Klub Detektif Buku Terlarang

Kasus Guru Baru yang Terlalu Sempurna

Matahari Senin pagi menyinari halaman sekolah dengan ramah, tetapi tidak bagi Zaki. Wajahnya berkerut dalam konsentrasi yang dalam, tatapannya menembus ruang kosong di perpustakaan seolah sedang memecahkan kode Enigma. “Ini terlalu sempurna,” gumamnya tiba-tiba, memecah keheningan yang hanya diisi suara gesekan halaman buku Bima. Rafi yang sedang memoles kancing trench coat-nya yang imitasi langsung menoleh. “Apa yang terlalu sempurna, Arsiparis? Apakah kamu menemukan pola dalam pencurian kue Oyen yang kita lewatkan?” tanyanya dengan nada sang detektif agung. Bima menghela napas, sedangkan Aji hanya mengunyah keripiknya dengan acuh.

“Bukan,” sahut Zaki, menutup buku catatannya dengan dramatis. “Ini tentang Pak Gilang. Guru baru Matematika itu.” Dion yang sedang memeriksa feed media sosialnya mengangkat alis. “Yang ganteng, ramah, dan nilainya bagus-bagus itu? Memangnya kenapa? Aku dengar dia populer di kalangan siswi.” “Itulah masalahnya!” seru Zaki, bangkit dari kursinya. “Pria tampan, pintar, selalu tersenyum, siap membantu siapa pun… Bukankah itu deskripsi khas untuk antagonis terselubung di volume ketigaDetektif Kindaichiatau musuh bebuyutan Conan? Karakter yang terlalu baik untuk menjadi nyata selalu menyembunyikan sesuatu.” Rafi mengangguk-angguk pelan, matanya berbinar. “Sebuah hipotesis yang menarik… Sangat mungkin! Mungkin dia adalah mata-mata dari sekolah saingan yang menyusup untuk mencuri soal ujian nasional kita! Atau penipu ulung yang sedang menghindari Interpol!” Aji menggeleng. “Atau mungkin dia cuma guru yang baik, kalian tahu?”

Tapi benih kecurigaan telah tertanam. Bima, meski skeptis, tertarik pada aspek “penyelidikan” terhadap seorang manusia. “Jika kita ingin menguji hipotesis ini, kita butuh data observasi, bukan sekadar teori fiksi,” ujarnya, mengeluarkan notes kecil. Dion menyeringai. “Pengintaian? Aku ahli dalam hal itu. Aku punya jaringan yang bisa memberi tahu jadwalnya.” Dan begitulah, tanpa persetujuan yang sepenuhnya rasional, “Operasi Sempurna Palsu” dimulai. Mereka membagi tugas berdasarkan “keahlian” mereka yang diragukan. Dion bertugas mengumpulkan intel dari teman-teman sekelas Pak Gilang dan mengamati rutinitasnya. Hasilnya? “Dia selalu pulang tepat waktu, mobilnya bersih, dan sering terlihat membawa tas besar ke mobilnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan!” lapor Dion dengan penuh semangat. Zaki langsung menghubungkannya dengan teori “barang bukti” atau “harta curian”.

Rafi, dengan trench coat-nya yang semakin tidak pada tempatnya di cuaca panas, memimpin pengintaian visual. Suatu sore, mereka bersembunyi di balik pagar parkir guru, mengamati mobil Pak Gilang—sebuah hatchback biru yang sederhana. “Lihat! Dia membawa tas itu lagi!” bisik Rafi dengan suara berbisik yang terdengar hingga ujung parkiran. “Dan dia melihat ke sekeliling sebelum membukanya! Tanda klasik seseorang yang punya rahasia!” Bima, dengan lup mainannya, mencoba mengamati dari kejauhan. “Aku tidak bisa melihat apa-apa. Refleksi kaca. Ini tidak ilmiah.” Aji menguap. “Aku lapar. Ini membosankan. Mungkin tasnya cuma berisi buku-buku.” Tapi bagi Rafi dan Zaki, setiap gerakan Pak Gilang adalah petunjuk. Senyumnya yang ramah di koridor adalah “topeng”. Bantuannya pada siswa yang kesulitan adalah “kamuflase untuk membangun kepercayaan”. Zaki bahkan membuat diagram di buku catatannya, menghubungkan “kejadian” dengan plot manga yang ia ingat, menghasilkan teori konspirasi yang semakin rumit: Pak Gilang adalah mantan agen yang sedang dalam persembunyian, atau mungkin dalang di balik hilangnya tropi mural (yang sudah mereka selesaikan dengan cara yang memalukan).

