Klub Detektif Buku Terlarang

Kasus Hantu Toilet Lantai Tiga

Rumor tentang hantu toilet lantai tiga sudah menyebar bak virus di sekolah. Kisahnya selalu sama: suara tangisan perempuan di balik pintu bilik ketiga, keran air yang menyala sendiri di tengah malam, dan pintu yang terkunci dengan sendirinya, menjebak siapa pun yang berani masuk. Bagi Rafi, ini bukan sekadar cerita hantu—ini adalah kasus pertama mereka yang berbau supernatural, dan kesempatan emas untuk menerapkan metode deduktif ala Sherlock Holmes dalam lingkungan yang “terkontaminasi aktivitas paranormal”. “Ini bukan hantu biasa,” ujarnya dengan mata berbinar saat rapat darurat di sudut perpustakaan, trench coat-nya yang terlalu besar terkulai di lantai. “Ini adalah fenomena residual, jejak memori psikis yang terperangkap di lokasi tragedi! Kita harus mengadakan begadang investigasi!”

Persiapan mereka lebih mirip persiapan camping anak SD yang ketakutan ketimbang operasi detektif profesional. Bima, dengan logikanya, menyusun “kit investigasi paranormal” yang isinya campur aduk: senter kuat, termometer digital (“untuk mendeteksi titik dingin,” katanya), recorder suara ponsel lama, dan sebungkus kapur barus (“katanya hantu tidak suka baunya”). Zaki, sibuk bolak-balik ke rak buku, kembali dengan tumpukan mangaKindaichi Case Filesdan novelThe Haunting of Hill House. “Berdasarkan statistik di fiksi,” serunya, “92% kasus hantu di toilet sekolah melibatkan kisah cinta yang berakhir tragis! Kita harus mencari korban perundungan atau patah hati di tahun-tahun sebelumnya!” Dion, yang ditugaskan mengumpulkan intel, melaporkan dengan suara berbisik dramatis bahwa penjaga malam sekolah, Pak Soleh, sering mendengar suara itu tapi tidak pernah berani memeriksa. “Dia bilang, suaranya… seperti orang tercekik,” bisik Dion, membuat Aji yang hanya ingin tidur nyenyak di rumah merinding.

Malam pun tiba. Sekolah yang biasanya ramai kini sunyi dan gelap, hanya diterangi lampu jalan yang samar-samar. Suasana “heroik” yang dibayangkan Rafi langsung menguap digantikan oleh kegelisahan murni. Bahkan Bima, yang tadi siang dengan percaya diri menjabarkan teori gelombang suara infrasonik, kini menggenggam senter dengan erat, matanya melirik ke setiap bayangan. Mereka berjalan berbaris seperti konvoi kecil, dengan Rafi di depan mencoba tampak gagah dan Aji di belakang menggerutu, “Aku ikut cuma karena janji kalian ada martabak setelah ini.”

Toilet lantai tiga terlihat lebih menyeramkan dalam kegelapan. Cat hijau muda yang kusam tampak keabu-abuan, dan bau disinfektan bercampur dengan sesuatu yang lembap. Rafi, mencoba mengambil alih kendali, membagi tugas. “Bima, pasang perangkap suara di dekat keran. Zaki, periksa simbol atau coretan aneh di dinding—bisa jadi petunjuk. Dion, jaga pintu masuk dan laporkan aktivitas mencurigakan. Aji… Aji, kamu temani aku periksa bilik nomor tiga.” Aji menghela napas. “Bilik nomor tiga. Tentu saja.”

Kekacauan dimulai ketika Dion, yang berdiri di dekat pintu, tiba-tiba berteriak lirih, “Ada yang bergerak di ujung koridor!” Semua orang melompat. Senter-senter berayun liar, menari-nari di dinding seperti sinyal distress. Rafi, dengan jantung berdebar kencang, berseru, “Itu dia! Hantunya! Kejar!” Mereka berlari—atau lebih tepatnya, terhuyung-huyung dalam kepanikan—menuju ujung koridor yang gelap.

