat tersinggung. “Jadi selama ini kita berburu penculik, menyusun daftar tersangka, hampir membayar tebusan… untuk sebuah… kencan kucing?” Suaranya naik satu oktaf. “Tidak! Itu terlalu sederhana! Tidak dramatis! Kasus detektif sejati harus memiliki kejahatan, motif, dan pelaku!”
Perdebatan pun pecah. Rafi bersikukuh pada teori konspirasinya, sementara Zaki dan Bima mulai yakin dengan penjelasan ilmiah-sederhana. Aji hanya menghela napas. “Yang penting Si Meong kembali, kan? Daripada berdebat, mending kita cari tahu beneran.” “Bagaimana caranya?” tanya Dion. “Tanya saja pada kucing-kucing lain!” seru Aji, setengah bercanda. Tapi kalimat itu justru menyulut ide di benak Bima. “Itu… bukan ide yang buruk. Kita bisa melakukan observasi lapangan. Memeriksa wilayah yang Zaki sebutkan, mencari tanda-tanda keberadaan Si Meong atau… aktivitas kucing lainnya.” Akhirnya, dengan setengah hati, Rafi setuju. “Baiklah! Ini akan menjadi operasi pengintaian terakhir. Jika tidak ditemukan bukti, maka… maka aku akan mengakui kekalahan teori penculikan.” Operasi pun dimulai. Kali ini, tanpa kostum aneh atau rencana rumit. Mereka hanya berjalan mengitari pagar belakang sekolah yang berbatasan dengan kompleks perumahan. Dion bertugas sebagai pengintai, memanfaatkan kemampuannya bergaul. Hanya dalam waktu setengah jam, dia kembali dengan informasi dari beberapa anak kecil yang sedang bermain. “Katanya, beberapa hari ini ada kucing belang tiga yang mirip Si Meong sering nongkrong di dekat sampah belakang rumah Pak RT, sama seekor kucing jantan orange gede.”
Harapan mulai tumbuh. Mereka menyusup (dengan agak canggung) ke dalam kompleks dan, setelah beberapa kali tersesat di lorong yang mirip, akhirnya menemukan lokasinya. Dan di sana, duduk dengan tenang di atas pagar rendah, sedang menjilati bulu dada yang berantakan, adalah Si Meong. Dia terlihat gemuk sedikit, puas, dan sama sekali tidak seperti korban penculikan. Di dekatnya, seekor kucing jantan orange besar sedang tertidur pulas. “Bukti… yang tak terbantahkan,” bisik Zaki dengan kemenangan. Bima mengangguk, berusaha menahan senyum. “Kondisinya baik. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Hanya… tampak lelah.” Rafi melotot. Trench coat-nya seakan kehilangan aura. “Jadi… ini akhirnya. Kasus penculikan berencana… ternyata hanya… urusan percintaan.” Suaranya lirih, hancur. Dion memotret adegan itu dengan ponselnya sebagai bukti. “Yang penting ketemu, Raf. Nggak perlu malu.” Aji, yang paling lega, langsung mendekat dan mengulurkan tangan. “Meong… sini sayang. Pulang yuk, Bu Mimin kangen.”
Proses “repatriasi” Si Meong berjalan lancar. Kucing itu, mungkin sudah rindu dengan suguhan ikan asin Bu Mimin, dengan patuh mengikuti Aji. Klub Detektif Buku Terlarang kembali ke kantin dengan kepala sedikit tertunduk, tetapi membawa “barang bukti” hidup yang sehat walafiat. Ekspresi Bu Mimin berubah dari cemas menjadi lega, lalu terharu, saat melihat Si Meong. “Alhamdulillah! Kemana saja kau, Manis?” Dia mengelus-elus kepala kucing itu. Saat ditanya bagaimana mereka menemukannya, kelima anggota klub saling pandang. “Kami… melakukan penyelidikan menyeluruh, Bu,” kata Rafi, berusaha menyelamatkan sisa-sisa kredibilitas. “Dan menemukan bahwa… eh… Si Meong sedang menjalankan misi rahasia di wilayah tetangga. Sekarang misinya sudah selesai.” Bu Mimin hanya tersenyum, tidak terlalu paham, tetapi sangat bersyukur. Sebagai hadiah, dia memberikan mereka lima porsi bakso gratis—kemenangan yang jauh lebih nyata daripada memecahkan kasus fiktif.
Di markas mereka setelahnya, sambil menikmati bakso, refleksi pun dimulai. “Kita konyol,” akhinya Bima, menyeruput kuah. “Membuat skenario rumit untuk sesuatu yang sederhana.” “Tapi seru, kan?” sahut Dion, mencabik cabai. “Walaupun salah, kita jadi tahu banyak gossip sekolah.” Zaki mengangguk. “Ini pelajaran berharga. Tidak semua misteri adalah kejahatan. Kadang, seperti dalamThe Curious Incident of the Dog in the Night-Time… eh, maksudku, kadang solusinya biasa saja.” Rafi, setelah diam lama, akhirnya menghela napas. “Mungkin… mungkin kalian benar. Seorang detektif agung harus bisa membedakan antara kasus kriminal sejati dan… urusan hati seekor kucing.” Aji menepuk punggung Rafi. “Sudah, Raf. Yang penting kita bantu Bu Mimin dan Si Meong kembali. Nggak perlu jadi pahlawan kayak di komik tiap hari.” Mereka tertawa. Kegagalan kali ini tidak terasa pahit. Justru, ada kehangatan dan kelucuan yang mengikat mereka. Kasus “penculikan” Si Meong berakhir bukan dengan penangkapan atau keadilan dramatis, tetapi dengan bakso gratis, pelajaran tentang kesederhanaan, dan sebuah pengakuan: di dunia nyata, solusi terkadang datang dari hal yang paling tidak diduga—dan paling konyol. Dan esok hari, pastilah ada “misteri” baru menunggu untuk diselesaikan dengan cara mereka yang berantakan, namun selalu bersama.