Puncak dari pengintaian kocak mereka terjadi ketika mereka memutuskan untuk “memeriksa” isi mobil dari dekat—tentu saja, tanpa menyentuh, karena itu ilegal, kata Bima. Dion menyamar—kali ini dengan kacamata hitam dan topi baseball—dan pura-pura menjatuhkan buku di dekat mobil Pak Gilang. Sementara itu, Rafi dan Zaki mengamati dari balik tiang bendera. “Ada suara!” bisik Zaki gugup. “Seperti… suara kecil. Dari dalam mobil!” Dion, yang berhasil melongok sekilas ke jendela yang agak terbuka, kembali dengan wajah pucat. “Aku dengar sesuatu menggaruk… dan suara seperti…meong?” Mata mereka berlima membelalak. “Kucing?” tanya Aji, bingung. “Mengapa seorang guru menyembunyikan kucing di mobilnya?” Rafi mengedipkan mata, mencoba merangkai deduksi. “Tentu! Itu bukan kucing biasa! Itu mungkin kucing yang dilatih untuk mencuri dokumen! Atau… atau kucing itu adalah sandera! Dia menculik Si Meong dari kantin!” Zaki menggeleng, “Tidak, pola ini lebih mirip dengan cerita di mana karakter baik terpaksa melakukan sesuatu di luar hukum untuk alasan yang baik… Tapi apa alasannya?” Mereka pulang dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, dan rasa bersalah mulai menggerogoti karena telah mengintai guru yang tampaknya tidak bersalah. Operasi mereka yang didasari fiksi justru membawa mereka ke ambang penemuan yang sama sekali tidak mereka duga—sebuah rahasia yang jauh dari niat jahat.

Suasana di dalam mobil Pak Gilang yang gelap itu berubah total dalam sekejap. Sorot senter dari tiga ponsel menyinari sudut belakang, bukan pada dokumen rahasia atau senjata, melainkan pada sepasang mata hijau yang bulat dan penuh ketakutan. Seekor anak kucing belang tiga, tubuhnya masih kecil dan kurus, meringkuk di dalam keranjang anyaman yang dialasi handuk lembut. Di sebelahnya, terdapat mangkuk kecil berisi air, sekantong makanan kucing, dan beberapa mainan bola. Bau disinfektan samar-samar, bukan bahan kimia berbahaya. Rafi, yang masih dalam posisi siap menyerang dengan penggaris sebagai “pedang”, terdiam membeku. Ekspresi percaya dirinya yang selalu melambung lenyap, digantikan oleh wajah kosong yang perlahan memerah. Bima, yang tadi bersiap menganalisis “bukti”, menjatuhkan lup mainannya. Suara plastik berderak memecah keheningan yang canggung. Dion menghela napas panjang, bahunya turun. Zaki, sang pencetus seluruh kecurigaan ini, hanya bisa menatap anak kucing itu. Rasanya seperti seluruh teori detektif dalam kepalanya—dariDeath NotehinggaMonster—runtuh berantakan dihadapkan pada realita seekor makhluk kecil yang sedang mencari kehangatan.

“Jadi… ini ‘rahasia gelap’-nya?” gumam Aji, yang sejak tadi berdiri di belakang dengan ekspresi campur aduk antara waspada dan ingin tertawa. Suaranya memecah kebekuan.

Pak Gilang, yang wajahnya awalnya tegang, kini melunak. Dia berlutut di samping keranjang, dengan lembut mengelus kepala anak kucing yang mulai mendengkur pelan. “Aku menemukannya seminggu yang lalu, tergeletak sendirian di pinggir jalan dekat pasar,” ujarnya, suaranya rendah. “Dia kedinginan dan kelaparan. Aku tinggal di asrama guru, dan peraturannya jelas: tidak boleh memelihara hewan. Tapi aku tidak tega meninggalkannya. Mobil ini… menjadi tempat sementara yang bisa kukontrol suhunya. Aku memberinya makan, membersihkannya, berencana membawanya ke klinik hewan dan mencari adopsi begitu kesehatannya stabil.” Dia menatap kelima remaja yang masih terpana. “Aku tahu kalian mengikutiku. Aku lihat kalian menyamar—dengan sangat buruk—di kantin dan parkiran. Aku pikir mungkin kalian cuma penasaran, atau… aku tidak menyangka kalian akan berpikir sejauh itu.”

Rasa bersalah itu datang bergelombang, terutama bagi Zaki. Dialah yang bersikeras bahwa kesempurnaan Pak Gilang adalah “bendera merah” ala karakter antagonis dalamDetective Conan. Dialah yang menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, membandingkan perilaku guru baru itu dengan berbagai plot kejahatan dalam manga. Semua teori konspirasi tentang mata-mata, penipu, atau penjahat berkedok guru, ternyata menguap menjadi tidak berarti di hadapan tindakan sederhana seorang manusia yang menyelamatkan nyawa kecil. “Kami… kami pikir…” Zaki mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. “Kami punya teori… berdasarkan… berdasarkan…”

“Berdasarkan komik dan novel detektif kalian?” sela Pak Gilang, dan kali ini senyum kecil muncul di bibirnya. Bukan senyum sinis seperti yang dibayangkan Zaki, melainkan senyum pengertian yang justru membuat Zaki merasa lebih bersalah. “Aku dulu juga suka baca itu, tahu. Tapi di kehidupan nyata, tidak semua yang bersembunyi adalah kejahatan. Kadang, yang bersembunyi adalah kebaikan yang belum menemukan cara untuk tampil.”