Saat senter Bima menyinari sosok itu, terungkaplah “hantu” yang membuat mereka ketakutan setengah mati: Pak Soleh, penjaga sekolah, dengan wajah mengantuk dan membawa tongkat pemukul karet, tengah melakukan ronda. “Kalian-kalian ini lagi ngapain di sini?!” hardiknya. Setelah berbelit-belit menjelaskan tentang “proyek penelitian fenomena akustik” ala Bima, mereka akhirnya diizinkan tetap di sana dengan peringatan keras. Muka mereka memerah karena malu. “Operasi penyamaran kita hampir hancur karena salah tangkap,” keluh Dion.

Kembali ke toilet, suasana makin mencekam. Mereka memutuskan masuk ke dalam untuk investigasi lebih lanjut. Saat Zaki mendorong pintu bilik nomor tiga—sumber semua rumor—sebuah lengkingan logam yang nyaring memecah kesunyian.Krak!Pintu bilik itu terbuka, tapi pintu utama toilet di belakang mereka justru tertutup dengan keras. Aji yang paling dekat segera mencoba membukanya. Gagangnya bergoyang, tapi pintu tidak bergeming. “Terkunci,” gumamnya, suaranya datar namun mengandung nada panik yang mulai menggelembung. “Kita terkunci di dalam.”

Kepanikan melanda. Rafi berteriak, “Ini jebakan! Hantunya menjebak kita!” Bima berlari ke wastafel dan mencoba semua keran. Salah satunya, keran yang longgar, tiba-tiba menyemburkan air dengan suara desis keras yang terdengar seperti jeritan di keheningan malam. “Suara tangisan!” teriak Zaki, menjatuhkan tumpukan manga yang dibawanya. Dion mencoba menelepon keluar, tapi sinyal hilang. “Dead zone! Seperti di film horor!”

Di tengah hiruk-pikuk itu, Bima berusaha tetap tenang. Dengan senter di mulutnya, dia memeriksa gembok pintu utama. “Ini bukan terkunci oleh hantu,” katanya, suaranya terdengar jelas di antara teriakan yang lain. “Gemboknya karatan parah dan mekanismenya macet. Ini masalah mekanis, bukan supernatural.”

Sementara itu, Rafi yang mendekat ke ventilasi tinggi di dinding, merasakan hembusan angin dingin yang kuat. “Ada angin dari sini!” Angin itu, saat melewati celah-celah besi ventilasi yang bengkok dan berkarat, menciptakan suara melengking, berayun-ayun antara nada tinggi dan rendah.“Uuuuuu… eeeeek…”Suara itu persis seperti tangisan yang digambarkan dalam rumor.

Secara perlahan, seperti kabut yang tersapu angin, ketakutan mereka mulai mencair. Mereka bukan terjebak oleh arwah penasaran, tapi oleh kombinasi kebetulan yang konyol: gembok tua yang rusak dan angin malam yang berisik. Aji, dengan tenaga yang selama ini dipendam karena ketakutan, akhirnya mendorong pintu dengan bahunya.

Dengan suara berderit yang memekakkan telinga, gembok yang karatan itu akhirnya menyerah. Pintu terbuka. Udara koridor yang segar—relatif—menyambut mereka. Mereka keluar dengan tubuh lemas, bukan karena dikejar hantu, tapi karena lelah dan malu. Misteri hantu toilet lantai tiga, yang telah membuat mereka begadang dan diliputi ketakutan, mulai menunjukkan wajah aslinya yang sangat tidak spektakuler.

Kepanikan di dalam toilet lantai tiga mencapai puncaknya ketika lampu neon di plafon berkedip sekali lagi, disusul oleh suara lengkingan yang lebih keras dari sebelumnya. Aji, yang sudah bersiap memukul dengan sapu, malah menjatuhkan gagangnya sendiri ke kaki Dion. “Aduh! Targetnya salah, Aim!” teriak Dion sambil melompat kesakitan. Rafi, dengan sisa-sisa kewibawaannya, berteriak, “Tenang! Ini pasti triknya si hantu untuk mengacaukan konsentrasi kita!” Zaki, wajahnya pucat pasi, berpegangan erat pada buku catatannya yang berisi ringkasan kasus hantu dari mangaKindaichi, berbisik lirih, “Di volume 27, hantu sekolah selalu muncul setelah suara ketukan tiga kali… tadi sudah berapa kali?”

Bima, satu-satunya yang masih mencoba berpikir jernih meski jantungnya berdebar kencang, mengamati sekeliling dengan lup mainannya. Matanya tertuju pada kisi-kisi ventilasi di dekat langit-langit. Saat suara lengkingan berikutnya terdengar, dia melihat selembar daun kering tersangkut di jeruji besi itu dan bergetar hebat. “Tunggu,” katanya, suaranya mencoba menembus hiruk-pikuk. “Itu suaranya… datangnya dari ventilasi.”

Dengan susah payah—karena Aji masih mengusap kaki Dion yang kesakitan dan Rafi bersikeras memeriksa “jejak ectoplasma”—Bima berhasil menarik perhatian mereka. Dia meminta Aji mengangkatnya ke bahunya (protes Aji bahwa ini bukan latihan angkat besi diabaikan) untuk melihat lebih dekat ke ventilasi. Dari ketinggian, Bima bisa melihat bahwa kisi-kisi ventilasi itu longgar di satu sisi, dan celah di dinding di belakangnya cukup besar. “Ventilasinya rusak,” serunya, suara sedikit teredam oleh posisinya. “Ada angin kencang yang masuk dari luar, melewati celah ini, dan….” Dia mengeluarkan senter dari saku dan menyorotnya.

Sorotan cahaya menangkap debu dan partikel kecil beterbangan dengan pola tertentu di aliran udara. “Dan saat angin melewati bibir celah yang tajam ini, dia menciptakan suara bernada tinggi—seperti meniup mulut botol!” Penjelasan ilmiah dadakan itu disambut dengan keheningan yang terdengar lebih menyeramkan daripada suara hantu tadi. Zaki adalah yang pertama memecah kesunyian. “Jadi… bukan hantu perempuan menangis?” tanyanya, terdengar sedikit kecewa. “Bukan,” jawab Bima turun dari bahu Aji dengan gerakan kikuk. “Ini cuma fisika fluida yang sederhana, atau lebih tepatnya, arsitektur yang buruk.”

Namun, misteri belum sepenuhnya terpecahkan. Masih ada masalah pintu yang terkunci sendiri. Rafi, yang merasa kesempatannya untuk bersinar sebagai detektif agung mulai memudar, cepat-cepat mengalihkan fokus. “Bagus, Bima! Kamu telah memecahkan bagian pertama dari teka-teki iblis ini! Tapi ingat, dalam kasusThe Hound of the Baskervilles, penjelasan ilmiah seringkali hanya untuk menutupi kejahatan yang lebih gelap!” Dia berjalan mendekati pintu toilet, memeriksanya dengan gaya seorang inspektur. “Pintu ini… mengapa dia mengurung kita?” Dion, yang masih mengusap kakinya, menyela, “Karena kita panik dan mendorongnya terlalu kencang pas mau lari tadi?” Rafi mengabaikannya.

Dia mencoba memutar handle pintu. Tidak bergerak. Dia mendorongnya. Kokoh. “Terkunci dari dalam,” gumamnya, “tapi kita tidak menguncinya.” Bima mendekat dan mengamati gembok geser tua yang dipasang di pintu. Itu adalah jenis gembok besi sederhana dengan mekanisme pegas yang sudah karatan. Dia mengambil pensil dari kit investigasinya dan menyodok bagian mekanisme itu dengan hati-hati. “Karat,” simpulnya. “Pegasnya sudah lemah dan penuh karat. Saat pintu ditutup dengan agak keras—seperti tadi saat kita semua panik—gembok ini bisa saja tergelincir dan mengunci secara otomatis karena gesekan dan beratnya sendiri. Bukan ilmu gaib, cuma logam yang teroksidasi.”

Penjelasan Bima yang masuk akal itu seperti menuangkan air dingin ke atas kepala mereka yang panas karena adrenalin. Suasana horor yang sempat menyelimuti ruangan itu langsung menguap, digantikan oleh rasa malu dan lelah yang mendalam. Zaki menutup buku catatannya dengan lembut. “Jadi… tidak ada hantu. Tidak ada pembunuhan yang tertutupi. Tidak ada kutukan toilet.” Rafi menghela napas panjang, melepas trench coat-nya yang sudah berkeringat. “Tampaknya… deduksi logika Bima kali ini terbukti benar.” Pengakuan itu seperti mengeluarkan tenaga terakhirnya.