Pernyataan itu seperti tamparan halus bagi seluruh anggota klub. Mereka teringat pada semua “penyelidikan” mereka sebelumnya: kue yang dicuri kucing, angin di toilet, tanda pramuka, kucing yang kawin. Setiap kali, misteri itu berakhir dengan sesuatu yang biasa, lucu, atau mengharukan—bukan dengan penjahat yang terkekang. Namun, pelajaran itu sepertinya belum juga meresap. Kali ini, mereka hampir saja menjadikan seorang guru yang baik sebagai “antagonis” dalam cerita rekaan mereka sendiri. Rafi, biasanya paling cepat mencari pembenaran, kali ini diam. Dia menatap anak kucing itu, lalu menatap Pak Gilang. “Kami… minta maaf, Pak,” ucapnya, suaranya tidak seperti biasanya. “Sungguh. Kecurigaan kami… itu tidak berdasar.”

“Kalian tidak perlu meminta maaf karena penasaran,” kata Pak Gilang, berdiri. “Tapi mungkin perlu belajar membedakan antara fiksi dan realita. Dan… kalau rasa bersalah itu masih mengganjal,” dia menatap mereka satu per satu, matanya berbinar, “maukah kalian membantuku? Merawat si kecil ini sampai dia cukup kuat untuk diadopsi? Aku tidak bisa selalu di sini, dan dia butuh teman bermain.”

Tawaran itu seperti penebusan dosa yang tidak terduga. Mata kelima remaja itu langsung berbinar. Rasa bersalah yang tadi membebani perlahan berubah menjadi semangat. “Tentu saja, Pak!” seru Dion, yang sudah membayangkan dirinya sebagai “agen rahasia” pengasuh kucing. “Kami bisa bergantian jaga! Aku bisa ngumpulin info tentang perawatan kucing dari temen-temen!”

“Secara ilmiah, interaksi dengan manusia dapat meningkatkan kesehatan psikologis dan fisik hewan peliharaan,” tambah Bima dengan cepat, seolah-olah sedang mempresentasikan hipotesis baru. “Aku akan menyusun jadwal pemberian makan dan observasi kesehatan berdasarkan pedoman yang dapat diverifikasi.”

“Dan aku… aku akan mencari referensi tentang nama-nama kucing detektif dalam sastra!” seru Zaki, antusiasmenya kembali, meski kali ini dengan arah yang lebih positif.

Aji hanya menggeleng sambil tersenyum. “Jadi, kita dari klub detektif jadi klub penitipan kucing dadakan, gitu?”

“Lebih tepatnya, Klub DetektifdanPenyelamat Kucing,” koreksi Rafi, sudah mulai kembali ke dirinya yang percaya diri, meski dengan nada yang lebih rendah. “Ini misi kemanusiaan… eh, kemanusiaan-hewani-an. Prioritas baru!”

Hari-hari berikutnya, parkiran sekolah menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Setiap istirahat atau setelah jam pulang, sering terlihat beberapa anggota Klub Detektif Buku Terlarang berkumpul di sekitar mobil Pak Gilang (dengan izin dan pengawasan), bergantian menggendong, memberi makan, atau sekadar mengajak bermain anak kucing yang akhirnya mereka beri nama “Sherlock”. Nama itu adalah usulan Zaki, sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus penghormatan pada semangat penyelidikan—yang sekarang diarahkan untuk kebaikan.

Rasa bersalah itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi ia berubah menjadi bahan permenungan. Saat mereka duduk bersama di tangga belakang sekolah, memperhatikan Sherlock yang asyik mengejar bola kecil, Bima berkata, “Kita selalu mencari pola kejahatan. Mungkin kita harus mulai belajar mengenali pola kebaikan juga. Itu lebih rumit daripada yang dikira.”

“Di manga, karakter yang terlalu baik biasanya punya masa lalu kelam,” celetuk Zaki, tapi langsung dikerjai oleh Dion. “Udah ah, jangan manga lagi! Lihat Sherlock aja, dia tuh bukti hidup bahwa niat baik itu ada, dan kadang cuma butuh bantuan untuk tidak bersembunyi.”

Pengalaman itu menjadi titik balik halus bagi klub. Mereka masih akan menyelidiki misteri-misteri konyol di sekolah, masih akan membuat rencana berantakan dan deduksi meleset. Tapi, mungkin, mereka akan mulai sedikit lebih berhati-hati sebelum mencap seseorang sebagai “tersangka”, dan lebih membuka mata pada kemungkinan bahwa di balik sesuatu yang tampak misterius, bisa jadi tersimpan sebuah rahasia yang justru menghangatkan hati—seperti seekor anak kucing yang menyelamatkan lima remaja detektif amatir dari jebakan prasangka mereka sendiri. Dan untuk Pak Gilang, dia tidak hanya mendapatkan sekelompok asisten yang antusias untuk Sherlock, tetapi juga lima murid yang sekarang memandangnya bukan lagi sebagai teka-teki yang mencurigakan, melainkan sebagai sekutu—dan bukti nyata bahwa kadang-kadang, karakter “terlalu sempurna” dalam cerita kehidupan nyata bisa saja benar-benar baik adanya.

Tinggalkan komentar