Aji, yang sejak tadi paling ingin keluar, akhirnya bisa bertindak. “Oke, kalau gitu masalahnya sederhana. Gemboknya macet. Ventilasinya bocor. Sekarang, bagaimana caranya kita keluar dari sini?” Pertanyaan praktis itu mengembalikan mereka ke realita. Setelah sepuluh menit mencoba membuka gembok dengan berbagai alat dari kit Bima (termasuk penggaris dan penjepit kertas yang bengkok), dan setelah Rafi hampir memutuskan untuk mendobrak pintu dengan “serangan deduktif” (yang diartikan Aji sebagai bahu yang dihantamkan), mereka akhirnya berhasil.

Dion, dengan kelincahan alaminya, berhasil mengaitkan kawat dari jepit rambutnya (sisa dari penyamaran yang gagal) ke celah sempit di sisi gembok dan mendorong mekanisme penguncinya.Klik. Pintu terbuka dengan suara berderit yang memuaskan.

Mereka keluar ke koridor yang sepi dan gelap dengan perasaan campur aduk: lega, capai, dan sedikit bodoh. Perjalanan pulang dari lantai tiga terasa sangat panjang. Saat melewati pos penjaga, Pak Warsim, penjaga sekolah tua yang mereka kira sebagai hantu tadi, terbangun dari tidur ringannya. “Lho, kalian masih di sini? Ada apa?” tanyanya dengan suara serak. Kelima sekawan saling pandang. Rafi, dengan sisa gengsinya, berusaha menyusun cerita. “Kami… eh… sedang melakukan… patroli kemananan sukarela. Memeriksa kebocoran.” Pak Warsim mengerutkan kening, lalu melihat ke arah Bima yang masih memegang lup mainan dan Zaki yang memeluk buku catatan erat-erat. “Ooh… kalian itu klub detektif kecil-kecilan ya? Dengar-dengar dari Bu Wijaya.” Dia mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Lantai tiga? Toiletnya? Iya, itu ventilasinya rusak dari kemarin. Sudah lapor ke tukang. Gemboknya juga sering macet, harus diganti itu.” Informasi yang datang terlalu tepat dan sederhana itu membuat mereka terdiam. Semua teori, ketakutan, dan penyelidikan malam mereka intinya sudah diketahui—dan akan diperbaiki—oleh penjaga sekolah. “Terima kasih, Pak,” ucap Aji akhirnya, mewakili mereka semua, sambil menyeret Rafi yang terlihat ingin bertanya lebih lanjut tentang “polanya”.

Keesokan harinya di markas mereka—sebuah sudut tersembunyi di perpustakaan dekat rak buku fiksi kriminal—suasana agak canggung. Rafi mencoba memimpin debriefing. “Tim, meskipun hasilnya… tidak sesukses yang diharapkan, kita telah berhasil mengungkap kebenaran di balik mitos Toilet Hantu Lantai Tiga! Kita telah membawa pencerahan!” Dion mengunyah keripiknya. “Kita juga berhasil mengurung diri sendiri dan hampir membuat Pak Warsim kena serangan jantung.” Zaki menambahkan, sambil membuka manga terbaru, “Dan ternyata, kasusnya tidak serumitFile of Young Kindaichisama sekali. Cuma fisika dan karat.” Bima, yang sedang menulis laporan investigasi dengan gaya forensik (dan banyak coretan), mendongak. “Tapi kitatelahmemecahkannya. Dengan observasi dan logika. Mungkin tidak dramatis, tapi itu fakta. Dan dalam deteksi nyata, fakta seringkali membosankan.” Aji, yang sedang meregangkan ototnya, menyimpulkan dengan bijak, “Yang penting kita selamat, tidak ada yang terluka parah—kecuali kaki Dion—dan toiletnya nanti akan diperbaiki. Kasus selesai.” Rafi akhirnya tersenyum, sedikit lega. “Benar! Dan ini membuktikan bahwa Klub Detektif Buku Terlarang bisa menghadapi teror sekalipun—meski terornya cuma angin dan besi berkarat!” Mereka semua tertawa, kekakuan mencair. Misteri itu mungkin biasa saja, tetapi petualangan malam itu, ketakutan yang mereka bagi, dan solusi yang mereka temukan bersama, terasa tidak biasa bagi mereka. Seperti biasa, hidup ternyata lebih lucu—dan lebih sederhana—daripada plot novel mana pun.

Tinggalkan komentar